Warning...!!! Isi di blog ini bisa menyebakan Serangan pada Jantung anda sehingga detak jantung anda berdegup keras, Sesak Nafas menahan Birahi serta kaku dan Kejang-kejang di bagian Otot Sensistif anda. siapkanlah selalu seperti tisyu dan handuk di dekat anda.

Prolog

Konjungi Forum JC3 : lebih lengkap dan lebih update

http://www.jc-three.com


cewek bugil, koleksi gambar bugil, Video Bokep 3GP, Video Bugil, Foto Bugil,Video 3gp ngentot dan video 3gp sekandal anak SMA, sekandal Anak SMP, ngentot di kebon ngentot di sungai, sekandal karyawan, pengusaha,
pasangan muda muda, suami istri, rekaman video pribadi, ngentot di kantor, video bokep 3gp spesialnya adalah Video 3gp Ngentot anak sekolah.Girl Naked, Naked image collection, Video Blue Film 3GP, Video Naked, Foto Naked, Video 3gp Make Love video 3gp sekandal and high school children, junior sekandal Children, Make Love in Make Love in the river bed, sekandal employees, businessmen, young couples young couple, personal video recording, in the office Make Love, Blue Film 3gp video is spesialnya Video 3gp school girl Make Love.

Selasa, 25 Agustus 2009

Pendekar Naga Perayu

Ciu Hwa

Telaga See-Ouw merupakan telaga yang amat terkenal di daratan Cina ini. Sudah lama telaga ini selalu menjadi tempat melancong yang terkenal karena luasnya, karena indahnya, dan karena segar nyaman hawanya. Oleh karena itu tidaklah heran kalo dusun ataupun kota yang ada di sekitar telaga itu menjadi ramai. Berbagai macam tempat penginapan, rumah makan besar, dan tempat pelesiran banyak dibangun di kota dan dusun di sekitar telaga itu. Hal ini membuat telaga See-Ouw menjadi makin ramai dan menjadi tempat pelancongan yang cukup terkenal sekarang.

Air berkeriput sehalus beledu tilam pembaringan berkasur bulu

Bunga teratai aneka warna menghias indah,

Dicumbu rayu ikan-ikan emas berwarna cerah

Berperahu di telaga Barat ( See-Ouw),

Bermandi cahaya bulan, ditemani seguci arak,

Sesudah itu mati pun tak penasaran

Nyanyian ini banyak dinyanyikan tukang-tukang perahu yang menyewakan perahu mereka untuk para pelancong. Pelancong yang tergolong miskin cukup merasa puas dengan berjalan-jalan disekitar telaga, yang tergolong cukup merasa puas dengan menyewa perahu kecil menghadapi seguci arak. Akan tetapi bagi para pelancong kaya raya, acaranya bermacam-macam. Yang sudah pasti mereka itu akan menyewa perahu besar yang mempunyai bilik yang terlindung dan tertutup, memesan hidangan arak dan masakan lezat mewah, kemudian memanggil pula pelacur-pelacur untuk melayani mereka makan minum sambil mendengarkan beberapa orang perempuan penyanyi menabuh yangkim dan bernyanyi. Pesta macam ini hampir diadakan setiap malam diwaktu musim tiada hujan, sehingga keadaan telaga barat amatlah meriah.

Suasana siang hari itu di kota Bun An, kota yang terletak tepat di sebelah timur telaga See-Ouw, juga ramai. Banyak pedagang yang menjajakan dagangannya yang beraneka warna di tepian telaga yang terkenal itu. Seperti biasanya, suasana telaga itu ramai dengan orang-orang yang melancong dan berpesiar untuk menikmati keindahan telaga itu. Tampak beberapa perahu berlayar di telaga yang besar itu. Memang tak seramai di sore dan malam hari, karena biasanya pelancong yang datang lebih suka berlayar bila hari menjelang sore dan menikmati indahnya matahari senja yang memerah, ataupun di waktu malam kala bulan bersinar di atas telaga yang indah dan meniikmati gemerlap lampu kota yang berwarna-warni. Di siang yang panas ini, kebanyakan para pelancong beristirahat di tempat penginapan ataupun makan siang di restoran dan rumah makan yang banyak terdapat di kota Bun An menyantap ikan bakar yang merupakan menu yang cukup terkenal kelezatannya di kota ini.

Rumah makan Telaga Indah, salah satu rumah makan yang paling besar dan terkenal di kota ini juga tampak ramai sekali siang itu. Bahkan lebih ramai daripada biasanya. Tapi bila ada orang yang biasa kesini, tentu melihat ada yang lain dari keramaian saat ini. Rumah makan itu tak hanya dipenuhi oleh pelancong seperti biasanya, tapi banyak sekali orang yang bertampang kasar dan membawa senjata yang sedang makan di rumah makan itu. Pemilik rumah makan Telaga Indah, Ciu Wangwe, yang mempunyai pengalaman dan pandangan cukup luas itu, maklum kalo orang-orang yang memenuhi rumah makannya saat ini sebagian besar adalah orang kang-ouw (rimba persilatan). Maka dari itu Ciu wangwe (hartawan Ciu) menyuruh para pegawainya bekerja dengan lebih cepat dan bersikap ramah pada para pengunjung. Ciu wangwe sadar kalo orang-orang kang-ouw itu kebanyakan terdiri dari orang-orang kasar dan berangasan, dan kalo tersinggung hatinya, mungkin akan terjadi keributan yang pasti akan merugikannya. Oleh karena itu, Ciu wangwe yang bertubuh gendut, berwajah bulat dengan hidung yang terlihat rata dengan wajahnya itu, kini ikut sibuk menyambut pengunjung yang berdatangan dan bersikap ramah mempersilahkan setiap tamu yang datang.

Tiba-tiba mata Ciu wangwe terpaku melihat seorang tamu yang baru saja masuk ke dalam rumah makannya itu. Tamu yang baru masuk itu adalah seorang wanita. Wajahnya cantik manis, dilengkapi mata indah dengan bulu lentik, hidungnya mancung, bibir manis. Kulitnya putih mulus. Walaupun wanita itu hanya memakai pakaian berwarna putih dengan model sederhana tapi semua orang bisa melihat kalo wanita itu memiliki tubuh indah yang ramping dan penuh lekuk menggiurkan seorang wanita yang sudah matang. Usianya sekitar 25 tahunan. Dengan langkah halus dan gemulai, wanita itu memasuki rumah makan Telaga Indah. Matanya melihat sekeliling, tampaknya mencari meja yang kosong. Ciu wangwe pun segera menghampiri wanita cantik itu dengan senyum lebar yang membuat wajahnya yang bulat tembem menjadi makin bulat.

“Selamat datang di restoran kami, nona. Restoran kami sudah terkenal karena kelezatan masakannya. Ayo, mari. Silahkan duduk di meja yang di sebelah sana, nona.”, sambut Ciu wangwe dengan ramah. Wanita berbaju putih itu hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum manis yang membuat setiap lelaki yang ada di restoran itu semakin terpesona melihatnya. Tahi lalat kecil yang ada di sebelah atas kanan bibirnya membuat senyuman wanita itu tampak makin manis.

Wanita itu mengikuti Ciu wangwe, lalu duduk di salah satu meja yang kosong. Ciu wangwe menawarkan beberapa menu masakan pada wanita itu. Si baju putih itu lalu memesan beberapa masakan. Ciu wangwe pun meninggalkan tamunya untuk menyampaikan pesanannya pada koki. Wanita itu lalu duduk tenang menunggu pesanannya, tak memperdulikan pandangan para lelaki yang ada di restoran itu yang memandang padanya dengan terpesona.

“Waduh, suheng. Beruntung benar kita hari ini. Mata kita terhibur karena bisa melihat kecantikan seorang dewi yang baru saja turun dari khayangan. Ah, kalo saja aku bisa menikah dengan dewi itu, aku berjanji tak akan kawin lagi he..he..he..”, kata seorang lelaki yang berusia sekitar 35 tahunan. Wajahnya terlihat jelek dengan bopeng yang memenuhi kulit wajahnya yang hitam itu. Tubuhnya tinggi besar, dan sebatang Golok yang tergantung di punggungnya, cukup membuat Ciu wangwe was-was dengan keributan yang mungkin terjadi di rumah makannya, karena dia mengenal si muka bopeng itu sebagai salah satu anak buah Hek Gu Bukoan (Perguruan Silat Kerbau Hitam)yang cukup mempunyai nama di daerah ini. Si muka bopeng itu bernama Thio Ki, salah satu murid utama dari Gak Liat yang berjuluk Hek Gu. Hek Gu Gak Liat adalah seorang bekas perampok tunggal yang kemudian mendirikan Hek Gu Bukoan di kota Bun An ini. Dengan kepandaiannya yang cukup tinggi karena Gak Liat adalah bekas murid Siauw Lim Pai yang murtad, Gak Liat berhasil membuat Hek Gu Bukoan menjadi perguruan silat yang cukup besar di daerah sini. Hal ini membuat banyak anak muridnya menjadi sombong dan sering kali membuat keributan, berlagak seperti jagoan.

“He….he….he…sekarang saja istrimu sudah ada dua orang, sute. Aku masih tak percaya kalo kau bakal kapok menikah lagi walaupun nanti kau dapat memperistri gadis cantik itu ha..ha…ha….”, kata seorang lelaki setengah baya yang tinggi kurus yang duduk semeja dengan Thio Ki. Si kurus itu berwajah pucat, matanya sipit dan kumisnya panjang menggantung si kanan kiri bibirnya yang agak monyong itu adalah Giam Kin, suheng (kakak seperguruan) dari Thio Ki, murid pertama dari Hek Gu Gak Liat. Dua orang itu tertawa-tawa sambil meminum arak dan memandang pada gadis cantik yang baru. Jelas sekali kalo mereka berdua mengeluarkan kata-kata kotor itu untuk menggoda gadis cantik berbaju putih itu.

Para tamu yang makan di rumah makan itu menjadi tegang karena maklum kalo dua orang itu memang terkenal suka membuat kerusuhan di daerah itu, dan penduduk Bun An tak bisa berbuat banyak karena dua orang itu memiliki kepandaian silat cukup tinggi, apalagi Hek Gu Bukoan banyak sekali mempunyai murid.

“Kota Bun An memang sudah tersohor akan keindahan telaga See-Ouw, tapi tak disangka kalo disini banyak lalat yang mengotori keindahan kota ini dan mencoba mengotori keindahan setangkai bunga yang tidak bisa melawan. Huh, sungguh menjemukan.”, kata-kata itu keluar dari seorang pemuda berbaju biru muda yang duduk di meja sebelah kiri gadis baju putih. Usianya pemuda itu sebaya dengan si gadis, dan dari sebatang pedang yang ada di atas mejanya, orang bisa tahu kalo pemuda itu juga orang dari dunia kang ouw. Saat si gadis melihat ke arah orang yang mengeluarkan suara untuk membelanya dan mencela dua orang murid Hek Gu Bukoan itu, pemuda itu segera tersenyum dan memasang lagak gagah. Tampaknya pemuda itu juga tertarik dengan kecantikan gadis itu dan sekarang berusaha menarik perhatian gadis baju putih dengan berlagak gagah dan mencoba membela si gadis.

Brakkk……

Thio Ki si muka bopeng itu tampak marah dan dia menggebrak meja dengan keras.

“Kurang ajar. Siapa kau? Berani memakiku lalat.”, kata Thio Ki sambil menuding pada pemuda baju biru.

“Tunggu. Kau ini manusia ataukah lalat?”, tanya pemuda itu.

“Tentu saja manusia.”, sahut Thio Ki penasaran.

“Ya sudah, jangan marah seperti orang kebakaran jenggot. Yang aku maki kan lalat. Kalo kau merasa bukan lalat, kenapa marah-marah?”, balas pemuda baju biru itu sambil bibirnya tersenyum mengejek.

“Brengsek.”, maki si muka bopeng dengan muka merah karena marahnya. Tiba-tiba dia bergerak dengan kecepatan yang mengagumkan. Dengan enteng, tubuhnya yang tinggi besar itu meloncat ke belakang, ke arah pemuda baju biru. Tampaknya Thio Ki, si muka bopeng itu memilik ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang cukup lumayan. Tubuhnya yang tinggi besar itu ternyata bisa meloncat dengan entengnya. Dengan sekali hentakan si muka bopeng sudah melakukan gerakan meloncat sambil salto ke belakang. Kakinya yang besar segera mengayun ke arah pemuda baju biru itu duduk.

BRAAAKKKK……..

