Warning...!!! Isi di blog ini bisa menyebakan Serangan pada Jantung anda sehingga detak jantung anda berdegup keras, Sesak Nafas menahan Birahi serta kaku dan Kejang-kejang di bagian Otot Sensistif anda. siapkanlah selalu seperti tisyu dan handuk di dekat anda.

Prolog

Konjungi Forum JC3 : lebih lengkap dan lebih update

http://www.jc-three.com


cewek bugil, koleksi gambar bugil, Video Bokep 3GP, Video Bugil, Foto Bugil,Video 3gp ngentot dan video 3gp sekandal anak SMA, sekandal Anak SMP, ngentot di kebon ngentot di sungai, sekandal karyawan, pengusaha,
pasangan muda muda, suami istri, rekaman video pribadi, ngentot di kantor, video bokep 3gp spesialnya adalah Video 3gp Ngentot anak sekolah.Girl Naked, Naked image collection, Video Blue Film 3GP, Video Naked, Foto Naked, Video 3gp Make Love video 3gp sekandal and high school children, junior sekandal Children, Make Love in Make Love in the river bed, sekandal employees, businessmen, young couples young couple, personal video recording, in the office Make Love, Blue Film 3gp video is spesialnya Video 3gp school girl Make Love.

Rabu, 02 September 2009

Ikut Casting

Ikut Casting
-------------
Karya : ines;

Masih ingat om Andi, om yang mengorbitkan aku menjadi model ketika aku masih yunior sekali. Om Andi masih sekali2 ngentotin aku, aku ladeni saja napsunya karena akupun puas sekali kalo sudah dientot dia. Suatu pagi setelah dia menyemprotkan pejunya untuk ke 3 kalinya di nonokku (sejak semalem), dia mengatakan bahwa dia punya kenalan produser film yang sedang mencari bibit2 baru untuk menjadi pemain sinetron yunior. Aku ditawarinya apakah mau ikutan casting. Dia menjanjikan bahwa casting ini hanya formalitas agar tidak menyolok dimata calon2 lainnya, karena dia kenal dengan produsernya yang punya kata akhir untuk menentukan apakah seorang calon lolos casting dan mendapat peran dalam sinetronnya. Aku tentunya tertarik dengan tawarannya. Dia langsung mengatur pertemuan dengan sang produser, ternyata sore ini si produser bersedia menerima aku untuk casting. Om Andi memberikan aku kartu nama si produser, V Subramani. Ternyata orang India, atau mungkin keturunan India. Gak masalah buat aku, yang penting aku mendapat jalan pintas untuk menjadi artis. Om Andi memberi tahu aku bahwa si produser doyan cewek juga, ini juga gak masalah karena kata temen2ku yang pernah dientot orang India, kontolnya gede dan panjang. Aku pernah ngerasain kontol bule , jadi apa salahnya aku ngerasain kontol India yang keluar masuk nonokku. Apalagi ini bisa membantu aku menjadi artis, sudah dapet kenikmatan dapet job bagus lagi, no problemo deh.

Sore harinya, aku sudah sampe dikantor si produser, aku datang sendiri karena om Andi ada pemotretan sehingga gak bisa nganterin aku. " Saya Subramani, panggil saja Bram supaya singkat", katanya memperkenalkan diri. "Kamu Ines ya, kenalannya pak Andi". "Iya om", jawabku. Om Bram orangnya tinggi tegap dengan kulit kecoklatan (bukan hitam seperti kebanyakan India). Bodinya lumayan atletis, apalagi jika dia pakai baju yang lengannya bunting, menonjolkan kekeran badannya. Dia tanya2 soal apa yang kulakukan dalam bidang permodelan, aku menjawab bahwa belum banyak yang sudah kulakukan tetapi aku sudah menjadi berhasil model iklan untuk beberapa produk consumer goods. "Saya belum pernah liat iklan kamu, di tv atau media cetak?" tanyanya. "Memang lebih banyak di media cetak, walaupun pernah juga keluar di tv". Matanya jelalatan menelanjangi diriku, kelihatannya dia napsu melihat bodiku yang memang mengundang napsu lelaki yang melihatnya. Aku, seperti biasanya tampil sexy. Dengan kemeja putih yang ketat dan semi transparan,sehingga bra hitamku kelihatan membayang dibaliknya. Tonjolan toketku membayang dibalik braku. Ditambah lagi rok mini yang membalut pantatku hanya beberapa senti diatas lututku,sehingga pahaku bisa dinikmati mereka yang berpapasan denganku. Om Bram memujiku. Katanya penampilanku sangat menarik. Kemudian dia mengajakku makan malam dulu disatu cafe. Kami ngobrol ngalor ngidul sambil makan malem.

