Warning...!!! Isi di blog ini bisa menyebakan Serangan pada Jantung anda sehingga detak jantung anda berdegup keras, Sesak Nafas menahan Birahi serta kaku dan Kejang-kejang di bagian Otot Sensistif anda. siapkanlah selalu seperti tisyu dan handuk di dekat anda.

Prolog

Konjungi Forum JC3 : lebih lengkap dan lebih update

http://www.jc-three.com


cewek bugil, koleksi gambar bugil, Video Bokep 3GP, Video Bugil, Foto Bugil,Video 3gp ngentot dan video 3gp sekandal anak SMA, sekandal Anak SMP, ngentot di kebon ngentot di sungai, sekandal karyawan, pengusaha,
pasangan muda muda, suami istri, rekaman video pribadi, ngentot di kantor, video bokep 3gp spesialnya adalah Video 3gp Ngentot anak sekolah.Girl Naked, Naked image collection, Video Blue Film 3GP, Video Naked, Foto Naked, Video 3gp Make Love video 3gp sekandal and high school children, junior sekandal Children, Make Love in Make Love in the river bed, sekandal employees, businessmen, young couples young couple, personal video recording, in the office Make Love, Blue Film 3gp video is spesialnya Video 3gp school girl Make Love.

Rabu, 16 September 2009

Selalu Di Cinta

Selalu Di Cinta
------------------
Karya : chahayani , -

Aku termasuk seorang wanita yang beruntung. Dalam karir aku lumayan berhasil. Sebagai istri aku sangat disayang suami, malah selalu didukung dalam setiap aktivitasku. Tuhan juga telah menganugerahkan anak-anak yang semakin melengkapi kebahagiaanku sebagai wanita dan bersama suamiku. Ada satu hal lagi yang membuatku merasa beruntung, yaitu karena suamiku memberiku kepercayaan yang sepenuhnya. Jadi aku bisa melakukan apa saja, pergi kemana saja dan bersama dengan siapa saja. Semua itu pernah aku lakukan tanpa sedikitpun suamiku menaruh rasa curiga. Tapi sebagai balasannya akupun selalu melayani suami dan anak-anak dengan sebaik-baiknyanya. Kepentingan mereka selalu yang paling aku utamakan. Rasanya memang sudah seharusnya begitu. Bukan hanya karena aku ingin menjadi istri yang baik, tapi justru karena aku tidak selalu berhasil menjadi istri yang baik. Contohnya hubunganku dengan Pram (Lihat: Cinta Pertama?). Sewaktu aku sedang seru-serunya dengan Pram, tidak sedikitpun suamiku bertanya atau mempertanyakan kenapa aku sering sekali pulang kampung. Kadang aku berpikir jangan-jangan dia juga punya selingkuhan. Tapi sebetulnya tidak ada bukti untuk aku menduga seperti itu. Mungkin hanya caraku saja untuk menutup-nutupi ke’liar’an diriku.

Pada suatu malam, hampir tengah malam, dalam keadaan cukup letih aku tiba di rumahku. Keadaan tentunya sudah sepi dan cukup senyap. Perjalanan dari kota kelahiran atau kampung halamanku cukup panjang. Apalagi di daerah Ciamis tadi ada kecelakaan kendaraan berat yang as-nya patah. Macetnya luar biasa... Sempat kutengok kamar anak-anakku, mereka semua sudah tidur pulas. Segera aku ke kamar mandi, nikmat sekali rasanya tubuh yang letih tersiram air hangat. Lalu dengan mengenakan daster kesukaan suamiku. Dia sudah terbaring tidur cukup nyenyak. Mungkin selain lelah juga bosan menunggu aku kembalinya lama. Suara dengkur halusnya membuatku merasa semakin kangen. Kususupkan wajahku di dadanya yang telanjang ... hangat, detak jantungnya terdengar beraturan. Kuangkat tangannya supaya aku bisa semakin erat dalam pelukannya. Aku merasa nyaman, aman dan rasa bersalahku untuk apa yang sudah beberapa kali aku lakukan dengan Pram seolah-olah terobati. Suamiku baik sekali, aku tau dia sayang kepadaku. Tapi malam itu terus saja dia tertidur menikmati hangatnya ranjang. Sepertinya dia tidak sadar bahwa aku berada dalam pelukannya.