Semua orang yang ada di rumah makan Telaga Indah itu terkejut. Bagi mereka yang tidak mengerti ilmu silat kontan saja mereka merasa ketakutan. Tapi bagi mereka yang mengerti ilmu silat, mereka menjadi kagum setelah melihat gerakan si muka bopeng. Pantas saja Hek Gu Bukoan cukup punya nama besar di daerah sini. Si muka bopeng yang menjadi salah satu muridnya ternyata memiliki kepandaian yang boleh diandalkan. Gerakannya gesit dan tenaganya juga kuat. Tendangannya tadi sudah membuat kursi kayu yang kokoh dan kuat menjadi hancur berantakan.

Selain itu mereka juga dibuat kagum dengan gerakan tangkas pemuda berbaju biru. Dengan kecepatan yang mengagumkan, si baju biru itu sudah meloncat dengan entengnya ke arah kanan. Sekarang si pemuda baju biru itu sudah berdiri tegak sambil menenteng pedangnya dan dengan tersenyum mengejek dia menghadapi si muka bopeng yang berdiri sambil menatap murka ke arahnya.

“Aduh, kasihan sekali kursi itu. Sayang sekali. Kwee Lun dari Kunlunpai bukanlah sebuah kursi yang mandah saja dan hanya bisa diam menerima tendangan.”, kata pemuda baju biru yang ternyata dari kunlunpai, partai persilatan yang cukup besar di daerah pegunungan kunlunsan. Dengan lagak gagah, Kwee Lun berdiri tegap sambil menenteng pedangnya, menantang pada Thio Ki. Mulutnya tersenyum dan matanya melirik ke arah si gadis cantik, berusaha menarik perhatiannya.

Thio KI, si muka bopeng itu kini sudah murka. Dengan dibarengi teriakan keras, si muka bopeng itu sudah menghunus golok besar di punggungnya. Golok besar itu segera terayun ke arah Kwee Lun dengan derasnya. Dari gerakan golok yang sampai terdengar deru tebasannya itu dapat dilihat bahwa tenaga Thio Ki sangat kuat. Untung saja, Kwee Lun, pemuda Kunlunpai itu lumayan sigap. Dengan gerakan enteng dia sanggup menghindar dengan gerakan yang tangkas dan ringan. Tapi senyuman yang tadi menghiasi bibirnya telah hilang. Kwee Lun maklum kalo orang tinggi besar yang kini menjadi lawannya itu memilik kepandaian yang tidak bisa dianggap enteng. Pedangnya sudah diloloskan dari sarungnya, siap menghadapi serbuan Thio Ki.

Pertarungan sengit pun terjadi di rumah makan Telaga Indah itu. Tamu-tamu banyak yang ketakutan dan segera pergi dari rumah makan itu. Yang masih tetap bertahan di sana adalah Ciu wangwe, pemilik rumah makan yang mendekam ketakutan di pojokan, si gadis cantik berbaju putih yang masih tetap kelihatan tenang dan duduk santai sambil melihat pertarungan, Giam Kin suheng dari Thio Ki, dan beberapa orang yang dilihat dari pakaian dan senjatanya bisa ditebak bahwa mereka juga orang kang ouw (dunia persilatan). Tampaknya sebagai orang dunia persilatan yang memiliki kepandaian silat, orang-orang itu tertarik melihat pertarungan antara Thio Ki dan Kwee Lun.

Tapi ada juga yang aneh, karena masih ada dua orang lagi yang masih tetap tinggal di rumah makan itu. Yang pertama adalah seorang kakek tua yang berpakaian mewah seperti seorang hartawan atau pejabat. Kakek itu tampaknya cuek dan tak memperdulikan pertarungan dan asyik minum arak yang tersedia di mejanya. Melihat kakek itu, orang-orang yang lain menduga kalo kakek itu tentu sudah pikun hingga tak menyadari kalo disitu terjadi pertarungan yang bisa membahayakan keselamatannya.

Yang kedua juga tak kalah anehnya. Karena disitu ternyata ada seorang anak kecil yang asyik menonton pertarungan dari salah satu sudut rumah makan. Anak itu kira-kira baru berusia 12 tahun. Wajahnya yang lucu dan tampan tampak memancarkan kekaguman dan kegembiraan melihat pertarungan mati-matian antar dua orang itu seperti menonton pertunjukan saja. Benar-benar seorang bocah yang pemberani dan bernyali besar. Pakaiannya sederhana namun bersih, dan dari bungkusan di tangannya yang berisi makanan, tampaknya anak itu baru saja membeli masakan dari rumah makan itu.

Perhatian orang-orang tertuju pada pertarungan yang terjadi hingga tak memperhatikan kakek aneh dan anak kecil pemberani itu. Pandangan mereka tertuju pada pertarungan yang kian seru dan ramai itu. Dua orang yang sedang bertarung itu memiliki gaya yang berbeda, dan tampaknya kepandaian mereka seimbang hingga pertarungan itu berjalan ramai dan menarik. Thio Ki, si muka bopeng yang tinggi besar itu bersilat dengan langkah kaki yang mantab dan kuda-kuda yang kokoh, khas gaya langkah dari Siauwlimpai. Tapi serangan golok dan pukulannya begitu ganas dan kejam, jauh dari ciri ilmu silat Siauwlimpai yang merupakan ilmu silat para hwesio yang penuh welas asih dan bersih. Hal ini tidak mengherankan karena Hek Gu Gak Liat, guru dari Thio Ki adalah bekas hwesio siauwlim yang murtad dan pernah menjadi perampok tunggal yang kejam sebelum membuka perguruan silat Hek Gu Bukoan. Gak Liat, selain menguasai ilmu silat siauwlimpai dengan baik, dia juga memperdalam kepandaiannya dengan belajar ilmu silat dari tokoh-tokoh hitam kang ouw. Oleh karena itulah, kini ilmu silat yang diajarkan di Hek Gu Bukoan, walaupun mempunyai dasar dari ilmu siauwlimpai tapi sudah berubah menjadi ilmu silat yang kejam dan ganas.

Sementara itu Kwee Lun, pemuda Kunlunpai yang berbaju biru muda itu, bersilat dengan memainkan Kunlun Kiamsut (Silat pedang Kunlun) yang terkenal cukup kuat di dunia persilatan. Gerakan Kwee Lun tampak enteng, berloncatan kesana kemari dan pedangnya membabat dan menusuk dengan cepat. Kwee Lun cukup maklum bahwa dalam hal tenaga agaknya dia kalah setingkat dari orang she Thio itu. Dia merasa tangannya bergetar keras dan telapaknya panas saat senjata mereka beradu. Tapi pemuda itu cukup lega saat mengetahui kalo dia memiliki sedikit kelebihan dalam hal ginkang. Kwee Lun cukup cerdik dan dia pun tak mau beradu keras lawan keras, dan setiap senjata mereka beradu, Kwee Lun mengerahkan tenaga lemas dan memanfaatkan benturan senjata itu untuk melakukan serangan berikutnya dengan kecepatan tinggi.

Pertempuran itu sangat seru dan ramai karena kedua orang yang bertempur itu memilik kepandaian yang berimbang. Bahkan mereka memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Hingga pada suatu kesempatan, saat Thio Ki menyabetkan goloknya berputar dari arah bawah ke atas. Tebasan yang sangat kuat dan jurus serangan yang berbahaya dan keji, karena maksud dari serangan ini adalah mengarah selangkangan Kwee Lun dan bermaksud membelah tubuhnya menjadi dua bagian kalo serangan itu berhasil. Kwee Lun cukup kaget dengan serangan yang berbahaya itu, tapi tak sia-sia pemuda baju biru itu menjadi murid Kunlunpai. Dengan tenang dan penuh perhitungan, Kwee Lun meliukkan tubuhnya berputar ke kanan dengan mengangkat kaki kirinya. Kwee Lun bisa merasakan sabetan Golok yang lewat begitu dekatnya dengan tubuhnya, tapi pemuda itu cukup tabah dan tidak menjadi gugup. Gerakan mengelaknya langsung berubah menjadi serangan balasan dan Kwee Lun pun menyerang Thio Ki dengan salah satu gerak tipu dari Kunlun Kiamsut yang bernama “Kwan Im Hoan Eng” (Dewi Kwan Im menukar bayangan) salah satu jurus Kunlun Kiamsut yang hebat. Berbarengan dengan gerakan memutarnya yang bertumpu pada satu kaki kanannya, Kwee Lun segera melakukan tusukan pedang yang cepat mengarah ke arah dada Thio Ki. Ujung pedangnya digetarkannya dengan tenaga dalam yang kuat, hingga ujung pedangnya seolah-olah berubah menjadi banyak sekali. Thio Ki kaget sekali dengan serangan ini. Begitu cepatnya serangan yang dilakukan Kwee Lun hingga Thio Ki tak bisa menghindar. Tapi si muka bopeng itu tak kalah akal, goloknya yang tadi berada di atas segera disabetkan ke bawah untuk menangkis pedang Kwee Lun. Thio Ki mencoba mematahkan pedang itu dengan mengerahkan seluruh tenaganya karena dia tahu kalo dia lebih menang dalam hal ini.

Tapi inilah yang semenjak tadi telah diincar oleh Kwee Lun yang cerdik. Jurus yang dikerahkannya bernama Kwan Im Hoan Eng. Kwan Im adalah salah satu dewi, dan sesuai dengan namanya yang memasukkan nama perempuan yang termasuk unsur Im maka jurus ini pun menggunakan tenaga Im (tenaga lemas) walaupun awalnya serangan itu begitu cepat dan keras seperti ciri jurus yang berunsur Yang (keras). Hoan Eng (menukar bayangan) yang mengakhiri nama jurus ini sangat sesuai dengan gerak tipu jurus itu, dimana serangan yang sebenarnya menggunakan tenaga Im tapi disamarkan seolah-olah serangan yang berunsur Yang. Jadi saat Thio Ki mencoba menggunakan keunggulannya dalam tenaga dan mencoba beradu keras lawan keras, dia kecele. Pedang Kwee Lun sama sekali tak patah, tapi malah menerima sabetan golok Thio Ki dengan gerakan ringan dan tenaga lembut. Kwee Lun mengikuti aliran tenaga lawannya dan memanfaatkan tenaga itu. Pedangnya yang dibentur golok Thio Ki segera berubah tujuan ke arah bawah menuju kaki Thio Ki dengan kecepatan dan kekuatan yang berlipat karena Kwee Lun meminjam tenaga tangkisan golok itu. Ujung pedang Kwee Lun berhasil menyabet paha Thio Ki. Pedang itu menggores cukup dalam hingga Thio Ki pun terhuyung kehilangan keseimbangannya karena kaki yang menjadi tumpuan kuda-kudanya kini terluka. Tiba-tiba Kwee Lun mengayunkan kakinya menyepak dada Thio Ki hingga si muka bopeng itu pun terlontar ke belakang lalu jatuh bergulingan.

Braaakkk…….

“Aduh….Sialan!”, maki Thio Ki sambil merintih kesakitan. Pahanya terluka oleh bacokan pedang dan dadanya yang terkena tendangan terasa sesak.

Tiba-tiba terdengar jeritan lain yang menyusul jeritan Thio Ki.

“Aaghh…bangsat curang!”, teriakan ini dikeluarkan Kwee Lun saat tubuhnya melayang terhempas kira-kira 3 langkah dari tempatnya berdiri. Tadi setelah dia berhasil mengalahkan Thio Ki, tiba-tiba dia merasakan hawa angin pukulan yang kuat menyerang dari belakangnya. Ternyata si muka pucat teman dari muka bopeng yang menjadi lawannya telah melancarkan serangan membokong dengan pukulan dashyat yang didasari tenaga dalam yang sangat kuat. Kwee Lun menjadi kaget dan berusaha menghindar sambil mencoba menangkis pukulan itu dengan tangannya. Tapi Kedudukannya yang masih belum sempurna karena baru saja melakukan serangan pada Thio Ki membuat dia tak bisa menangkis dengan tenaga penuh. Apalagi Tenaga dalam si muka pucat itu jauh lebih kuat daripada si muka bopeng. Kontan saja pendekar muda dari kunlunpai itu menjadi terlempar tubuhnya karena hawa pukulan yang ditangkisnya masih sempat melanggar dadanya dan membuatnya sesak nafas.

Belum sempat Kwee Lun memulihkan diri, tiba-tiba si muka pucat sudah menyerangnya dengan dashsyat. Kwee Lun mengayunkan pedangnya menyambut serangan itu tapi Giam Kin, si muka pucat itu juga mengayunkan toya besi hitam yang menjadi senjatanya dan menyamplok pedang Kwee Lun dengan tenaga yang dashyat dan membuat pedang itu terlempar dari tangan pemiliknya.