Sehabis makan malam om Bram mengundangku ke apartemennya, katanya dia ingin melihat ketrampilanku didepan kamera. "Kok di apartment om, bukannya di studio?" tanyaku. "biar lebih ada privacy", jawabnya. Aku sudah menduga bahwa pasti ada udang dibalik bakwan, eh salah dibalik batu, dengan menjgajak aku ke apartmennya. Benar seperti om Andi bilang, pasti dia akan mengcasting aku diranjang. Tapi aku gak perduli dengan itu, malah sudah membayangkan berapa besarnya kontol om Bram sampe aku blingsatan sendiri. Maka segera dengan mengendarai mobil mewahnya, kami meluncur keapartemennya yang cukup mewah dengan perabotan yang lengkap. Dia mempersilahkanku duduk dosofanya yang empuk. katanya dia mau ngasih surprise buatku. Dia lalu beranjak kekamarnya. Dia kembali dengan membawakan sebuah kotak mungil buatku, setelah kubuka ternyata isinya adalah sebuah kalung berlian yang sangat indah. Aku terkagum-kagum melihatnya. Kemudian dia mengambil kalung itu dan memakaikannya dileherku. “Ini panjer untuk peran kamu yang pertama", katanya sambil mencium tangan kananku. Aku kaget juga dengan pemberiannya yang sangat royal itu, "Kan belum casting om". "Casting kan cuma formalitas, saya yakin kamu pasti bisa menjalankan peran dengan baik, tanpa melalui casting lagi. Lagian saya yang memutuskan semuanya di perusahaanh ini". "Terima kasih banyak om, Ines sangat tersanjung". Aku diam menatap matanya. Dia tersenyum hangat. Tanpa terasa dia mulai memajukan wajahnya kearahku. Dia ingin menciumku, batinku. Maka segera kubuka bibirku dan menyambut bibirnya dimulutku. Aku hanya memejamkan mata. Kami berciuman cukup lama, sampai akhirnya mulutnya menjauh dari bibirku. Aku tak kuasa menolak saat diajaknya aku kemarnya. Setelah sampai dikamarnya yang sangat indah,aku kembali terbawa suasana, kembali kami berciuman. Kali ini lebih panjang. Bahkan kini ciumanku lebih liar, sampai terasa air liur kami menetes-netes keluar. Ciuman om Bram mulai turun keleher jenjangku. Aku mendesah saat lidahnya menyapu leherku. Aku mualai terbawa suasana. Aku ingin memberikan tubuhku untuknya sebagai imbalan untuk kalung berlian yang melingkar dileherku. Puas menyerang leherku, dia kembali melumat bibirku. Ciumanya makin ganas, dia sangat lihai memainkan lidahnya dirongga mulutku. Perlahan-lahan tangannya menyentuh pinggangku lalu naik keatas menyentuh toketku. Diremasnya denga lembut toketku yang sebelah kanan. Aku makin liar membalas ciumannya. Dia lalu mencium pipiku lalu kembali menyerang leherku. Dilumatnya dan dijilatnya leherku dari atas sampai kebawah. Aku mulai merinding,apalagi tangannya mulai menyusup kebalik kemeja putihku. Tangannya yang sedikit kasar meraba-raba toketku. Tubuhku berkelejat liar saat jemari om Bram mempermainkan tonjolan toketku. Aku hanya bisa mendongkakan kepala kearah atas, menikmati lumatan dan remasannya.

Kemudian dia mencoba membuka kancing-kancing kemejaku, aku turut membantunya. Setelah semua kancing kemejaku copot, kemudian dilepasnya hingga toketku yang masih kencang terlihat terbungkus bra hitam yang seolah-olah tak mampu menampungnya. Dia lalu membalikkan tubuhku hingga membelakanginya. Aku hanya memejamkan mata sambil menikmati sensasi dipeluk lelaki atletis itu. Dengan tangan mengelus perut, om Bram kembali menciumi ku. Kali ini punggungku dijadikan sasaran serbuan bibirnya yang hangat. Lidahnya terasa geli saat menyapu-nyapu punggungku yang terbuka. Aku membiarkan tangannya mulai merambat naik ketoketku. Diremasnya benda kenyal itu. Aku menggelinjang nikmat. Apalagi saat lidah om Bram mulai merayap di tulang belakangku. Perlahan dari leher bibirnya merayap ke bawah hingga pengait braku. Lalu tiba-tiba aku merasakan kekangan yang mengekang toketku melonggar. Ternyata om Bram telah menggigit lepas pengait bra-ku. Maka segera kurasakan hembusan AC ruangan tersebut menyerang toketku yang telah terbuka. Kini tubuh bagian atasku sudah telanjang sama sekali. Hanya rok mini dan celana dalam yang masih menutupi tubuhku. Aku hanya pasrah dan membiarkan tangannya meremas dan mempermainkan toketku sesukanya, karena aku memang menikmatinya juga. Bahkan tanpa sadar tanganku memegang tangan om Bram seolah-olah membantunya untuk memuaskan dahagaku. Setelah berhasil melepaskan tali bra-ku, bibir om Bram
kembali menyerbu punggungku. Diciumnya pundakku yang putih mulus itu, kemudian ditelusurinya tulang punggungku dengan lidahnya yang panas. Ini membuat syarafku semakin terangsang hebat. Apalagi tangannya yang kokoh tetap meremas kedua belah toketku dengan gemasnya. Ada rasa enak dengan remasannya itu. Lidahnya terus turun ke bawah hingga ke atas pinggulku. Hal ini membuatku semakin menggelinjang kegelian. Lalu tiba-tiba rok miniku digigitnya dan ditarik ke bawah hingga ke atas lutut. Separuh buah pantatku yang bulat dan mulus terbuka sudah. Diremas-remasnya bongkahan padat itu,lalu dibenamkannya mulutnya dianatara kedua buah pantatku. Lidah om Bram terus menyerbu buah pantatku kanan dan kiri secara bergantian. Tubuhku meliuk dan meregang merasakan rangsangan terhebat saat lidah om Bram yang panas mulai menyusuri belahan pantatku dan mulai mecium anusku melalui belahan CDku. Luar biasa.. Tanpa rasa jijik sedikitpun lidah om Bram menjilati lobang anusku. Hal ini membuat tubuhku tergetar heibat. Selang beberapa saat, setelah puas bermain-main dengan lobang anusku tangan om Bram mulai menarik rok sekaligus CD-ku hingga ke mata kaki. aku membantunya dengan melepaskan CD-ku dari kedua kakiku. Kini aku sudah bugil. Sekarang tubuhku yang sintal dan putih sudah benar-benar telanjang total membelakanginya. Kemudian dia membalikkan tubuhku, kini dia bisa denga leluasa memandang tubuhku yang sudah telanjang bulat dihadapannya. Dia menelan ludah memandang kearah toketku yang naik-turun seiring orongan nafasku yang memburu. Matanya hampir copot ketika memandang nonokku yang dilingkari jembut yang lebat sehingga berbentuk segi tiga seperti CD. Aku tahu dia sangat bernafsu memandangku seperti ini. om Bram mendekat kerahku dan kembali melumat bibirku. Tangannya tidak tingal diam, turut aktif meremas dan memelintir toketku. Tangannya sangat rakus menjelajahi setiap inchi toketku dari yang kakan beralih kekiri. Hal itu mengakibatkan toketku makin lama makin “membengkak”. Aku tak kuasa mendesah setiap kali remasannya ditoketku.