Lama kelamaan aku mulai terbawa suasana yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Aku berada dalam pelukan lelaki yang aku sayangi, tapi pikiranku terbawa ke masa silam ... belasan tahun yang silam. Terbayang kembali suasana di kantor tempat aku pertama kali bekerja. Baru lulus ujian dan di-wisuda sebagai sarjana, penuh dengan berbagai cita-cita dan harapan tentang masa depanku. Bagaimana nanti kalau aku kawin dengan Adrianto (Lihat: Cinta Pertama?), berapa anak yang akan kita miliki, rumah seperti apa yang akan kami bangun, apa yang akan aku lakukan sebagai tanda terima kasih kepada orang-tua yang telah membesarkan aku dan sebagainya. Mungkin Adrianto juga sama semangatnya dengan aku, terbukti setelah beberapa bulan kami sama-sama mengejar karir, komunikasi di antara kami semakin menjarang. Padahal justru pada saat-saat itu banyak teman-teman lajangku yang mencoba mendekati aku. Dengan kulit yang putih, wajah yang lumayan cantik dan kepribadian yang ramah bukan satu atau dua orang yang mendekati dengan tujuan menikahiku. Tapi sejauh ini aku belum menemukan orang yang kuanggap cocok ... sampai pada suatu saat aku menjadi dekat dengan mas Budi.

Karena tugas merintis proyek baru di daerah Kuningan, dekat Cirebon mas Budi dan aku jadi sering bersama. Barangkali apa proyeknya sebaiknya tidak aku sebutkan, siapa tau di antara teman-teman di DS ada yang tau dan mungkin bisa menebak siapa orang-orang atau nama-nama yang kusebutkan di sini. Singkat cerita dari seringnya aku dan mas Budi bersama dalam kurun waktu yang tidak sebentar, akhirnya kami jadi akrab. Tidak jarang kami makan malam bersama, lalu lama kelamaan menghabiskan waktu senggang karaoke berdua, malah ke disco di Cirebon. Simpatipun makin bertumbuh, apalagi Adrianto juga jarang menelponku. Sampai pada suatu malam, setelah karaoke berdua, di depan kamar tidurku mas Budi memegang bahuku. Ditatapnya aku tanpa berkata apa-apa, sehingga membuatku salah tingkah. Tiba-tiba dikecupnya keningku dengan lembut. Aku tidak bereasi apa-apa, mungkin karena bingung. Pasti dikiranya aku memberinya lampu hijau, karena berikutnya bibirnya sudah melekat di bibirku. Gilanya aku merasa hangat dan nikmat dicium olehnya. Setelah beberapa saat dia memelukku, lalu mempersilahkan aku masuk ke kamarku.