Giam Kin tak menghentikan serangannya sampai disitu. Toyanya yang masih berputar setelah menerbangkan pedang Kwee Lun kini segera menyambung gerakannya menjadi sbuah serangan tusukan ke arah dada Kwee Lun. Kwee Lun hanya bisa diam karena tangannya masih tergetar karena kalah adu tenaga dengan Giam Kin saat senjata mereka beradu, dan juga dadanya masih terasa sesak akibat pukulan tenaga dalam yang dilakukan Giam Kin secara membokong tadi, hingga pemuda kunlunpai itu hanya bisa pasrah karena maklum kalo dia tak akan sempat lagi menghindar dan akan terhajar tusukan toya besi hitam itu.

PLAAAKKKK ….Klontanggggg….Aduhhh….

Anehnya, suara jeritan itu bukanlah keluar dari mulut Kwee Lun, tapi malah dari mulut Giam Kin, si muka pucat. Tadinya Giam Kin sudah merasa bahwa dia akan berhasil menghajar dada Kwee Lun dengan tusukan toyanya, tapi tiba-tiba saja ada sinar putih berkelebat dengan cepat ke arah pergelangan tangannya. Giam Kin hanya merasa pergelangan tangannya ditotok oleh sinar putih itu hingga tangannya jadi lemas dan toya besi hitamnya pun jatuh ke lantai dan mengeluarkan suara keras. Belum sempat Giam Kin melihat jelas siapa yang menyerangnya, tiba-tiba sinar putih itu berkelebat lagi menyerang ke arah dadanya. Serangkum hawa kuat mengiringi kelebatan sinar putih itu. Giam Kin tak sempat lagi mengelak dan tubuhnya pun terlempar ke belakang.

Kwee Lun menarik nafas lega karena berhasil selamat dari serangan maut si muka pucat. Pemuda Kunlunpai itu kaget saat menyadari kalo yang menyelamatkannya adalah gadis berbaju putih yang coba dibelanya. Rasa malu menghinggapi benak Kwee Lun. Tadi dia memang mencoba mencari perhatian gadis itu dengan mencoba membelanya dari gangguan si muka bopeng. Tak disangka, gadis itu ternyata memiliki kepandaian yang tinggi, dilihat dari permainan selendang putihnya yang berhasil menyelamatkan Kwee Lun serta membuat si muka pucat yang lihai itu terlempar ke belakang. Dengan kepandaian seperti itu, tentu saj gadis baju putih itu sama sekali tak membutuhkan perlindungannya, malah gantian kini dia yang diselamatkan oleh gadis itu.

“Te..terima kasih. Maafkan saya yang berani memperlihatkan kebodohan dan buta tak melihat gunung Thai San yang menjulang di depan mata.”, kata Kwee Lun dangan muka merah karena malu sambil menyoja ke arah gadis baju putih itu. Kata-kata Kwee Lun itu merupakan kata-kata kiasan yang sering dipakai orang kang-ouw. Artinya dia menyesal sekali bahwa dia berani memamerkan kepandaiannya yang tak berarti di hadapan seorang yang memiliki kepandaian silat lebih tinggi darinya.

“Justru saya yang seharusnya berterima kasih karena pembelaan saudara.”, kata gadis berbaju putih itu dengan suaranya yang merdu. Kwee Lun hanya tersenyum kecut, mengangguk, lalu meninggalkan tempat itu sambil terpincang-pincang.

Sementara itu Giam Kin sangat kaget saat menyadari kalo sinar putih yang menyambarnya tadi ternyata hanyalah sehelai selendang putih panjang dari gadis berbaju putih yang di goda sutenya tadi. Giam Kin sadar kalo gadis itu ternyata memiliki kepandaian hingga bisa menghentikan serangannya tadi, tapi rasa marah karena dipermalukan di tempat umum seperti ini membuatnya gelap mata.

“Hhm…rupanya bunga yang satu ini bukan bunga biasa tapi bunga mawar yang berduri. Nona, walaupun kau mempunyai sedikit kepandaian tapi kau tak berhak mencampuri urusanku yang hendak menghajar orang yang melukai suteku.”, kata Giam Kin dengan sok.

“Kalo sutenya adalah orang baik-baik dan tak bersalah maka hal itu memang sudah seharusnya. Tapi bila sutenya adalah orang yang kurang ajar dan tak tahu diri maka suhengnya harus menghajarnya, bukan malah membela.”, kata gadis itu dengan suaranya yang merdu dan tenang.

“Eh, siapa yang berani mencaciku kurang ajar. Tampaknya si cantik ini perlu diberi sedikit hukuman, suheng. Biar tak menghina orang Hek Gu Bukoan.”, kata Thio Ki, si muka bopeng sambil berjalan agak terpincang karena kakinya terluka oleh pedang Kwee Lun tadi. Orang ini benar-benar tak tahu diri. Padahal baru saja dia dihajar tapi sekarang sudah banyak lagaknya. Tampaknya dia begitu mengandalkan kepandaian Giam Kin, suhengnya itu.

“Hhmm… itu sudah sepantasnya. Tapi hukuman apa, Sute?”, kata Giam Kin mengimbangi lagak sutenya.

“Biarlah kita membikin beres urusan ini bila si cantik ini memberiku hadiah ciuman di pipi kiri dan kanan he..he..he….”, kata Thio Ki sambil tersenyum menjijikkan.

“Baiklah. Silahkan nona menerima hukuman agar tak terjadi keributan disini karena sungguh sayang kalo sampai kulit putih nona yang mulus itu terluka oleh sabutan golok atau menghitam karena memar oleh hantaman toya.”, kata Giam Kin dengan lagak jumawa.

Mata gadis berbaju putih yang sudah sedari tadi bersikap sabar dan mengalah itu kini berkilat marah.

“Seorang lelaki seharusnya menghormati dan tak bersikap kurang ajar pada wanita. Dan aku bukan wanita yang tak bisa melawan bila ada yang menghinaku.”, kata gadis itu dengan tenang tapi bernada tegas.

“Biar aku yang menangkap gadis ini, suheng, agar ia menerima hukumannya he…he..he…”, kata Thio Ki tak tahu diri. Si muka bopeng itu tak ingat bahwa dia tadi kalah melawan Kee Lun, sedangkan gadis baju putih itu sanggup menyelamatkan Kwee Lun dari serangan suhengnya hanya dengan gerakan selendangnya saja. Hal ini saja sudah jelas menunjukkan kalo gadis baju putih itu memiliki kepandaian yang jauh lebih tinggi darinya. Tapi watak Thio Ki yang sombong dan tak memandang orang lain, apalagi disampingnya ada suhengnya yang berilmu lebih tinggi darinya, membuat Thio Ki meremehkan gadis berbaju putih itu.

Tiba-tiba Thio Ki menubruk ke depan dengan dua tangan terbuka, bermaksud untuk menangkap gadis baju putih itu. Pikirannya sudah dipenuhi angan-angan kotor bila ia berhasil menyergap tubuh gadis baju putih itu yang indah, menciumi pipinya yang mulus dan bibirnya yang manis. Mungkin dia akan dapat mencuri kesempatan meremas dada gadis itu yang tampak montok, atau meremas pantatnya.

Braakkkk…..

Thio Ki bukannya memeluk tubuh si gadis, malah tubuhnya menabrak meja dan kursi yang ada di belakang tempat gadis itu tadi berdiri. Ternyata gadis baju putih itu dengan gerakan luar biasa cepatnya sudah menghindar dengan melompat ke kiri sehingga nampak seperti menghilang dari hadapan Thio Ki.

“Ha..ha…ha….mau mendapatkan gadis cantik tapi malah memeluk meja. Hey, paman. Matanya melihat kemana sih? Tuh bidadarinya ada di sana.”, terdengar suara tertawa anak kecil. Mata Thio Ki melotot marah pada anak kecil yang masih berdiri di pojokan ruangan sambil membawa bungkusan makanan itu. Tapi dia tak sempat meladeni ejekan anak kecil itu sekarang karena kemarahannya tertuju pada gadis baju putih tadi. Dia melihat gadis itu berdiri sambil tersenyum mengejek di sebelah kirinya. Thio Ki baru sadar kalo gadis baju putih itu ternyata memiliki kepandaian tinggi, tapi si muka bopeng itu masih besar hati karena disitu ada suhengnya.

“Suheng, bantu aku menangkap betina ini.”, kata Thio Ki sambil marah. Belum habis Thio Ki bicara, Giam Kin sudah melompat dengan cepat ke arah gadis baju putih itu. Tangannya menyambar dengan gerakan mencengkeram ke arah pundak dan tangan gadis itu.

Lagi-lagi gadis itu bergerak seperti menghilang sakin cepatnya, dan membuat sergapan Giam Kin luput. Thio Ki segera menyusul dengan sergapan dengan cengkraman yang berlandaskan ilmu silat, tidak seperti tadi yang hanya memeluk biasa. Tapi kembali gadis itu menghindar dengan mudahnya.

PLAAKKK…..

“Aduhhh…..”, teriak Thio Ki karena pipinya terasa panas dan sakit sekali terkena sabetan sinar putih yang ternyata adalah sebuah selendang yang digerakkan gadis itu dengan cepat sambil menghindar Sabetan selendang itu disertai dengan kekuatan sinkang ( tenaga dalam ) sehingga ujung bibir Thio Ki menjadi berdarah dan pipinya agak lebam.

“Brengsek! Kucincang kau.”, kata Thio Ki yang sudah marah sekali karena merasa terhina. Apalagi terdengar jelas olehnya suara tertawa disana-sini, dan yang paling kerasa adalah suara tertawa anak kecil tadi. Kini Thio Ki sudah menggenggam goloknya dan mulai menyerang dengan maksud membunuh. Giam Kin yang berwatak curang juga ikut menyerang dengan toya besinya.

Terjadilah kembali pertarungan di rumah makan Telaga Indah itu, bahkan lebih seru dan lebih ramai dari yang tadi. Deru suara toya besi Giam Kin yang menyambar-nyambar tampak seperti gulungan sinar hitam. Golok Thio Ki mengayun dengan derasnya kesana kemari berusaha menyerang gadis itu hingga membuat orang-orang jadi kuatir dengan nasib gadis yang kelihatan lemah lembut itu. Sementara itu dengan gadis baju putih itu kini tampak berkelebatan ke sana kemari seperti kilatan bayanga putih. Orang-orang hanya bisa melihat gadis itu secara samar diantara kelebatan toya yang menderu dan sabetan golok yang menggiriskan.

Mereka terus bertarung sampai hampir 5o jurus, atau lebih tepatnya dua lelaki itu yang terus menyerang gadis itu yang tak membalas serangan mereka, hanya menghindar dengan kecepatan yang luar biasa, kadang menangkis toya Giam Kin dan golok Thio Ki dengan selendang putihnya. Thio Ki dan Giam Kin mulai berkeringat dingin dan merasa jerih. Mereka seperti menyerang bayangan saja karena gerakan gadis baju putih itu memang cepat sekali.

“Hhhmm….. benar-benar manusia tak tahu diri. Biar nonamu ini memberi sedikit hajaran biar kalian jera. Hiaattttt……”, kata gadis itu sambil terus melesat kesana kemari laksana bayangan. Kini gadis itu mulai memainkan selendang putihnya dan membalas serangan dua orang itu. Selendang itu berubah menjadi gulungan sinar putih yang menyambar-nyambar.

Sekarang jelas sekali tampak kelihaian ilmu silat gadis baju putih itu. Gulungan sinar putih dari selendangnya makin menekan gulungan sinar hitam dari toya dan golok dua orang murid Hek Gu Bukoan itu. Bahkan Thio Ki dan Giam Kin kini harus menggerakkan senjata mereka untuk melindungi diri dari ujung selendang putih yang menyerang titik titik lemah mereka. Sedangkan serangan mereka sama sekali tak bisa menyentuh gadis itu. Beberapa kali selendang sutera itu berhasil masuk dan menghantam tubuh mereka seperti pipi, dada, kaki, tangan, dan lain-lain. Untung saja gadis baju putih itu hanya ingin memberi hajaran saja dan tak menyerang titik-titik vital. Tapi tak urung lecutan selendang itu terasa panas dan berat, membuat tubuh mereka lebam-lebam. Pipi kiri Thio Ki sampai bengkak besar sekali dengan ujung bibir yang berdarah. Sedangkan Giam Kin sekarang harus melihat dengan satu mata saja karena pelipis kanannya dihantam selendang sampai membengkak hingga mata kanannya sulit dibuka.