Apalagi saat bibirnya dengan penuh nafsu turun kebawah dan melumat kedua pentil toketku yang sudah mulai keras. Dijilatinya toketku secara bergantian, seolah-olah takut tak bisa menikmatinya lagi. Aku kembali melayang di awan saat tangannya mengelus pahaku. Nafasku semakin memburu dan aku mulai merasakan bagian selangkanganku mulai basah. Om Bram lalu melepaskan toketku dari mulutnya. Dia mulai melepaskan pakaiannya hingga telanjang bulat sepertiku. Aku kagum melihat bodinya yang kekar dan ditumbuhi bulu-bulu halus , layaknya keturunan India lainnya. Kulit dadanya kehitam-hitaman menambah kesan jantan pada dirinya. Yang membuatku makin terpesona adalah kontolnya yang mengacung tegak dibawah perutnya. Sungguh besar sekali batang itu, seperti pentungan hansip. Gak kalah besar dengan kontol bule yang peranh aku nikmati. Dari cerita-cerita yang kudengar orang keturanan India sangat kuat ngentotnya, kebayang gimana lemesnya aku kalo dia sudah selesai menggarap aku. Om Bram sendiri tampaknya juga sudah sangat terangsang. Aku dapat merasakan napasnya mulai terengah-engah dan batang kontolnya mengedut-ngedut.

Dia kembali mendekatiku didudukkannya aku diranjangnya yang empuk. Kembali mulutnya mengulum toketku dengan sangat rakus, seolah-olah ingin ditelannya semua. Tangannya juga tak tingal diam, mulai merangsek kearah bibir nonokku. Disibakkannya nonokku dan satu jarinya masuk kedalam. Aku kontan mengerang kala jarinya dengan bebas beroperasi dinonokku. Ditusuk-tusukkannya telunjuknya itu dinonokku. Aku semakin tak kuat untuk menahan erangan. Maka aku pun mendesis-desis untuk menahan kenikmatan yang mulai membakar kesadaranku. Setelah itu tiba-tiba tangan om Bram yang kekar mengangkat tubuhku dan merebahkan di pinggir tempat tidur. Dia segera menarik kedua kakiku hingga menjuntai ke lantai. Dipandanginya lagi tubuhku yang telantang tersebut. Dia lalu meraba-raba paha mulusku, lalu dia berjongkok didepan bagian bawah tubuhku. Dengan leluasa tangan om Bram meraba dan bibirnya menjilati pahaku. Aku mulai menggeliat menahan geli yang teramat manakala bibir dan lidahnya mulai menjalar ke arah pangkal pahaku. Dibentangkannya kedua belah pahaku dan menundukkan wajahnya di selangkanganku. Matanya nanar menatap nonokku. Aku tak tahu apa yang hendak ia lakukan, sampai kurasakan suatu sentuhan basah di bibir nonokku. Tanpa membuang waktu, bibir om Bram mulai melumat bibir nonokku yang sudah sangat basah. Tubuhku menggelinjang hebat. Aku seperti kesambet ratusan tawon kala lidahnya menyrrang nonokku. Aku kembali merasakan adanya desakan yang semakin menggebu dan menuntut penyelesaian. Sementara kedua tangannya merayap ke atas dan langsung meremas-remas kedua toketku. Bagaikan seekor singa buas ia menjilati nonokku dan meremas toket yang kenyal dan putih ini. Lidahnya yang panas mulai menyusup ke dalam nonokku. Tubuhku terlonjak dan pantatku terangkat saat lidahnya mulai mengais-ngais bibir nonokku. “Akhhh..om.. auw… oh….” bibirku merancu. Kemudian tanganku malah menarik kepala om Bram lebih ketat agar lebih kuat menekan selangkanganku sedangkan pantatku selalu terangkat seolah menyambut wajah om Bram yang tenggelam dalam selangkangan. Puas menyerang nonokku, om Bram kemudian berdiri dihadapanku lalu mendekatkan tubuhnya ketubuh mulusku. Diciuminya sekali lagi seluruh tubuhku.