Hari-hari, bahkan minggu-minggu, selanjutnya suasana terasa indah buatku. Simpati berganti menjadi sayang dan akhirnya beralih menjadi cinta. Pelukan dan cium mesra, malah penuh birahi, mewarnai hari-hariku. Aku selalu dengan halus mengatakan tolong dijaga jangan sampai kegadisanku lepas. Dengan tatapan mesra, walau agak kecewa, dia selalu berjanji akan menjagaku. Lalu pada suatu malam ... sekembalinya dari jalan-jalan mas Budi entah bukan hanya mengantarku ke depan kamar tidurku, tapi ikut masuk. Entah bagaimana dia memeluk aku dan kami duduk di tempat tidur. Nafasnya terengah-engah, aku yakin dia sudah ingin bersenggama dengan aku. Aku merasa cukup takut ... tapi dia menenangkan aku waktu berjanji akan menjaga diriku. Tapi kata-kata dan cerita berikutnya membuat aku sesak nafas juga. Dia menerangkan kepadaku bagaimana sex juga bisa dinikmati secara terbatas, yaitu dengan cara oral. Mungkin merasa aku agak bingung atau takut mas Budi mulai mengemut puting buah dadaku, yang seperti kemarin-kemarin bra-nya sudah dia lucuti. Aku terangsang dan hanyut. Baru sadar waktu mulutnya sudah berada di celah pahaku. Setelah menyibak rok-ku dengan penuh semangat dia mengecup-ngecup sesuatu di balik celana dalamku. “Udah mas, aku gak tahan,” kucoba menghentikan dia, tapi malah diungkapnya pinggiran celana dalamku dan lidahnya menjulur masuk mengusap-usap bibir vaginaku. Aku seperti kena strom rasanya, enaknya luar biasa. “Jangan dilepas mas,” kucoba ingatkan dia, tapi dengan cekatan tangannya melorot celana dalamku. Kucoba jepitkan pangkal pahaku, tapi ditahannya dengan kedua lengannya. Lalu dijilatinya vaginaku, malah lama-kelamaan ujung bibirnya masuk dan mulai merambah dinding-dinding vaginaku. Alu terkapar di ranjang tak kuasa berbuat apapun. Sejujurnya mas Budi mahir sekali dengan oral sex. Waktu dia membuka bajunya aku sempat ketakutan, tapi dia tersenyum menenangkan dan kembali menjilati bibir vaginaku. Entah berapa lama, aku dipuaskannya, tiba-tiba ada perasaan yang luar biasa melanda sekujur tubuhku. Suatu rasa nikmat yang berlangsung cukup lama dan sesudahnya membuatku seperti terhempas ke jurang yang dalam. “Maaas Budiii ... aduh maas” Begitu aku mengaduh karena orgasme yang melanda diriku. Ada rasa puas bercampur malu, waktu mas Budi memelukku sayang. Sesaat kemudian kudengar bisikan lembutnya “Yang, pegangin punyaanku dong” ... Kulihat kearah bawah pinggangnya. Wah rupanya ruitslijting celananya sudah terbuka, begitu juga ikat pinggangnya. Mungkin tadi karena tegang kepunyaannya seperti terjepit. Mungkin karena sudah terpuaskan dan aku juga sayang kepadanya, tanganku bergerak dan mulai mengusap-usap tonjolan di balik celana dalamnya. “Buka aja Yang,” katanya dengan penuh harap. Antara malu dan juga penasaran akhirnya kulorot celana dalam mas Budi. Batang kemaluannya masih keras, waktu kupegang terasa berdenyut-denyut. Kurasa gairahku mulai naik ... “Yang, kamu mau kan ke saya seperti yang tadi saya ke kamu.” Kutatap wajahnya ... “Mau ya mas?” Mas Budi mengangguk sambil tersenyum. Tapi aku tidak langsung memenuhi permintaannya, mungkin ada sedikit rasa malu atau gengsi. Kukecup-kecup dulu dada dan perutnya, malah sempat ku-gigit2 puting dadanya. Barangkali tidak tahan dengan lembut tangannya mendorong kepalaku ke bawah, kearah pangkal pahanya. Batang kemaluannya menempel di pipiku, hangat, agak lembab, mungkin tadi sudah sempat ada bulir-bulir cairan ‘cinta’nya yang mendesak keluar. Aroma khas kemaluan laki-laki tercium membuatku semakin terangsang. Tiba-tiba dipegangnya batang kemaluan yang keras dan gagah itu dan disorongkannya ke bibirku. Aku juga tidak tahan lagi ... Mulai kujilat-jilat dan akhirnya kumasukkan ke mulutku. Biarpun tadinya agak kaku, lama kelamaan oral sex-ku makin luwes juga. Kuemut, kujilat, kadang kukecup-kecup, membuat mas Budi mengerang dan mendesah. “Yang, berani gak kalau aku keluarin di mulut” mas Budi bertanya dan aku gelagapan tidak tau tau harus menjawab apa. Pasti ada mualnya, tapi keliatannya mas Budi begitu mengharapkan. Jadi aku hanya mengangguk tak pasti. Lalu kuteruskan mengemut-emut batang keras mas Budi. Lama juga sampai akhirnya dia mencapai klimaksnya. “Awas Yang, aku udah mau keluar” ... Sempat aku bingung, tapi akhirnya kuteruskan saja mengemuti batang kemaluan keras mas Budi. Dengan erangan panjang dia melepaskan cairan maninya, sambil kedua tangannya meremas kedua bahuku. Tidak ada jalan lain kucoba menampung cairan kental yang disemburkannya. Sebagian tertelan, ada juga yang mengalir keluar dari celah bibirku ... Mas Budi mengelus-elus kepalaku!