Tiba-tiba Thio Ki bergulingan di lantai dengan gerakan jurus yang mirip dengan jurus “trenggiling menyusuri bumi” sambil goloknya menyabet kaki gadis baju putih itu. Gadis itu mengelak dari serangan Thio Ki dengan melentingkan tubuhnya dengan indah ke atas menggunakan gerakan jurus “naga terbang ke langit”, tapi gadis baju putih tak sekedar melompat menghindar saja, melainkan meloncat ke arah Giam Kin sambil menyabetkan selendang putihnya agar si muka pucat itu tak sempat mengerahkan serangan susulan untuk membantu sutenya. Gerakan selendang itu begitu cepat hingga Giam Kin seperti melihat ujung selendang itu berubah menjadi banyak dan mengarah ke beberapa bagian tubuhnya. Giam Kin begitu kaget dan mencoba memutar toyanya didepan tubuhnya untuk menangkis serangan selendang itu. Tapi sayang, dia kalah cepat. Ujung selendang itu sempat menyerang jalan darah di pundaknya yang membuat tubuhnya serasa lemas seketika.

Klontanggg……

Toya besi hitam milik Giam Kin yang berat itu pun terjatuh ke lantai karena pemiliknya sudah lemas tak berdaya. Dan sebelum tubuh Giam Kin terjatuh ke lantai, si muka pucat itu merasakan selendang putih itu telah membelit pinggangnya. Tahu-tahu tubuh Giam Kin sudah melayang keluar dari restoran karena betotan selendang putih dan jatuh bergulingan di depan restoran.

Thio Ki yang melihat suhengnya sudah taj berdaya, menjadi hilang nyalinya. Buru-buru si muka bopeng itu melompat keluar dari restoran, menuju Giam Kin yang tergeletak pingsan di depan restoran. Gadis baju putih itu ternyata berwatak cukup sabar. Dia tak mengejar Thio Ki.

Thio Ki menggendong tubuh Giam Kin, dan dengan langkah tertatih-tatih si muka bopeng itu membawa suhengnya yang pingsan pergi dari situ dengan hati yang dipenuhi amarah dan malu.

Sementara si gadis itu duduk kembali di meja yang masih utuh dan tak terkena akibat dari pertarungan tadi. Tangannya menggapai ke arah Ciu wangwe, si pemilik restoran yang tampak lega karena pertempuran sudah usai, walaupun tubuh gendutnya masih gemetaran karena takut. Ciu wangwe menghampiri gadis baju putih itu.

“Maaf Nona. Se…sebaiknya nona lekas pergi dari sini. Dua orang berandalan itu pasti akan memanggil teman-temannya yang lain untuk balas dendam, mungkin juga suhu mereka Hek Gu Gak Liat ( Gak Liat si Kerbau Hitam ) juga akan datang. Keadaan nona dalam bahaya kalo tak lekas pergi dari sini sebelum mereka datang.”, kata Ciu wangwe memperingatkan gadis baju putih itu.

“Lopek (paman), tenang saja. Seorang manusia tak seharusnya merasa ketakutan selama ia berjalan di jalan yang benar. Lopek tak usah kuatir dengan aku. Sekarang aku lapar sekali. Tolong ambilkan makanan pesananku, aku mau makan.”, kata gadis baju putih itu.

“Baiklah kalo begitu nona”, kata Ciu wangwe sambil buru-buru pergi ke belakang, meninggalkan nona itu yang masih tenang sambil duduk menanti pesanan makanannya. Segelintir tamu yang masih di situ, kembali melanjutkan makan mereka sambil bercakap-cakap. Mereka mengira-ngira siapa sebenarnya gadis baju putih yang memiliki kepandaian tinggi itu yang dengan mudahnya menghajar murid-murid Hek Gu Bukoan yang cukup terkenal disini.

Tiba-tiba terdengar suara tepuk tangan dan tertawa seorang anak kecil. Ternyata yang tertawa dan bertepuk tangan itu adalah anak kecil pemberani yang tadi masih tinggal untuk melihat pertarungan. Padahal tamu yang lain sudah berhamburan keluar meninggalkan restoran, kecuali segelintir orang yang termasuk orang kang ouw.

“Whoa…., Cici hebat sekali bisa menghajar orang-orang yang tak tahu malu itu sampai berlarian tunggang langgang he…he…he…. Cici juga cepat sekali. Aku saja sampai tak bisa melihat karena pandanganku jadi kabur dan kepalaku sampai pusing rasanya.”, kata anak lelaki itu yang sudah menghampiri gadis baju putih itu dan berdiri di depannya sambil tersenyum-senyum lucu dan wajahnya diliputi kekaguman. Gadis baju putih itu senang melihat anak lelaki yang berwajah tampan dan matanya selalu bersinar riang itu.

“Terima kasih anak baik. Kamu pemberani sekali. Siapa namamu?”, tanya gadis itu.

“A Liong.”, jawab anak itu.

Gadis baju putih dan anak lelaki yang lucu itu segera menjadi akrab. Gadis itu tersenyum senang dan kadang tertawa lirih hingga wajahnya makin nampak manis dan saat dia tertawa tampak deretan gigi putih yang terawat. Anak lelaki itu memuji-muji kelihaian gadis itu sambil bercerita kembali tentang pertarungan tadi. Dengan tingkahnya yang lucu, anak lelaki itu menirukan aksi dua penjahat yang terhajar sampai lari ketakutan. Tingkahnya begitu polos dan wajar hingga membuat gadis itu sampai tertawa gembira. Bahkan tamu yang lain yang ikut mendengarkan dan melihat anak kecil itu bercerita juaga ikut tertawa. Gadis baju putih itu yang senang dengan sikap anak lelaki yang lucu itu pun sampai mengajak anak kecil itu makan bersama saat pesanan makanannya sudah datang. Mereka pun makan sambil ngobrol dan bercanda dengan akrabnya layaknya kakak dan adik saja.

“Hhhmm… mereka tadi itu memang sangat kurang ajar san pantas sekali mendapat hajaran dari cici. Yaa….tapi aku juga tak terlalu menyalahkan tingkah mereka.”, kata A Liong sambil mengambil sepotong daging dengan sumpit dan memasukkan ke dalam mulutnya.

Gadis itu jadi penasaran dengan perkataan A Liong yang bilang kalo mereka kurang ajar tapi tak menyalahkan mereka.

“Kok begitu? Kenapa memangnya?”, tanya gadis itu.

“Habis cici cantik sekali sih. Cantik seperti dewi. Wajar saja kalo mereka jadi tergila-gila saat melihat cici. Sayang sikap mereka kurang ajar.”, kata A Liong dengan santai sambil terus makan. Gadis baju putih itu merasa agak heran karena kata-kata A Liong yang seperti orang dewasa itu. Tapi dia juga tersenyum sambil tersipu mendengar pujian A Liong. Wanita mana yang tak senang kalo dipuji? Lagi pula pujian itu dikeluarkan oleh seorang anak lelaki seperti A Liong yang berwatak jujur dan polos hingga tak diragukan kebenarannya.

“Iihh, kamu kecil-kecil udah genit ya. Memangnya kamu tahu darimana kalo cici cantik?”, kata gadis itu.

“Yee…semua orang yang tidak buta pasti tahu kalo cici ini wanita yang cantik sekali. Sepasang mata yang indah, hidung mancung, bibir yang manis, tubuh yang langsing dan begitu gemulai seperti pohon yang liu yang tertiup angin. Waahh…pokoknya cici cantik banget deh.”, puji A Liong.

“Sudah..sudah… kepala cici bisa gede kalo terus mendengar pujian kamu. Kamu ini ya kecil-kecil genitnya minta ampun.”, kata gadis baju putih itu sambil tersenyum malu tapi dalam hatinya juga merasa bangga. Gadis itu juga merasa heran dengan A Liong. Kata-kata pujian yang merayu dan agak genit itu tak pantas keluar dari mulut seorang anak lelaki yang baru berusia 12 tahun. Tapi karena A Liong mengatakan itu semua dengan sikap dan wajahnya yang polos maka gadis itu pun tak menjadi marah. Mereka kembali makan sambil mengobrol.

“Kamu tinggal disini? Siapa orang tua kamu?”, tanya gadis itu.

“Aku tinggal menumpang di tempat aku bekerja, di gedung berwana merah di tepi telaga. Kalo orang tua nnggg….. aku sendiri tak tahu siapa orang tuaku.”, kata A Liong. Wajahnya yang tadi bersinar lucu itu kini tampak muram. Gadis itu kaget dan tertarik mendengar jawaban A Liong.

“Apa maksud kamu? Kenapa kamu sampai nggak tahu siapa orang tua kamu?”, tanya gadis itu yang merasa penasaran.

“Aku ini korban banjir yang kebetulan saja bisa selamat karena ditolong para nelayan dalam keadaan pingsan. Saat aku siuman, aku sudah tak ingat apa-apa lagi kecuali namaku A Liong. Yang lainnya aku tak ingat lagi. Siapa orang tuaku, apakah mereka masih hidup apa sudah mati, aku pun tak tahu.”, jelas A Liong dengan wajah muram.

“Maafkan cici. Kasihan kamu, A Liong.”, kata gadis itu yang merasa terharu dan kasihan sekali dengan nasib anak lelaki itu. Jemarinya yang lentik dengan lembut mengusap rambut A Liong dengan lembut dan penuh kasih sayang.

“Sudahlah ci. Nggak ada yang mesti disedihkan lagi. Itu semua cuma masa lalu. Yang penting sekarang aku dalam keadaan sehat dan baik-baik saja.”, kata A Liong dengan santai. Kemuraman yang tadi sempat menyelimuti wajahnya kini hilang dan keceriaan yang menjadi watak dasarnya pun kembali. Gadis baju putih itu menjadi kagum dengan A Liong. Anak sekecil itu bisa tabah menerima nasibnya yang malang dan tetap bergembira. Kata-katanya begitu dewasa.

“Celaka, Nona. Mereka datang lagi. Kali ini mereka bersama guru mereka Hek Gu Gak Liat. Celaka.”, kata Ciu wangwe dengan ketakutan sambil menghampiri meja gadis baju putih itu. Ciu wangwe menunjuk ke luar restoran. Tampak Thio Ki dan Giam Kin yang tadi membuat keributan datang lagi bersama dengan tiga orang yang lain. Mereka mulai melangkah masuk di pintu depan rumah makan itu.

“Mana orangnya yang berani menghina Hek Gu Bukoan?”, teriak seorang lelaki ynag bertubuh tinggi besar. Agaknya orang inilah yang disebut Hek Gu yang bernama Gak Liat. Tubuhnya tinggi besar dan agak gendut seperti kerbau. Kulitnya hitam, juga pakaian yang dikenakannya juga berwarna hitam. Kepalanya gundul plontos, wajahnya garang.

Thio Ki berbisik-bisik pada Gak Liat sambil menunjuk ke arah gadis berbaju putih. Gak Liat pun melihat ke arah gadis baju putih yang masih terus melanjutkan makannnya sengan tenang.

“Hati-hati, cici. Si hitam itu tampaknya lihai ilmu silatnya. Tapi untung cici menghadapinya siang hari, bukan di waktu malam.”, bisik A Liong.

“Memang apa bedanya siang atau malam?”, tanya gadis baju putih itu yang heran dengan perkataan A Liong.

“Wah, kalo cici bertanding dengannya waktu malam bisa gawat. Cici pasti bakal suash melihat dia waktu malam. Lihat badan dan pakaiannya hitam sekali. Kalo dia tidur terlentang di bawah, pasti banyak orang yang mengira dia cuma bayangan saja.”, komentar A Liong dengan konyolnya. Gadis itu pun tertawa mendengar kata-kata A Liong.

“Kamu tenang saja. Mungkin cici bisa membereskan mereka tanpa bertarung.”, kata gadis itu tenang.

Sementara itu Hek Gu Gak Liat berjalan menghampiri meja si gadis dengan diiringi Thio Ki, Giam Kin, dan dua orang muridnya yang lain. Tapi terjadi perubahan yang aneh dari wajahnya saat dia makin mendekat. Tadi Hek Gu Gak Liat nampak marah sekali, tapi ketika dia semakin mendekat dan dapat melihat wajah si gadis dengan jelas, Gak Liat tampak kaget lalu tampak girang.

“Pek I Yok Sianli???!!!”, kata Gak Liat dengan agak ragu-ragu.