Kini tubuh telanjang om Bram mendekapku. Darahku seperti terkesiap ketika merasakan dada bidang om Bram yang berbulu menempel erat ke toketku. Ada sensasi hebat yang melandaku, ketika dada yang
kekar itu merapat dengan tubuhku. Ia masih meciumi sekujur tubuhku, sementara tangannya juga tidak kenal lelah meremas-remas toketku yang semakin kenyal. Tanpa menunggu lama lagi, om Bram berdiri di antara kedua belah pahaku dan siap-siap menikamkan kontol besarnya ke nonokku. Di kocok-kocoknya kontol besarnya itu. Kemudian tangannya membimbing batang kontolnya yang sudah berlendir dan dicucukannya ke celah hangat di tengah bukit nonokku. Aku menahan nafas ketika kepala kontolnya yang besar itu menggesek it ilku hingga aku merintih kenikmatan. Agak susah juga kontolnya menerobos gerbang nonokku, padahal nonokku sudah sangat banjir dengan lendirku. Dia tetap berusaha dengan sabar. Pelahan-lahan kontolnya meluncur masuk ke dalam nonokku. Tapi masih setengahnya saja, itu juga nonokku sudah terasa penuh. Lalu tiba-tiba dengan kasar om Bram tiba-tiba menekankan miliknya seluruhnya amblas ke dalam diriku aku tak kuasa menahan diri untuk
tidak memekik. Perasaan luar biasa bercampur sedikit pedih menguasai diriku, hingga badanku mengejang beberapa detik. “Aduh, om.. pelan….” rintihku. Om Bram cukup mengerti keadaan diriku, ketika kontolnya sudah masuk seluruhnya dia memberi kesempatan padaku untuk menguasai diri beberapa saat. Aku mamfaatkan untuk adaptasi dengan kontol gedenya. Kemudian dia mulai menggoyangkan pinggulnya pelan-pelan. Aku menggeliat hebat ketika ujung batang kontol yang besar itu
menyeruak dinding nonokku. Sungguh batang kontol om Bram itu luar biasa nikmatnya. nonokku serasa berdenyut-denyut saat menjepit ujung batang kontolnya yang bergerak maju-mundur secara pelahan. Om Bram terus menerus mengayunkan pantatnya makin lama frekwensinya makin cepat. Dia dengan kecepatan tinggi mamaju-mundurkan batang batang kontolnya dalam nonokku. Otomatis dadaku terguncang-guncang keatas dan kebawah seiring goyangan tubuhku. Keringat kami berdua semakin deras mengalir, sementara mulut kami merancu dan mendesah gak jelas. Direngkuhnya toketku yang bergoyang itu. Diremasnya dengan lembut. Berbeda dengan nonokku yang disodoknya dengan cepat, toketku justru diremasnya dengan lembut. Pentilku yang sebelah kanan dipelintirnya dengan tangan kirinya. Aku sungguh tak kuasa untuk tidak merintih setiap om Bram menggerakkan tubuh dan tangannya, gesekan demi gesekan di dinding dalam nonokku sungguh membuatku lupa ingatan. “Ahh..ahhh..” erangan kami membaur jadi satu. Aku sudah tidak bisa ngapa-ngapain, setiap kali om Bram menyodokkan kontolnya. Dapat kurasakan dinding nonokku tergesek, it ilku juga tergesek-gesek. Hal itu membuatku merem-melek keenakan. Om Bram kemudian memegang kaki kiriku, terus diangkatnya ke bahu kanannya, terus dia mengangkat kaki kananku, diangkatnya ke bahu kirinya. Aku diam saja, tidak bisa menolak, posisi apa yang dia ingin terserah, pokoknya aku ingin cepat-cepat disodok lagi. Aku
tidak tahan ingin langsung dikocok. Ternyata keinginanku terkabul, dia menyodokku lagi, kakiku dua-duanya terangkat, mengangkang lagi, makanya nonokku terbuka lebih lebar dan om Bram makin leluasa mengocok-ngocokkan kontolnya. Aku sudah setengah sadar saat om Bram kembali mendorong pantatnya hingga batang kontolnya yang terjepit erat dalam nonokku semakin menyeruak masuk. nonokku diaduk-aduk batangnya. Aku yang sudah sangat terangsang, tanpa sadar akhirnya menggoyangkan pantatku seolah-olah memperlancar gerakan batang kontolnya dalam nonokku. Kepalaku tanpa sadar bergerak-gerak liar merasakan sensasi hebat yang kurasakan. nonokku semakin berdenyut-denyut dan ada semacam gejolak yang meletup-letup hendak pecah di dalam diriku. Kupacu terus goyangan pinggulku, karena aku merasa sebentar lagi aku akan memperolehnya. Terus…, terus…, aku tak peduli lagi dengan gerakanku yang brutal ataupun suaraku yang kadang-kadang memekik menahan rasa luar biasa itu. Beberapa saat kemudian orgasme meyerangku. Dan ketika klimaks itu hampir sampai aku memekik keras sambil meremas kuat bed cover. Langit-langit kamar seolah-olah jatuh menimpaku. Sekujur tubuhku mengejang. Erangan panjang keluar dari mulutku ketika mencapai klimaks, sekujur tubuhku mengejang beberapa detik sebelum melemas kembali. Keringat bercucuran membasahi tubuhku sehingga kelihatan mengkilat. Om Bram juga sama denganku, mungkin karena baru pertama sekali ngentot dengannku dan baru kali ini merasakan kenikmatan tubuhku, dia juga ngecret bersamaan denganku. Dengan menyebut namaku dia mengeluarkan pejunya dinonokku. Aku merasakan cairan hangat dan kental menyirami nonokku. Pejunya menyembur banyak sekali di dalam nonokku, cairan hangat dan kental itu juga membasahi daerah selangkanganku serta sebagian meleleh turun ke pahaku.