Hubungan kami semakin menggairahkan, terutama setelah aku semakin mengenal dan mahir oral sex. Dengan ini kurasa cukup aman bisa menikmati hubungan sexual tanpa kehilangan kegadisanku. Tapi ternyata tidak berhenti di sini ..... Pada suatu sore kami sedang dalam kereta api menuju stasiun Cirebon. Entah bagaimana aura cinta birahi terasa memancar kuat dari diri mas Budi. Akupun bereaksi dengan cara yang sama. Mungkin akibat selama di Jakarta kami justru sulit untuk melampiaskan kerinduan. Sejak tadi kami sudah berpegangan tangan. Sekarang di kereta karena tidak tahan mas Budi menarik tanganku ke bawah bantal di pangkuannya, dan menempelkannya pada tonjolan di celananya. Sampai di Cirebon langsung kami makan malam dan kemudian berangkat menuju Kuningan. Dengan sedikit kesal kulihat beberapa staf sudah menunggu mau minta pengarahan dari mas Budi. Sementara rapat kecil itu berlangsung kuminta ijin untuk istirahat duluan. Mas Budi mengijinkan. Karena sudah jam 1 malam kupikir tidak ada sayang-sayangan dengan kekasihku. Tidak lama aku pulas tertidur tiba-tiba mas Budi masuk ke kamar, tapi aku baru sadar pada ia menghembuskan nafas di telingaku. “Yang, malam ini aku merasa kamu istri saya” ... aku hanya senyum dan tanpa pikir panjang membalas, “... dan mas suami saya.” Berikutnya mas Budi dan aku sudah berpeluka dan saling berciuman. Busana kami dengan cepat terlepas. Dihujaninya seluruh tubuhku dengan kecupan. Sewaktu dia menempelkan telapak tangannya di pangkal pahaku, dan menggosok-gosokkannya dengan lembut ke bibir vaginaku, mas Budi bertanya ... “Ini boleh buat aku nggak Yang?” Karena sudah biasa dengan oral sex, permintaannya kuiyakan saja, paling-paling yang sama lagi. Sambil menggosok-gosok vaginaku dia ke sampingku dan mengarahkan batang kejantanannya yang sudah keras ke bibirku. Kusambut dengan rindu dan kuemut-emut. Beberapa saat berlangsung tiba-tiba mas Budi memposisikan dirinya di atasku. Dibukanya pahaku dan ditahannya pahaku dengan tangannya. Aku tau apa yang dia mau. Anehnya aku tidak bisa atau mungkin tidak mau menolaknya juga. Perasaan sakit dan pedih terasa sewaktu mas Budi mulai mendorong masuk batang kerasnya ke liang kewanitaanku. Aku menjerit-jerit tertahan, takut didengar orang, dengan lutut dan tanganku kucoba tahan penetrasi mas Budi. Tapi mustahil untuk mencegah laki-laki jantan yang kusayang ini ... Kupersembahkan kesucian cintaku kepadanya. Melihat bercak-bercak darah segar di celana dalam, yang kupakai membersihkan vaginaku, air mata sempat menetes. Rasanya terharu sekali sewaktu mas Budi mengucapkan terima kasih dan menyatakan bahwa cintanya padaku sungguh-sungguh. Ini membuat aku malah merasa bangga dan tersanjung, walaupun pada malam itu antara sakit dan nikmatnya mungkin lebih banyak sakitnya. Memang setelah yang pertama kira-kira seminggu aku menolak untuk mengulangnya. Tapi setelah itu barangkali tiap dua hari sekali kami memadu kasih, juga pada waktu kami berada di Jakarta. Memang biasanya di kamar hotel, tapi pernah juga karena sudah tidak tertahan mas Budi dan aku bercinta di sofa di kantor. Malahan pada sebuah kesempatan kami juga pernah melakukannya di atas meja di ruang rapat ...

Kembali ke kamar tidurku sekarang, tiba-tiba aku dikejutkan oleh sebuah sapaan. “Kamu kenapa? Udah lama ya baliknya?” Dengan terkejut kubuka mataku yang tadi terpejam, dan melihat mas Hendra menatapku heran. Rupanya dasterku sudah acak-acakan, apalagi tanganku mapan mendekap celah pahaku. “Eh mas, kayaknya aku mimpi deh ... Mas kaget ya?” Bingung juga aku mencari jawaban. Mas Hendra, suamiku, tersenyum ... “Pasti kamu mimpi ya, soalnya kamu manggil-manggil Budi ... Siapa sih Budi?” Semakin gelagapan aku mencoba menjelaskan. “Nggak kok mas, bukan siapa-siapa, cuma mimpi aja” Suamiku yang sudah terbangun menggumam tak jelas lalu ke kamar mandi. Waktu kembali dia menatapku aneh, lalu tangannya ditempelkannya di celah pahaku, malah jarinya dimasukkannya meraba vaginaku. “Kok basah? ... ia bertanya polos. Untung aku cekatan menjawab, “Aku kangen mas, tapi tadi mas tidurnya pules banget.” Rupanya jawabanku mengena pada mas Hendra, karena dia menjawab bak gayung bersambut. “Bangunin dong kan aku juga pengen.” Dikecupnya bibirku, “Lain kali kalau ke luar kota jangan lama2 ya.” Dilumatnya bibirku, dirambahnya seluruh tubuhku dengan kecupan bibir dan jilatan lidahnya. Kemudian disorongnya batangnya yang sudah keras dan kaku itu ke bibirku. Dengan rasa lega kusambut dan kuemut alat kejantanan suamiku tercinta. Lega karena tidak ada tanda-tanda mas Hendra curiga atau cemburu kepadaku. Selebihnya, akupun pasrah di bawah tubuhnya dan dalam dekapannya. Mungkin karena sudah terbawa oleh suasana kerinduan dalam kenangan dengan mas Budi dulu, belum 10 menit aku sudah mencapai orgasme-ku. Akibatnya mas Hendra semakin percaya diri, dengan perkasa dia membuatku mengerang mengaduh-aduh karena nikmatnya dicintai. Dua kali lagi aku dibawanya ke puncak kenikmatan yang indah ... setelah itu disiramnya liang dan rahim kewanitaanku dengan air cintanya. Sebelum pulas tertidur masih sempat aku bersyukur bahwa selama ini aku selalu menjadi wanita yang dicintai ... bukan hanya dulu, tapi juga sekarang!

0 comments:

Poskan Komentar

 

©2009 Cerita Sex | by TNB