“Apa kabar Gak Toako? Apa toako baik-baik saja selama ini?”, kata gadis baju putih itu sambil berdiri dan menjura dengan sopan dengan kedua tangan diangkat dan bertemu didepan dada seperti umumnya salam orang dunia kang ouw.

“Ya Tuhan. Benar-benar Pek I Yok Sianli (Dewi obat berbaju putih) yang ada disini ha…ha…ha…. Kenapa inkong (penolong) tak mampir ke rumah kami?”, kata Hek Gu Gak Liat sambil tertawa gembira.

Sementara itu tamu yang lain tampak terkejut dan memandang kagum setelah tahu kalo gadis baju putih itu adalah Pek I Yok Sianli ( Dewi Obat Baju Putih ) yang tekenal itu. Pantas saja ilmu silatnya lihai. Tapi walaupun gadis itu berilmu tinggi tapi bukan kepandaian silatnya yang membuatnya terkenal. Melainkan karena tingginya ilmu pengobatan yang dimiliki gadis itu sampai ia mendapatkan julukan Yok Sianli ( Dewi Obat ). Pek I Yok Sianli sebenarnya bernama Bhok Kim Lian, keturunan dan pewaris satu-satunya dari mendiang Bhok Kun yang berjuluk Bu Eng Yok Sian (Dewa Obat tanpa bayangan), tabib sakti yang sudah terkenal sekali. Selain memiliki kepandaian pengobatan yang seperti dewa, Bu Eng Yok Sian juga seorang yang memilik kepandaian ilmu silat yang tinggi, terutama ginkang (ilmu meringankan tubuh)nya hingga ia juga dijuluki Bu Eng ( tanpa bayangan ). Pantas saja ginkang Pek I Yok Sianli juga istimewa yang membuatnya bisa bergerak sangat cepat.

Pek I Yok Sianli, seperti juga ayahnya, adalah ahli pengobatan yang baik budi. Dia sangat ringan tangan membantu siapa saja dengan ilmu pengobatannya, tak perduli orang kaya atau miskin, orang biasa atau orang kang ouw, golongan putih atau golongan hitam. Pendeknya siapa saja yang datang padanya untuk berobat, Pek I yok Sianli akan selalu menolongnya. Dia tak pernah menarik biaya pengobatan walaupun juga tak menolak bila ada yang memberinya hadiah sebagai ucapan terima kasih.

Dulu, saat Hek Gu Gak Liat belum mendirikan Hek Gu Bukoan dan masih menjadi seorang perampok, pernah dia terluka parah karena hajaran dari seorang pendekar. Kebetulan Gak Liat bertemu dengan Pek I Yok Sianli dan mendapatkan pertolongannya hingga ia bisa selamat dari kematian. Gak Liat merasa sangat berhutang budi pada tabib perempuan yang baik budi itu. Bahkan saat Pek I Yok Sianli menasehatinya agar Gak Liat bertobat dan merobah jalan hidupnya, Gak Liat menurutinya. Dia berhenti menjadi perampok dan membuka Hek Gu Bukoan.

“Jadi Gak Twako (kakak Gak) sudah mendirikan Hek Gu Bukoan (Perguruan Silat Kerbau Hitam)? Wah…Kionghi, Kionghi (selamat). Aku tak tahu jadi tak sempat mampir ke rumah twako untuk memberikan ucapan selamat.”, kata Pek I Yok Sianli sambil tersenyum.

“Ha….ha….ha…itu semua berkat nasihat Sianli. Oh ya, jadi Sianli yang sudah memberi hajaran pada dua orang anak buahku?”, tanya Gak Liat.

“Maafkan aku, twako. Dua orang murid twako bersikap tidak sopan dan menggangguku. Jadi aku terpaksa lancang tangan memberikan sedikit hajaran pada mereka. Maafkan aku, twako.”, kata Pek I Yok Sianli sambil menjura pada Gak Liat. Ini saja sudah menunjukkan betapa gadis itu adalah seorang yang rendah hati. Dia tak bersalah dalam urusan tadi, tapi Pek I Yok Sianli malah meminta maaf pada Gak Liat.

“Ah, aku yang harusnya minta maaf pada Sianli. Dua orang muridku benar-benar tak tahu diri sudah berani mengganggu Sianli. Thio Ki!!! Giam Kin!!! Berlutut kalian!”, kata Gak Liat yang marah pada dua orang muridnya itu.

Thio Ki dan Gak Liat dari tadi sudah merasa was was karena gadis baju putih yang mereka ganggu ternyata Pek I Yok Sianli yang dihormati banyak orang kang Ouw. Bahkan menjadi inkong (penolong) dari guru mereka sendiri. Mereka segera menjatuhkan diri berlutut di hadapan Gak Liat.

“Maafkan Teecu (murid), suhu.”, kata Thio Ki dan Giam Kin sambil berlutut dan membenturkan dahinya di lantai.

“Kalian ini sudah berdosa besar sekali. Kita ini orang dunia persilatan yang biasa hidup di dunia yang keras dan kejam. Tapi ada satu hal yang harus kita ingat. Kita harus menjadi orang yang ingat budi. Karena orang yang tak ingat budi adalah serendah-rendahnya orang. Pek I Yok Sianli pernah menolong suhumu dan menyelamatkannya dari kematian, dan sudah menanam budi yang besar sekali. Kalian ini malah tak tahu diri berani mengganggunya. Sekarang, lekas potong tangan kanan kalian sebagai hukuman.”, kata Gak Liat dengan tegas. Gak Liat memang bukan orang baik-baik, bahkan pernah menjadi perampok. Tapi dia adalah orang yang mengenal budi. Sekali saja dia pernah menerima pertolongan maka dia akan menganggap orang yang menolongnya menjadi sahabat dan siap membelanya sekuat tenaganya.

“Ampunkan teecu, Suhu. Teecu tak tahu kalo dia ini adalah Pek I Yok Sianli yang pernah menolong suhu. Ampunkan teecu suhu.”, kata Thio Ki dan Giam Kin sambil merengek-rengek minta ampun. Gak Liat masih marah. Dia mencabut golok besarnya hingga membuat dua orang itu makin ketakutan.

“Sudahlah twako. Orang yang tak tahu, tak bisa dipersalahkan. Hanya tolong mereka diperingatkan agar tak sembarangan mengganggu orang, apalagi wanita dan anak-anak.”, kata Pek I Yok Sianli pada Gak Liat karena ia merasa kasihan dan tak tega bila dua orang itu harus kehilangan sebuah tangannya.

“Lihat betapa baiknya Sianli ini. Dia sudah kalian ganggu, tapi malah mintakan ampun buat kalian yang hina ini. Memandang muka Sianli, aku tak akan memotong tangan kalian. Tapi kalian harus minta ampun pada Sianli, dan menampar muka kalian sendiri dengan keras sampai 20 kali. Lakukan!.”, perintah Gak Liat. Thio Ki dan Giam Kin segera berlutut minta mapun pada gadis baju putih itu, lalu menampar pipi mereka sendiri keras-keras sampai suaranya terdengar nyaring memenuhi ruangan restoran itu.

“Cukup. Itu sudah 20 kali. Sekarang duduklah bersama saudara-saudara kalian yang lain.”, kata Gak Liat. Thio Ki dan Giam Kin bangkit dengan pipi memar dan ujung bibir berdarah karena tamparan mereka sendiri. Kemudian duduk di meja lain dekat meja yang dipakai Sianli, bergabung dengan saudara seperguruan mereka.

“Ciu wangwe. Sediakan arak yang bagus untuk semua tamu yang ada disini. Hari ini aku akan mentraktir mereka semua untuk menyambut kedatangan Sianli.”, kata Gak Liat dengan keras pada si pemilik restoran yang gendut itu. Teriakannya segera disambut dengan sorakan dan tepuk tangan tamu yang lain yang merasa beruntung mendapatkan suguhan arak gratis. Gak Liat menyoja ke sekeliling ruangan menyambut sorakan itu, kemudian dia duduk bersama dengan Pek I Yok Sianli dan A Liong.

“Oh ya, Sianli kenapa sendirian saja. Mana Can twako?”, tanya Gak Liat pada Pek I Yok Sianli. Yang dimaksud Can twako oleh Gak Liat adalah Can Seng, suami dari Pek I Yok Sianli.

Memang Bhok Kim Lian, gadis baju putih itu, yang memiliki julukan Pek I Yok Sianli, bukanlah gadis lagi dan pernah menikah saat dia masih berusia 17 tahun dengan Can Seng, seorang sastrawan yang tampan dan baik hati. Mereka berdua tinggal di puncak Seribu Bunga yang merupakan salah satu puncak yang indah di pegunungan Thai San. Banyak orang yang datang ke puncak itu untuk meminta pertolongan kepada Pek I Yok Sianli. Bahkan kadang suami istri itu merantau untuk membasmi wabah penyakit yang terjadi di daerah tertentu. Tapi sayang, setahun yang lalu saat mereka merantau, suami istri itu dihadang gerombolan penjahat yang ingin mengganggu Bhok Kim Lian yang nampak makin cantik di usianya yang ke 24. Can Seng yang tidak pandai silat pun tewas di tangan gerombolan perampok itu Walaupun akhirnya Pek I Yok Sianli berhasil membasmi kawanan perampok itu, tapi dia tak bisa menyelamatkan suaminya. Oleh karena itu, Pek I Yok Sianli yang sekarang baru berusia 25 tahun, tapi sudah menjadi janda.

“Ngg…Can twako sudah meninggal.”, kata gadis itu dengan raut wajah sedih teringat suaminya tercinta. A Liong yang mendengarnya jadi merasa kasihan dan simpati pada gadis itu.

“Aaahhh…..maafkan aku Sianli. Aku tak mendengar kabar itu, jadi tak bisa menyampaikan ucapan belasungkawa dan bersembahyang buat arwah Can twako. Maafkan aku Sianli.”, kata Gak Liat yang merasa tak enak.

“Ah, tidak apa-apa. Hal itu sudah lewat. Tak ada yang perlu disedihkan. Hal itu malah membuat arwah suamiku tak bisa tenang di alam sana.”, kata Pek I Yok Sianli.

Sejenak mereka hanya makan dan minum dalam diam karena suasana yang jadi tak enak itu. Tiba-tiba……

“Aagghhhh…….”, jerit Thio Ki di meja sebelah. Si Muka bopeng itu terjatuh dengan badan berkelojotan dan mukanya menghijau. Tampaknya Thio Ki terkena racun yang ganas. Belum sempat Pek I Yok Sianli dan Gak Liat melihat apa yang terjadi dengan Thio Ki, tiba-tiba terdengar jeritan lain. Kali ini dari Giam Kin, yang juga sudah jatuh berkelojotan dengan muka berwarna kehitaman. Dia juga terkena racun tapi racun yang berbeda dengan Thio Ki.

“Aduuhhh…”, kini giliran A Liong yang berteriak dan anak lelaki itu terjatuh dengan wajahh dan kulit tubuhnya bersemu merah.

“Jangan sentuh tubuh mereka sembarangan. Awas racun ganas.”, teriak Pek I Yok Sianli saat Gak Liat akan menolong muridnya yang keracunan. Gak Liat menaati perintah gadis itu karena maklum untuk urusan racun tentu saja gadis itu lebih tahu.

Gak Liat dan Pek I Yok Sianli tadi masih sempat melihat kalo yang merobohkan orang-orang itu adalah serangan jarum beracun yang dilontarkan oleh laki-laki tua yang berpakaian mewah seperti pejabat yang dari tadi hanya diam sambil minum arak di pojokan.

Laki-laki itu kira-kira berusia lebih dari setengah abad. Rambutnya sudah memutih semua. Perawakannya pendek dan bertubuh gendut, hingga tubuhnya tampak seperti bola saja. Kini laki-laki itu berdiri sambil tertawa terkekeh-kekeh. Kulit wajahnya tampak agak kepucatan yang tak normal, menandakan bahwa orang itu memiliki tenaga dalam yang tinggi sekali. Gak Liat tampak kaget setelah mengamati kakek aneh itu dengan seksama. Dia teringat akan salah satu datuk tokoh sesat yang disebut-sebut sebagai datuk nomor satu di daerah barat.

“Aah…maafkan boanpwe kalau tadi tak mengenal Lociampwe Thian Te Tok Ong.”, kata Gak Liat dengan menghormat. Wajahnya menjadi agak jeri dan sedikit gentar setelah mengenal datuk sesat yang berkuasa di daerah barat itu.

“He…he…he…. Matamu cukup awas juga rupanya.”, kata kakek tua itu sambil tertawa-tawa.