Setelah semua pejunya keluar dia menjatuhkan tubuhnya disampingku. Tubuhku lemas bersimbah peluh. Aku merasa sangat lelah, napasku terengah-engah. dia melap keringat didahiku lalu menecup keningku sambil mengucapkan terimaksih. Kami kemudian mengobrol tentang permainan kami barusan. Dia mengaku sangat kagum akan keindahan tubuhku, makanya tanpa terasa cepat sekali orgasme. Menurut pengakuannya , ngentot dengan gadis yang pernah dikencaninya biasanya dia bisa bertahan lebih lama lagi, aku hanya tertawa mendengar kejujurannya. Aku juga memuji permainannya yang sangat nikmat. Perlahan-lahan tenaga kami mulai terkumpul dan nafsu kami mulai bangkit lagi. Dia menatapku penuh arti, kemudian kami berciuman. Kali ini ciuman kami lebih ganas. Aku bahkan mulai berani mengelus kontolnya yang belum tegang benar itu. Dia membalasnya dengan menyerang nonokku juga. Kami sangat bernafsu, berbagi kenikmatan. Perlahan tangan om Bram mulai menggerayangi tubuhku bagian atas, toketku yang terlihat membusung digapainya dengan buas. Om Bram kembali menghujamkan ciuman dan juga jilatannya ke arah leherku. Dia semakin meningkatkan serangannya, lalu mulai menurunkan ciumannya ke arah kedua gunung kembar. Sementara kedua pentilku terasa gatal menahan gejolak seakan ingin cepat dikulum oleh mulut om Bram yang jilatannya terasa membuat tubuhku melayang. Tanpa banyak basa basi lagi om Bram langsung menjilati dan mengulum toketku satu persatu seolah ingin semua dihabiskannya. Aku semakin menggeliat dan memekik kecil, “Akkh.. akhhh..om .. teruskan.. teruskan.. akh.. ahkk..” aku tak kuasa mendesah menikmati mulutnya yang menjelajahi pentilku, malah sesekali digigitnya dengan lembut sehingga membuatku makin mendesah. Kemudian dia menghentikan aktivitasnya, lalu mendudukkan ku ditepi ranjang bersamaan dengannya. Dia megangi batang kontolnya
pakai tangan kanannya, tangan kirinya membelai rambutku. Aku tahu dia mau merasakan mulutku ngisep kontolnya. Sebelum mengisepnya aku terlebih dahulu mengocok-ocok kontolnya, dia sangat menikmati remasan jari lembutku di batangnya. Kukocok keatas dan kebawah seperti pompa. Tanpa perasaan jijik,kemudian aku bungkuk sedikit, aku pegang batang kontolnya yang besar itu pakai tangan kiriku, tangan kananku menahan badanku biar tidak jatuh dan mulutku mulai bekerja. kontolnya mulai kujilati perlahan dan sesekali kukulum dalam-dalam. Kurasakan aroma nonokku disana, tapi tidak kuperdulikan. Kembali kumasukkan kontolnya kemulutku, tapi mulutku tidak sanggup menampung ukuran kontolnya yang besar itu, masih ada sisi seperampatnya lagi diluar, padahal ujung sudah menyentuh kerongkonganku bagian dalam. Perlahan-lahan kontol om Bram semakin membesar. Kudengar om Bram mengerang menikmati jilatanku. Aku semakin terangsang melihat senjata om Bram yang semakin menegang itu, maka aku makin bersemangat mengisepnya. “Akh.. akh.. Terus.. Nes.. terus…” nafasnya tak teratur menahan perlakuanku di kontolnya. Om Bram sepertiya puas juga sama permainanku, dia melihatiku bagaimana aku meng “karaoke” in dia sambil sesekali membuka mulut sambil sedikit berdesah.