Memang tak salah dugaan Gak Liat, kakek aneh yang berpakaian mewah itu memang Thian Te Tok Ong (Raja Racun Langit Bumi), seorang datuk sesak yang menguasai dunia persilatan wilayah barat. Thian Te Tok Ong, sesuai dengan namanya, adalah orang yang sangat pandai tentang racun hingga dijuluki Tok Ong. Selain itu ilmu silatnya sangat tinggi. Kakek itu terkenal berwatak aneh dan kejam. Sekarang saja tanpa sebab apapun dia sudah melukai dua orang lelaki dan seorang anak kecil tanpa alasan yang jelas dengan jarum-jarum beracunnya yang diolesi macam-macam racun yang sangat ganas.

“Apa salah anak buah boanpwe hingga Lociampwe menurunkan tangan kejam pada mereka? Kalo memang Lociampwe menganggap mereka bersalah, biarlah boampwe yang memintakan maaf untuk mereka. Tolong ampuni nyawa mereka dan berikan mereka penawar racunnya.”, kata Gak Liat memohon pada kakek aneh itu. Jelas sekali si Kerbau Hitam itu tampak jerih dan takut terhadap Thian Te Tok Ong yang kejam itu.

“Hhmp, mereka tak bersalah apa-apa. Aku hanya ingin menjadikan mereka sebagai bahan ujian saja. Disini ada Pek I Yok Sianli yang terkenal sekali akan ilmu pengobatannya. Suruh saja dia untuk mengobati mereka. Kalo gadis itu tak mampu menyembuhkan mereka dari tiga macam racunku, suruh saja dia menanggalkan julukan Yok Sianli itu ha..ha..ha…”, tantang Thian Te Tok Ong. Belum juga habis kata-katanya, kakek aneh yang sangat kejam itu telah lenyap dari rumah makan itu dengan kepandaiannya yang tinggi. Rupanya Thian Te Tok Ong jadi gatal tangannya saat mengetahui kalo gadis itu adalah Pek I Yok Sianli, satu-satunya pewaris Bu Eng Yok Sian, hingga kakek itu menantangnya bertanding racun. Dia sengaja melukai tiga orang itu dan menantang gadis baju putih itu untuk menyembuhkan mereka. Benar-benar orang yang sangat kejam.

“Celaka. Aah… Sianli, tolonglah mereka.”, mohon Gak Liat. Sebenarnya itu hal yang tak perlu dilakukan karena Pek I Yok Sianli sudah mulai memeriksa ketiga korban yang terkena racun. Setelah memeriksa dan mengetahui kalo racun itu tak akan menular melalui sentuhan kulit, maka gadis itu memerintahkan Gak Liat dan anak buahnya yang tak diserang oleh Thian Te Tok Ong agar memindahkan tiga korban itu agar dibaringkan di lantai rumah makan dengan berjejer supaya ia bisa mengobatinya sekaligus. Gadis itu juga menyuruh agar pakaian bagian atas dari tiga orang itu dibuka.

Ketiga orang itu ternyata terluka masing-masing oleh sebatang jarum beracun. Thio Ki terkena pada pundaknya, Giam Kin di punggung, dan A Liong terkena di leher. Pek I Yok Sianli mengambil sebuah batu hitam dari buntalan pakaiannya. Gadis itu lalu menempelkan batu itu ke luka di pundak Thio Ki. Perlahan jarum beracun yang tertanam di pundak si muka bopeng itu keluar dengan sendirinya. Rupanya batu hitam itu adalah batu magnet sehingga bisa menarik jarum yang tertanam di dalam kulit. Kemudian gadis itu mengambil sapu tangan lalu mengambil jarum itu dengan sapu tangannya. Jarum itu dibawanya ke depan hidungnya hingga ia bisa mencium baunya. Kemudian diperiksanya nadi Thio Ki dengan menempelkan jarinya ke pergelangan tangan Thio Ki.

“Hhmm… racun hijau yang sangat ganas. Racun ini dibuat dari tanaman beracun yang hanya terdapat di pegunungan Himalaya. Racun ini bersifat dingin dan bisa membuat darah dalam tubuh menjadi membeku.”, kata Pek I Yok Sianli. Gak Liat dan orang-orang yang melihat cara Pek I Yok Sianli menangani korban menjadi kagum. Gadis itu bisa langsung mengetahui jenis racun hanya dengan mencium bahunya dan memeriksa nadi korbannya.

Pek I Yok Sianli meninggalkan Thio Ki untuk memeriksa korban yang lain. Dia melakukan proses yang sama seperti waktu memeriksa Thio Ki tadi. Ternyata Giam Kin terluka oleh jarum yang mengandung racun bersifat panas hingga membuat tubuhnya menghitam. Racun itu berasal dari Hek Tok Coa (Ular racun Hitam) yang sangat beracun dan biasanya terdapat di daerah gurun pasir.

Sementara itu A Liong juga terkena racun bersifat panas, walaupun jenisnya berbeda dengan yang menyerang Giam Kin. Racun yang menyerang A Liong berasal dari Katak Merah yang hidup di daerah Tibet. Hal ini saja menunjukkan betaapa lihainya ilmu racun dari Thian Te Tok Ong. Kakek yang aneh dan kejam itu bisa menyerang orang dengan tiga racun berbeda yang berasal dari hewan-hewan dan tanaman beracun yang sangat langka dan berasal dari tempat-tempat yang berbeda.

Pek I Yok Sianli menyuruh agar tubuh ketiga korban itu didudukkan dengan menghadap arah yang sama dan berjejer. Gadis baju putih itu lalu mengeluarkan seperangkat jarum yang terbuat dari perak dan besarnya kira-kira satu jengkal. Dia mengeluarkan bungkusan yang berisi botol-botol obat. Kemudian dia memilih satu diantaranya dan mengoleskan ke beberapa jarum. Kemudian dia memilih satu botol obat lagi dan mengoleskan ke beberapa jarum yang lain. Gadis itu melakukan perbuatannya sekali lagi hingga kini di atas sebuah meja telah terdapat 3 set jarum yang dilumuri tiga macam obat yang berbeda.

Pek I Yok Sianli kemudian berdiri kira-kira 3 langkah di belakang ketiga korban. Punggung korban menghadapa padanya. Di sampingnya terdapat sebuah meja yang diatasnya terdapat 3 set jarum perak yang sudah disiapkannya tadi. Gadis itu memasang kuda-kuda dan mengambil nafas dalam-dalam mengumpulkan tenaga murninya.

“Hiaaattt!!!!”, tiba-tiba gadis yang mahir ilmu pengobatan itu bergerak dengan kecepatan tinggi. Di tangannya tergenggam sebuah jarum yang diambilnya dari atas meja, kemudian dengan gerakan seperti orang bersilat, gadis itu lalu menusukkan jarumnya ke titik jalan darah di punggung Thio Ki. Setelah itu, gadis itu melayang kembali ke meja dan mengambil sebuah jarum lagi lalu menusukkannya lagi ke jalan darah yang lain pada tubuh Thio Ki. Dia mengulangi pebuatannya beberapa kali.

Orang-orang yang ada di restoran itu dan menyaksikan cara pengobatan dengan tusuk jarum yang dilakukan Pek I Yok Sianli terbelalak kagum dan juga agak heran dengan cara pengobatan yang aneh itu. Gadis itu menancapkan setiap batang jarum dengan cara seperti orang bersilat dan juga dengan pengerahan tenaga dalam yang tinggi. Bahkan kadang gadis itu juga menyambitkan jarumnya agar menancap di jalan darah yang ditujunya.

Setelah selesai menghbiskan satu set jarum untuk mengobati Thio Ki, Pek I Yok Sianli diam sejenak mengatur nafasnya. Tampaknya pengobatan ini membutuhkan pengerahan tenaga dalam yang cukup tinggi dan melelahkan. Setelah tenaganya agak pulih dia mengulangi perbuatannya, kali ini untuk mengobati Giam Kin. Sianli menggunakan set jarum yang lain yang dilumuri obat yang lain pula. Setelah selesai mengobati Giam Kin, Giliran A Liong yang mendapatkan pengobatan dengan tusuk jarum yang aneh tadi.

“Ugghh….”, keluh Pek I Yok Sianli yang merasa lelah setelah melakukan jurus tusuk jarum yang aneh tadi untuk tiga orang. Gadis baju putih yang cantik itu lalu duduk bersila dengan tangan bersedekap didepan dada. Tampaknya gadis itu bersamadhi untuk mengumpulkan tenaga dalamnya yang terkuras karena pengobatan yang dilakukannya.

Semua orang tampak tegang setelah menyaksikan cara pengobatan yang luar biasa itu. Tapi beberapa menit kemudian, tampak ada perubahan yang terjadi pada ketiga korban itu. Lambat laun warna kulit mereka yang berubah karena racun makin memudar sampai akhirnya kembali lagi ke warna kulit mereka semula. Melihat warna kulit mereka sudah kembali normal, Pek I Yok Sianli mulai mencabuti jarum peraknya yang menancap di tubuh ketiga korban itu.

Kemudian dengan hampir berbarengan ketiga korban itu mulai siuman setelah beberapa menit kemudian.

“Uuggh…apa yang terjadi?”, tanya Thio Ki dengan lemah. Giam Kin dan A Liong pun mulai sadar juga.

“Hhhmm…, kalian semua baru saja selamat dari ancaman maut. Tadi kalian terluka oleh jarum beracun yang sangat berbahaya dari Thian Te Tok Ong. Untung saja disini ada Pek I Yok Sianli yang menolong nyawa kalian yang ada di ujung tanduk.”, jelas Gak Liat.

Thio Ki dan Giam Kin merasa malu pada diri mereka sendiri. Tadi mereka sudah tak tahu diri mengganggu gadis itu. Dan sekarang gadis itu tak mendendam pada mereka malah mengobati mereka dari ancaman maut.

“Terima kasih, Cici. Aku, A Liong, sudah berhutang budi pada Cici, dan berjanji akan membalasnya suatu saat nanti.”, kata A Liong tiba-tiba sambil berlutut di depan Pek I Yok Sianli. Semua orang memandang kagum pada A Liong yang masih kecil itu tapi sudah tahu bagaimana berprilaku yang baik.

“Ka..kami juga berterima kasih, Sianli. Dan kami sekali lagi minta maaf dan sangat menyesal telah berani mengganggu Sianli yang berbudi mulia.”, kata Thio Ki dan Giam Kin hampir berbarengan. Mereka berdua berlutut di depan Pek I Yok Sianli sambil membenturkan dahi mereka keras-keras. Tampaknya kali ini, mereka berdua benar-benar menyesali perbuatan mereka tadi. Mereka merasa malu dengan gadis itu yang bukan saja tak mendendam, tapi malah dengan ikhlas mengobati mereka dari ancaman maut.

Pek I Yok Sianli menyuruh anak buah Gak Liat yang tak terkena serangan Thian Te Tok Ong untuk membeli bahan-bahan obat untuk ketiga korban yang dia tuliskan di selembar kertas untuk pengobatan lebih lanjut ketiga orang itu. Setelah itu mereka kembali makan dan minum sambil membicarakan kemunculan Thian Te Tok Ong yang membuat heboh itu.

“Wah, tampaknya perebutan anak naga kali ini bakalan ramai. Thian Te Tok Ong sampai ikut muncul disini. Ini berarti dia juga tertarik dengan kemunculan anak naga yang diperkirakan akan muncul purnama malam ini. Dan kalo satu datuk sudah muncul, pasti yang lainnya akan muncul juga.”, kata Gak Liat.

“Anak Naga??”, kata Sianli yang merasa heran dengan perkataan Gak Liat.

“Jadi Sianli belum tahu kalo malam ini di telaga See Ow akan terjadi perebutan anak naga?”, tanya Hek Gu Gak Liat. Pek I Yok Sianli menggelengkan kepalanya. Sementara A Liong mendengarkan dengan hati yang sangat tertarik.