Beberapa saat kemudian om Bram melepaskan diri, ia membaringkan aku di tempat tidur dan menyusul berbaring di sisiku. Aku diposisikannya untuk membelakanginya sambil tiduran, kaki kiriku diangkat disilangkan di pinggangnya. Aku tidak tahu gaya apa yang akan dipakainya untuk mengentotiku. Dari belakang Ia berusaha memasuki nonokku. Kepala kontol om Bram yang besar itu menggesek it ilku hingga aku merintih kenikmatan. Pelahan-lahan kontolnya kembali meluncur masuk ke dalam nonokku. Dia lalu mengoyangkan pantatnya mula-mula lambat kemudian cepat. Aku menjerit tak karuan saat kontolnya menyerangku dari belakang. Aku kembali merintih setiap kali dia menggerakkan tubuhnya, gesekan demi gesekan di dinding dalam nonokku sungguh membuatku lupa ingatan. Om Bram mengentoti aku dengan cara itu. Sementara bibirnya mulai melumat bibirku, yang segera kubalas. Kami bertukar air liur sejenak, sebelum dia mengarahkan bibirnya kearah tengkuk dan leherku. Aku makin menjadi-jadi merasakan jilatannya disana, apalagi tangannya selalu meremas-remas toketku yang berguncang-gunjang. Aku dapat merasakan pentilku mulai mengeras, runcing dan kaku. Aku seperti kesetanan melihat bagaimana batang kontol lelaki itu keluar masuk ke dalam nonokku. Sunguh kontras sekali, melihat kontol hitamnya menusuk nonok putihku. Aku menjerit-jerit dengan kuat kala semua titik kenikmatanku di serangnya. sodokan kontol besarnya dinonokku, jilatannya dipundak dan leherku, serta remasan ditoketku membuatku melayang-layang. Gerakanku semakin liar saja. Tidak berapa lama kemudian aku merasakan kenikmatan itu semakin memuncak, tubuhku menegang, kupeluk bantal guling dihadapanku dengan kuatnya. “Aaagghh.. om .. akuu.. oohh” jeritku keras, dan merasakan hentak-hentakan kenikmatan didalam nonokku. Kembali kurasakan orgasmeku yang kedua kalinya malam itu. Tubuhku melemas.. lungai. Tapi om Bram makin semangat memacuku dari belakang hingga orgasmeku makin panjang dan indah. Aku sudah lemas sekali.
Tapi ini belum berakhir karena kontolnya masih tegang sekali, tak mungkin dia membiarkan hal itu. Dia masih sibuk menyodok-nyodokku dari belakang. Beberapa menit kemudian om Bram membalik tubuhku hingga menungging di hadapannya. Ia ingin pakai doggy style rupanya. Tangan lelaki itu kini lebih leluasa meremas-remas kedua belah toket aku yang kini menggantung berat ke bawah. Aku mengerang-erang menikmati semua desakan birahi ini. Aku sunguh kewalahan menghadapi sodokan om Bram yang masih bertenaga. Laki-laki itu benar-benar luar biasa tenaganya. Sudah hampir 15 menit ia bertahan dalam posisi itu, tapi belum ada tanda-tanda akan orgasme. Aku yang menungging didepan tubuhnya hampir kehabisan nafas. Desah nafasnya mendengus-dengus seperti kuda liar, sementara goyangan pinggulnya pun semakin cepat dan kasar. Peluhnya sudah penuh membasahi sekujur tubuhnya dan tubuhku. Sementara kami terus berpacu. Sungguh hebat laki-laki ini. kontolnya dengan mahir sekali menerobos nonokku. Sungguh luar biasa kenikmatan yang kurasakan, aku pun semakin liar, aku membuka pahaku lebih lebar agar kontolnya lebih leluasa masuk. nonokku seperti diaduk-aduk dari belakang. Terkadang om Bram malah menggoyang-goyangkan pinggangnya kekanan dan kekiri sehingga membuatku makin gila saja rasanya. Dia menghentak-hentakkan pinggulnya, semakin kencang membuat tubuhku tersentak-sentak dan toketku terayun-ayun. Aku mengerang-ngerang sambil ikut meraba toketku sendiri, mencoba menambah kenikmatan sendiri. Aku mulai liar dan gatal. Aku ga peduli dicap apaan yang penting aku ingin segera menuntaskan birahi ini. Om Bram benar-benar ahli, tidak lama kemudian aku sudah mulai pusing, aku lihat dinding kamar mulai berputar-putar. Aku benar-benar tidak bisa ngontrol badanku. Ada semacam setrum dari selangkanganku yang terus-terusan bikin aku gila. “Ah… ah… om.. Ah… berhenti dulu om… Ah… Ah… Shhh…” aku tidak tahan sama puncak nafsuku sendiri. Tapi om Bram malah terus-terusan menyodok-nyodok nonokku. Aku benar-benar tidak tahan lagi, aku kejang-kejang, tapi sudahnya benar-benar enak sekali, aku orgasme lagi. Aku membenamkan kepalaku di bantal mencoba menghapus peluhku yang sudah sebesar jagung itu. “Om, istirahat dulu ya..” Pintaku. Tanpa melepaskan kontolnya dari nonokkudibiarkannya aku istirahat sebentar. Beberapa detik lewat, semua badanku masih lemas, tapi aku tahu ini belum selesai.