“Begini Sianli. Berdasarkan cerita yang diceritakan secara turun menurun, di telaga See Ouw ini jauh di dasar yang paling dalam hiduplah seekor naga. Naga itu hanya muncul setiap 200 tahun sekali pada purnama yang ketujuh. Naga itu muncul ke permukaan untuk membawa anaknya untuk mandi cahaya bulan purnama. Nah, anak naga inilah yang menjadi perebutan para kaum kang ouw sejak dulu. Darah dan daging anak naga itu mempunyai khasiat yang luar biasa. Konon dapat membuta tenaga dalam menjadi sangat hebat, setara dengan hasil latihan 50 tahun dengan tekun. Konon juga bisa dijadikan obat awet muda yang sangat manjur. Dan masih banyak lagi khasiat lainnya.”, cerita Gak Liat. Pek I Yok Sianli pernah mendengar mitos itu dan gadis cantik yang mempunyai ilmu pengobatan tinggi itu maklum bahwa memang ada hewan-hewan langka yang memiliki khasiat yang luar biasa. Walaupun dalam hati, Pek I Yok Sianli menyangsikan kalo makhluk yang menjadi mitos itu adalah seekor naga betulan. Mungkin hanya seekor ular yang sangat besar dan langka, dan mungkin saja khasiat darah dan dagingnya memang luar biasa. Sementara itu, A Liong mendengarkan cerita itu dengan mata terbelalak dan mulut menganga saking tertariknya.

“Oh ya. Tadi twako bilang kalo Thian Te Tok Ong sudah muncul, maka datuk yang lain pasti akan bermunculan juga. Siapa sajakan datuk yang lain itu twako? Apakah mereka juga sekejam dan selihai Thian Te Tok Ong?”, tanya Sianli.

Hek Gu Gak Liat lalu mulai menceritakan keadaan kang ouw yang sekarang ini sepanjang yang ia tahu. Memang pria botak yang tinggi besar itu memiliki pengetahuan yang cukup luas tentang keadaan dan seluk beluk dunia kang ouw. Dunia kang ouw pada umumnya terbagi dalam dua golongan, yaitu golongan putih dan golongan hitam. Tentu saja yang menyebut diri mereka golongan putih adalah para pendekar, sedangkan golongan hitam adalah tokoh sesat. Yang paling tinggi ilmunya dan yang menguasai golongan hitam sekarang ini adalah empat datuk yang disebut sebagai Bu Tek Su Kwi (Empat Iblis Tanpa Tanding). Mereka adalah Thian Te Tok Ong (Raja Racun Langit Bumi) yang menguasai wilayah barat, Tung Hai Kiam Ong (Raja Pedang Lautan Timur) yang menguasai wilayah Timur, Sin Ciang Kai Ong (Raja Pengemis Tangan Sakti) Yang menguasai wilayah selatan, dan Pak San Moli (Iblis Betina Gunung Utara) yang menguasai daerah utara. Empat orang inilah yang bpoleh dibilang sebagai orang yang menguasai golongan hitam saat ini. Walaupun tentu saja masih ada tokoh aneh lainnya yang juga memiliki kepandaian tinggi. Tapi kebanyakan mereka menyembunyikan diri sehingga namanya tak melambung seperti Bu Tek Su Kwi.

Gak Liat banyak bercerita tentang tokoh-tokoh dunia persilatan yang lain yang didengarkan A Liong dengan sinar mata yang berbinar-binar dan kelihatan tertarik. Gak Liat mengatakan bahwa sebagian besar dari tokoh-tokoh itu akan berkumpul di telaga See Ouw ini malam nanti karena hebohnya perebutan anak naga yang mukjizat itu.

Setelah selesai makan dan minum, Gak Liat mengajak Pek I Yok Sianli untuk mampir kerumahnya, menanti datangnya malam sambil beristirahat, sebelum nanti ikut melihat keramaian perebutan anak naga. Kalo mungkin dan ada kesempatan juga ikut mengincar anak naga yang mukjizat itu. A Liong berpamit pada Pek I Yok Sianli sambil mengucapkan terima kasih sekali lagi.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

Rumah Bunga Merah adalah sebuah rumah pelesiran yang paling besar dan paling terkenal di kota Bun An. Bangunannya yang bertingkat tiga, besar serta mewah terletak tak jauh dari telaga See Ouw membuat para pengunjungnya bisa menikmati pemandangan indah telaga See Ouw dari rumah pelesiran itu. Tapi yang membuat Rumah Bunga Merah menjadi terkenal adalah wanita-wanita penghibur yang menghuni rumah pelesiran itu. Wanita-wanita penghibur Rumah Bunga Merah rata-rata masih berusia muda dan cantik-cantik. Apalagi rata-rata dari mereka selalu memiliki ketrampilan lain yang mendukung profesi mereka sebagai wanita penghibur. Ada yang pandai menari, ada yang pandai menyanyi, membaca puisi, bermain alat musik, seperti yangkim, kecapi maupun suling. Hal inilah yang membuat Rumah Bunga Merah selalu laris manis dan menjadi pilihan laki-laki yang ingin mencari hiburan. Para lelaki itu bisa minta ditemani wanita-wanita penghibur yang cantik itu di Rumah Bunga Merah ataupun bisa membawa mereka keluar untuk melancong dengan perahu di telaga See Ouw. Banyak hartawan maupun para pejabat yang suka bertamasya dengan perahu menikmati pemandangan malam di telaga See Ouw dengan ditemani wanita penghibur yang cantik dari rumah Bunga merah.

Matahari baru saja tenggelam tapi Rumah Bunga Merah tampak sudah ramai dengan pengunjung. Para pengunjung terlihat bergembira ditemani wanita-wanita penghibur pilihannya dalam sebuah ruangan yang luas di lantai satu, ataupun di halaman belakang yang menghadap telaga See Ouw dan bercengkrama di pendopo-pendopo kecil yang tertata indah di taman belakang itu. Mereka bergembira sambil minum arak serta makan sambil ditemani tarian, nyanyian maupun musik yang dimainkan oleh wanita-wanita penghibur yang cantik dan berusia muda. Ada juga yang sudah tak bisa menahan nafsunya, dan mulai mengajak wanita penghibur yang mereka sewa, memasuki kamar-kamar di lantai dua yang memang disediakan sebagai tempat melampiaskan nafsu birahi mereka.

Sedangkan lantai tiga digunakan sebagai tempat tinggal para wanita penghibur dan juga sebagai tempat bersiap-siap dan tempat merias diri bagi wanita-wanita penghibur sebelum menemani para tamu. Di lantai tiga itu terdapat beberapa orang wanita penghibur yang harus merias diri lagi setelah membersihkan diri dan bersiap menemani tamu yang lain lagi.

Di dalam sebuah kamar di lantai 3 itu, ada seorang wanita cantik yang sedang duduk merias diri sambil menghadap sebuah meja dengan cermin besar dihadapannya. Wajahnya cantik manis dengan hidung mancung dan bibir penuh yang berwarna merah karena sudah diberi gincu yang tampak menggoda dengan senyum yang genit memikat. Kulit putih mulus membalut tubuhnya yang ramping dan indah yang masih dalam keadaan setengah telanjang karena wanita itu hanya mengenakan penutup dada dan celana dalam berwarna merah menyala. Penutup dada (bra) di jaman ini masih berupa sehelai kain yang dilampirkan begitu saja diatas payudara seorang wanita hingga menutupi bagian dada dan perut bagian atas. Kemudian di setiap ujung kain itu ada empat helai tali. Dua helai tali bagian atas diikat melingkar dan mengalung pada leher, sedangkan dua helai tali bagian bawah diikat melingkar di punggung. Umumnya kain penutup dada yang digunakan para wanita dijaman itu agak tebal agar putting payudara mereka tak membayang dari pakaian luar mereka, dan juga agar saat mereka bergerak payudara mereka tak kelihatan bergoyang atau bergerak-gerak. Tapi wanita cantik yang berada dalam kamar itu hanya mengenakan kain penutup dada dengan bahan tipis yang menerawang hingga bulatan bukit payudaranya yang cukup montok itu terlihat jelas, begitu juga dengan putingnya yang mengacung dan membekas pada kain penutup dada itu. Begitu juga dengan celana dalamnya yang juga terbuat dari kain tipis berwarna merah menerawang. Orang masih bisa melihat dengan samar warna hitam bulu kemaluannya.

Wanita itu bernama Ciu Hwa. Usianya kira-kira baru 20 tahun, tapi Ciu Hwa termasuk senior disini karena wanita itu sudah bekerja menjadi wanita penghibur di rumah Bunga Merah ini sejak dia berusia 16 tahun. Dulu Ciu Hwa bekerja sebagai seorang pelayan di rumah seorang hartawan di daerah Secuan. Dia bekerja dirumah hartawan itu sejak berumur 11 tahun. Ciu Hwa harus bekerja mulai dari dia kecil karena orangtuanya miskin. Tapi nasib malang menimpa Ciu Hwa saat gadis itu berusia 15 tahun. Sejak kecil, memang sudah tampak cantik dan manis. Setelah dia berusia 15 tahun, Ciu Hwa sudah menjadi seorang gadis remaja yang semakin menonjol kecantikannya. (di masa itu, umumnya seorang gadis menikah pada umur 17 tahun. Jadi usia 15 boleh dibilang seperti bunga yang baru mulai mekar menggoda)

Kecantikan Ciu Hwa inilah yang mendatangkan nasib malang bagi Ciu Hwa. Song wangwe, majikan lelaki Ciu Hwa yang sudah berumur 50 tahun adalah seorang lelaki yang mata keranjang. Walaupun Song wangwe sudah mempunyai seorang isteri dan 4 orang selir tapi laki-laki itu tetap saja meneteskan liur saat melihat tubuh ramping Ciu Hwa yang sudah memperlihatkan lekuk indah gadis yang beranjak dewasa. Dan pada suatu malam, Song wangwe pun merenggut kehormatan Ciu Hwa dengan paksa. Ciu Hwa yang masih berusia 15 tahun kala itu, hanya bisa menangis dalam diam dan menggigit bibirnya menahan perih pada vaginanya saat ****** Song wangwe meneroobos masuk dan merobek selaput daranya. Kemudian ****** itu terus bergerak keluar masuk dengan liar dalam vagina Ciu Hwa membuat gadis remaja yang belum terbiasa itu hanya bisa merintih kesakitan. Ciu Hwa pun harus menahan jijik saat wajah Song wangwe yang sudah tua dengan tampang yang jauh dari ganteng itu merangsek ke wajahnya dan bibir Song wangwe menciumi bibir gadis itu dengan paksa. Payudaranya yang sudah mulai nampak montok itu pun diremas-remas dengan kasar oleh kedua tangan Song wangwe. Peristiwa itu terjadi hanya beberapa menit saja dan berakhir saat Ciu Hwa merasakan ****** Song wangwe menyemprotkan semacam cairan kental dalam liang vaginanya. Kemudian Song wangwe pun meninggalkan Ciu Hwa dalam kamar dalam keadaan masih terbaring telanjang dan menangis.

Ciu Hwa tak berani menceritakan kejadian itu pada siapapun karena Song wangwe mengancam akan membunuhnya. Malam esoknya Song wangwe mengulangi perbuatannya itu dan sejak saat itu Ciu Hwa pun sering dipaksa melayani nafsu bejat hartawan yang berusia setengah abad itu.

Lambat laun Ciu Hwa mulai terbiasa dengan perlakuan Song wangwe. Bahkan gadis remaja itu mulai menikmati perbuatan Song wangwe terhadap dirinya. Maklum, Ciu Hwa kala itu masih berusia 15 tahun dan kalah jauh dalam pengalaman oleh Song wangwe yang mata keranjang dan doyan main perempuan hingga akhirnya gadis itu pun terbuai juga oleh kenikmatan birahi. Ciu Hwa tak lagi merasa jijik saat bibir Song wangwe menciumi bibirnya, bahkan lidah gadis itu pun menyambut lidah Song wangwe yang menerobos masuk ke dalam mulutnya. Payudaranya makin mengeras dan putingnya mengacung makin tegak di kala tangan Song wangwe meremas-remas bukitnya dan jemarinya memilin dan mempermainkan putingnya. Vaginanya mulai terbiasa dengan kehadiran ****** Song wangwe yang kini bahkan dirasanya memberikan kenikmatan yang membuat gadis itu terlena. Apalagi sejak saat itu Song wangewe menjadi begitu royal terhadapnya dan sering memberi Ciu Hwa uang dan perhiasan.

Ciu Hwa dan Song wangwe berusaha menyembunyikan hubungan mereka dari semua orang. Tapi ibarat sepotong bangkai yang disimpan, lama-lama pasti tercium juga busuknya. Selang satu tahun hubungan Ciu Hwa dan Song wangwe, pada suatu malam perbuatan mereka itu pun dipergoki oleh Song hujin (nyonya Song), istri pertama song wangwe.