Om Bram sendiri sepertinya memang sudah tidak tahan ingin mengeluarkan pejunya dinonokku, tanpa menungu lama lagi diangkatnya kepalaku hingga posisiku kembali seperti ****** kawin, dan langsung ditusukkan lagi kontolnya itu ke nonokku. Ada sedikit rasa perih karena baru orgasme. Aku memintanya lebih lembut, tapi om Bram tidak peduli. Nampaknya dia sangat senang melihatku tak berdaya seperti ini. Om Bram mengocok nonokku seperti orang yang kesurupan dan tangannya tidak pernah diam, langsung
diremasnya pantatku yang sudah basah oleh keringat. Diermas-remasnya benda kenyal itu sambil sesekali di cengkramnya dengan kuat. Kontan aku menjerit panjang. Nampaknya dia sangat menikmati doggy style ini, karena dia bisa yang pegang kendali, dengan memperlakukan tubuhku sesukanya. Tangannya mulai beralih kepunggungku lalu ketoketku. Diremasnya sambil dipelintir-pelintir pentilku. Aku tidak tahan digituin, apalagi badanku masih lemas, tanganku lemas sekali, untuk menahan hentakan-hentakan waktu om Bram menyodokkan kontolnya saja sudah tidak kuat. Aku ambruk ke ranjang, tapi om Bram masih terus mengocokku, dari belakang. Sungguh benar cerita yang beredar bahwa orang keturunan India sangat kuat staminanya, hal itu dapat kubuktikan dari om Bram. “Ah… euh… ah… aw…”
aku cuma bisa mendesah setiap kali om Bram menyodokkan kontolnya ke nonokku. Aku ditungganginya seperti kuda dengan pantatku sebagai pegangannya. Rasa perih menjalar keseluruh tubuhku. Aku coba mengangkat badanku agar derita birahi ini cepat berlalu, tapi aku tidak kuat. akhirnya aku menyerah, aku biarkan badanku ambruk seperti itu kekasur. Aku berusaha memohon agar dia berhenti, Tapi rupanya
om Bram tidak peduli, dia tetap maksakan kontolnya keluar-masuk nonokku. Aku cuma bisa pasrah sambil menahan perih di nonokku. toketku bergesakan dengan kasur tiap kali dia menyodok, dan sepertinya itu membuat dia makin nafsu. Dia tambah kecepatan dan mulai meremas toketku yang terjuntai kekasur. Mendadak rasa sakit di nonokku hilang, rasa sakit kocokannya sudah benar-benar sirna, sekarang aku cuma merasakan nikmatnya seluruh tubuhku. Aku mulai merem-melek kegilaan dan akhirnya aku sampai ke puncak yang kesekian kalinya hari itu, dan bersamaan puncak kenikmatanku, aku merasakan cairan hangat muncrat di nonokku. Aku tahu om Bram juga sudah sampai puncak, kontolnya berdenyut-denyut. Akhirnya aku klimaks lagi bersamaan dengan om Bram. Pejunya yang hangat mengalir mengisi rahimku “Nes, a.. ku.. ke.. luar… !” erangnya panjang sambil meringis. Disemprotkannya pejunya
kenonokku. Kali ini kurasakan pejunya lebih banyak yang keluar, sampai tumpah dan mengalir disela-sela pahaku. Rasanya sungguh lemas, badan seperti mati rasa, mataku juga makin berat. Karena kecapaian digenjot om Bram berulang kali, akupun terkapar lemas, dan tak lama kemudian aku tertidur saking capenya.
Malam itu aku tertidur di apartemen om Bram. Ketika kau terbangun hari udah siang, om Bram masih saja mendengkur disampingku. Aku bangun ke kekamar mandi untuk kencing, cuci muka dan sikat gigi. Ketika kembali ke ranjang dia masih saja mendengkur. Aku ngintip dibalik korden kamar, matahari udah tinggi juga. Aku melihat jam tanganku, udah jam 8 lewat. Korden kusibakkan, dia terbangun karena silau, matanya dipicingkan untuk mengurangi silaunya sinar yang masuk kamar. Kulihat kontolnya sudah tegak seperti tiang bendera. Dia ke kamar mandi, terdengar kloset berbunyi, rupanya dia kencing. gak lama lagi terdengar dia menyikat gigi. Ketika dia kembali ke kamar, aku udah berbaring di ranjang lagi menantikan serangan pagi. Aku melihat kontol besarnya masih aja ngaceng dengan kerasnya walaupun dia udah kencing. Dia duduk disampingku dan mencium bibirku. "Pagi Nes, kita main lagi yo", ajaknya. Kembali dia menciumku, aku menyambut ciumannya dengan napsu juga, bukan cuma bibir yang main, lidah dan ludah pun saling belit dan campur baur dengan liarnya. Sebelah kakiku ngelingker di pinggulnya supaya lebih mepet lagi. Tangannya mulai main, menjalari pahaku. Tangannya terus menjalar sampai menyentuh celah di pangkal pahaku. nonokku digelitik-gelitik. Aku menggelepar merasakan jari-jarinya yang nakal. Bibir kulepas dari bibirnya. "Hmmhhh...enak, om." jeritku. Jari-jarinya tambah nakal, menusuk lubang nonokku yang sudah berlendir dan mengocoknya. Dia kembali menciumku. Aku ladenin ciumannya. Dia menindih badanku sambil menciumku. Lidah ketemu lidah, membelit, dan saling menjilat. Aku menggumam gumam kenikmatan, sambil berciuman dia menggoyang-goyang pinggulnya sampai kontolnya yang telah ngaceng lagi terasa kena di nonokku. Bosen ciuman, bibir dan lidahnya menjalar ke kuping leher bahu, ketiak, terus ke toketku. Dia gemes banget ngeliat pentilku yang lumayan gede, kecoklatan dan mencuat ke atas itu. Dia menjilat pentilku dengan rakus sampai Aku ngerasa geli. Pentil sebelah kanan digigitnya dengan lembut, lidah nya menggelitik pentilku di sela-sela gigi depannya, sementara toket sebelah kiriku di remas-remas. Tubuhku menggelinjang karena geli dan nikmat. Setelah beberapa saat di permainkan, toketku terasa mengeras dan pentilnya tegak. Lendir nonokku mengalir dan terasa basah di perutku. "Om, gantian Ines yang ngemut kontol om ya", kataku sambil menelentangkan badannya diranjang. Aku mulai beraksi. Kupegang kontolnya dengan kelima jariku. Kukocok-kocok batangnya perlahan. Dia menggumam pelan, "Enak Nes, terus.." Lidahku mulai merambat ke kepala kontolnya, kujilati cairan yang mulai muncul di lubang kencingnya. Lalu lidahku menggeser ke batangnya, menjelajahi tiap jenjang kontolnya. Tangan kiriku mengelu-mengelus biji pelernya. "Nes..." gumamnya pelan. "enak banget, geli-geli nikmat". Aku hanya tersenyum ngeliat dia merem-melek kayak gitu. Terus aku membuka mulutku dan menjejalkan kontolnya masuk ke dalam mulutku. kontolnya kuisep kenceng-kenceng, lalu dengan mulut kukocok kontolnya turun naik, "uuuuggggghhhh...sedap .enak...mmmmhhhh...", erangnya. Aku lalu merubah posisiku untuk melakukan 69. aku di atasnya dan menyorongkan pantatku ke mukanya. Dia nggak nunggu dua kali, langsung aja dia menjilati nonokku yang berlendir dan merekah merah itu. Bibirnya menyedot lubang nonokku, menghisap lendirnya. Lidahnya dimasukin ke dalam lubang nonokku, menjilati dinding-dinding basah, sementara jari nya mempermainkan it ilku. Aku mengerang-ngerang dengan kontolnya di mulutku, menyuarakan kenikmatan. Lendir dari nonokku membajir membasahi mukanya.
Aku melepaskan kontolnya dari mulutku dan meminta dia menyodok aku dari belakang. Waktu kontolnya masuk, aku hanya merintih pelan. kontolnya dienjotkan keluar masuk dengan kencang, aku hanya bisa mengejang menahan nikmat. Tangannya ikut nimbrung merangsang it ilku. Kocokan kontol di nonokku dan kilikan jarinya di it ilku membuat aku mengerang dan menjerit-jerit kenikmatan. Sudah dua kali nonokku berkontraksi karena aku nyampe, tapi dia terus mengocok kontolnya keluar masuk sampai aku lemes. Cairan nonokku membecek, meleleh turun ke paha. Setelah aku nyampe yang ke empat kalinya, dia akhirnya ngecret lagi."Om, nikmat banget pagi ini, sama nikmatnya dengan yang semalem, aku sampe berkali2 nyampe baru om ngecret", lenguhku lemes. Dia mencabut kontolnya dari nonokku. "Jadi gimana om dengan casting Ines", tanyaku menagih. "Kamu lulus Nes, asal kalo ada kesempatan kamu servis saya lagi seperti ini ya", jawabnya. "Itu mah bisa diatur om", kataku sambil tersenyum, puas bercampur gembira.

1 comments:

Jasa SEBAR BROSUR mengatakan...

SEBAR BROSUR SURABAYA, SIDOARJO, GRESIK KOTA MURAH. http://sebarbrosur-surabaya.blogspot.com/

Poskan Komentar

 

©2009 Cerita Sex | by TNB