Awalnya Song wangwe ingin mengangkat Cui Hwa menjadi salah satu selirnya. Tapi hal itu membuat selir-selir Song wangwe menjadi iri hati dan juga kuatir dengan kedudukan mereka karena kecantikan Ciu Hwa yang menonjol yang pasti akan membuat perhatian Song wangwe pada mereka akan berkurang. Oleh karena itu, mereka membakar hati Song Hujin agar menyingkirkan Cui Hwa untuk menjaga nama baik keluarga Song. Song Hujin pun terbujuk dan meminta suaminya agar mengurungkan niatnya menjadikan Ciu Hwa seorang selir.

Pengaruh Song Hujin pada Song wangwe sangat besar karena wanita setengah baya itu adalah istri pertamanya. Apalagi Song Hujin mengajukan alasan yang kuat. Latar belakang dan derajat Ciu Hwa yang seorang pembantu dianggap bisa merusak nama baik keluarga mereka. Apalagi kemungkinan akan terbukanya perbuatan bejat Song wangwe di masyarakat.

Akhirnya diambil keputusan kalau Ciu Hwa harus pergi dari rumah itu, bahkan harus mengungsi ke kota lain agar peristiwa ini tak didengar telinga para tetangga. Song wangwe memberi Ciu Hwa uang yang banyak, cukup untuk membuka usaha kecil-kecilan di tempat lain. Ciu Hwa merasa sedih karena gadis remaja itu lambat laun merasa sayang pada Song wangwe yang berlaku sangat baik dan mesra kepadanya. Ciu Hwa yang berumur 16 tahun itu sudah menganggap Song wangwe yang berusia jauh lebih tua darinya itu sebagai suaminya sendiri. Tapi Ciu Hwa tahu diri, derajatnya tak sepadan dengan keluarga Song, dia hanya seorang pembantu. Ciu Hwa pun menurut saat Song wangwe menyuruh Liu Pa, salah satu orang kepercayaannya, untuk mengantar Ciu Hwa ke kota lain yang jauh dari kota tempat tinggal keluarga Song.

Liu Pa adalah seorang lelaki yang bertubuh tinggi besar berumur sekitar 30 tahunan. Wajahnya sebenarnya tidaklah tampan, tapi perawakannya yang tinggi besar dengan brewok dan kumis yang tertata rapi membuatnya tampak cukup gagah. Liu Pa juga seorang lelaki yang mata keranjang seperti majikannya. Walaupun Liu Pa tak mempunyai istri tapi dia cukup dikenal di rumah-rumah pelesiran di kota tempat tinggalnya. Liu Pa sebenarnya sudah mengincar Ciu Hwa sejak dulu. Matanya yang berpengalaman segera tahu kalo Ciu Hwa kecil akan tumbuh menjadi setangkai kembang yang semerbak harum dan indah. Tapi sebelum Liu Pa berhasil memetik kembang itu, dia sudah keduluan oleh Song wangwe. Liu Pa pun tak berani mengganggu Ciu Hwa yang menjadi kesayangan Song wangwe. Tapi sekarang kesempatan itu terbuka. Ciu Hwa tak lagi menjadi milik Song wangwe, dan gadis itu juga mempunyai banyak uang dan perhiasan berharga dari Song wangwe, maka Liu Pa pun mengincar Ciu Hwa.

Sepanjang perjalanan Liu Pa selalu merayu dan membujuk Ciu Hwa. Kondisi Ciu Hwa yang sedang rapuh, dan juga dari segi fisik Liu Pa jauh lebih menang dari Song wangwe yang sudah tua. Tutur kata yang manis dan merayu dari Liu Pa yang lebih berpengalaman membuat gadis remaja segera tunduk dalam waktu yang tak lama.

Di dalam sebuah hutan, berbaring di sehelai kain yang dihamparkan pada rerumputan yang hijau, ditemani kicau burung yang merdu, Ciu Hwa pun hanya bisa mendesah dan menjerit nikmat saat Liu Pa berhasil membujuknya untuk melakukan hubungan suami istri walaupun mereka belum menikah. Liu Pa bagaikan membuka dunia kenikmatan yang baru bagi Ciu Hwa. ****** Liu Pa yang lebih besar dari Song wangwe lebih terasa nikmat mengaduk memeknya. Stamina Liu Pa yang lebih kuat dari Song wangwe membuat Ciu Hwa selalu bisa merasakan puncak kenikmatannya setiap kali mereka berhubungan badan. Bahkan terkadang bisa lebih dari satu kali. Sementara dulu, Song wangwe hanya kadang-kadang saja bisa memberikan Ciu Hwa puncak kenikmatan itu.

Mereka berdua pun melanjutkan perjalanan sambil memadu kasih dan bersenang-senag dengan harta yang dibawa Ciu Hwa. Liu Pa benar-benar merasa beruntung. Dia bisa bersenang-senang dengan harta Ciu Hwa dan juga bisa menikmati tubuh indah gadis remaja yang cantik itu. Walaupun Ciu Hwa sudah tak perawan tapi tubuh indahnya masih menjanjikan berjuta kenikmatan dan memeknya masih terasa enak jepitannya di ****** Liu Pa.

Saat mereka tiba di kota Bun An, mereka tertarik dengan keindahan telaga See Ouw, lalu memutuskan untuk tinggal disana. Ciu Hwa menyewa sebuah rumah dan membuka usaha kedai tahu kecil-kecilan. Ciu Hwa pun merasa berbahagia hidup disini bersama Liu Pa yang diakunya sebagai suami walaupun mereka tak menikah.

Tapi kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Baru dua bulan mereka berdua hidup bersama, penyakit Liu Pa kambuh lagi. Laki-laki itu tak memperdulikan lagi Ciu Hwa, kerjanya hanya bersenang-senang di rumah judi ataupun di rumah pelesiran. Saat Ciu Hwa mencoba mengingatkannya, Liu Pa malah mencaci, bahkan kadang memukulnya. Dalam waktu sebentar saja semua harta benda Ciu Hwa ludes dihamburkan oleh Liu Pa. Kedai tahunya pun bangkrut. Akhirnya Liu Pa bahkan tega menjual Ciu Hwa di rumah Bunga Merah untuk menjadi pelacur. Ciu Hwa tak mampu melawan dan akhirnya hanya bisa pasrah menerima nasibnya. Liu Pa pun meninggalkan kota Bun An dan kembali ke kota asalnya sambil membawa uang hasil penjualan Ciu Hwa yang cukup besar karena Ciu Hwa cukup cantik dan indah tubuhnya.

Sejak hari itu Ciu Hwa pun bekerja sebagai pelacur di rumah Bunga Merah. Kecantikannya segera membuat Ciu Hwa menjadi kembang rumah pelesiran itu. Apalagi Ciu Hwa juga pandai menyanyi, menari, dan bermain musik karena gadis itu belajar ketrampilan cukup banyak saat masih menjadi pelayan Song wangwe.

Kini Ciu Hwa sudah bekerja di rumah pelesiran Bunga Merah selama hampir empat tahun. Di umurnya yang ke 20 ini, Ciu Hwa makin memancar kecantikannya, dan tubuhnya bahkan menjadi lebih indah dan padat berisi, penuh lekuk seorang wanita yang sudah matang. Sekarang Ciu Hwa sedang menyanggul rambutnya yang hitam panjang itu di depan sebuah meja rias.

“A Liong, tolong ambilkan ramuan bunga mawar yang ada dalam botol sebelah sana.”, kata Ciu Hwa sambil menoleh ke arah pintu kamarnya yang tertutup. Ternyata disana berdiri seorang bocah lelaki yang berumur kira-kira 12 tahun. Bocah lelaki itu bertubuh tegap dan kuat, wajahnya tampan dengan alis tebal, mata yang bersinar riang gembira dan mulutnya selalu tersenyum jenaka. Bocah itu adalah A Liong, anak lelaki yang tadi siang sempat terlibat dengan keributan yang terjadi di rumah makan. Bagaimana bocah itu sekarang bisa ada di sini? Di tempat yang sama sekali tak pantas buat anak sekecil dia.

A Liong memang tinggal di rumah Bunga Merah ini. A Liong merupakan bocah yang bernasib malang. Dia tak ingat siapa orang tuanya, dan dia juga lupa segala hal tentang kehidupannya. Yang dia ingat hanyalah dulu dia sering dipanggil A Liong. She-nya ( nama keluarga ) pun dia tak ingat. Hanya namanya, yaitu Liong. Orang di jama ini memang sering menambahi huruf a di depan nama untuk memanggil orang yang lebih muda tanpa menyebutkan she-nya. Oleh karena itu ia di panggil A Liong. A Liong hanya ingat kehidupannya dimulai dari saat dua tahun yang lalu, saat dia diselamatkan para nelayan dari sungai yang meluap karena banjir. A Liong pun berkelana sendirian, tak tentu arah. Hingga suatu saat dia tiba di kota Bun An. Ciu Hwa tertarik melihat A Liong saat melihat anak itu mencari pekerjaan di rumah makan untuk mendapatkan sedikit makanan. Anak sekecil itu dan dalam penderitaan karena belum makan seharian, tapi tak mau mengemis melainkan meminta pekerjaan pada pemilik rumah makan. Entah kenapa, Ciu Hwa menjadi kasihan pada A Liong. Dia pun mengajak A Liong tinggal di rumah bunga merah sejak saat itu. A Liong bekerja sebagai kacung di rumah pelesiran itu. Menjalankan perintah yang diberikan oleh para wanita penghibur maupun penilik rumah pelesiran itu. Anak itu pun rajin sekali dan sikapnya ternyata lucu dan ramah, membuat seluruh penghuni Rumah Bunga Merah menjadi suka kepadanya.

Semua orang bisa melihat bahwa A Liong dulunya pasti anak dari keluarga yang berada. Anak itu bisa baca dan tulis dengan baik sekali, dan bisa berlaku sopan dan tahu tata krama serta bersikap menyenangkan, tanda bahwa dia pernah menerima pendidikan cukup baik. Tapi tinggal di rumah pelesiran ternyata membawa pengaruh buat anak itu. A Liong tumbuh menjadi seorang anak yang dewasa sebelum waktunya, setidaknya anak itu jadi tahu hal-hal yang tak pantas bagi anak sekecil dia. Sifat romantis dan suka mengagumi kecantikan seorang wanita tumbuh dalam diri A Liong. A Liong tak asing dengan masalah seks walaupun dia masih perjaka. Bahkan anak itu suka sekali mengintip saat wanita-wanita penghuni rumah Bunga Merah bekerja menemani tamu di ranjang. Dia juga suka menanti perintah dari wanita-wanita penghibur yang sedang bersiap merias diri seperti Ciu Hwa saat ini.

A Liong segera bergegas mengambil sebuah botol berwarna hijau yang ada di lemari dalam kamar itu. Lalu dia pun segera menghampiri Ciu Hwa.

“Hwa cici, mau pakai ramuan bunga mawar ini kan? Biar aku yang melakukannya kan?”, kata A Liong dengan wajah memohon yang tampak lucu. Ciu Hwa tersenyum mendengar permintaan A Liong.

“Kamu ini ya? Kecil-kecil tapi mata keranjangnya minta ampun deh.”, kata Cui Hwa sambil tertawa. Sebenarnya kalo yang mengucapkan permintaan itu bukanlah A Liong, Ciu Hwa pasti akan marah. Ramuan Bunga Mawar itu adalah semacam wangi-wangian yang sering digunakan para wanita agar bau tubuhnya menjadi harum. Pemakaiannya dioleskan di tubuh. Namun karena harganya yang cukup mahal maka umumnya hanya dioleskan di tempat-tempat tertentu yang sering dicium oleh pria, seperti di dahi, leher, bahu, dada, dan perut. Ciu Hwa tak menjadi marah pada A Liong karena dia masih anak kecil. Gadis cantik itu hanya geleng-geleng kepala karena maklum kalo maksud A Liong membantunya cuma agar ia dapat melihat tubuh telanjang Ciu Hwa dan sedikit merabanya.

Ciu Hwa lalu melepas kain penutup dadanya, hingga payudaranya yang montok dan berbentuk bulat indah itu pun terpampang di depan A Liong yang sekarang tersenyum cengar-cengir. Payudara itu tampak kencang dan dibalut kulit yang putih mulus dengan putting payudaranya yang berwarna coklat muda tampak mengacung menggoda.

“Ayo, cepat kamu oleskan ramuan itu, cici sebentar lagi harus menemani Thio kongcu dari kota raja.”, kata Ciu Hwa.

A Liong pun segera menuangkan sedikit ramuan itu ke ujung jarinya lalu di oleskannya ke dahi dan pipi Ciu Hwa. Kemudian A Liong menuangkan lagi untuk digunakan pada bahu dan leher jenjang Ciu Hwa yang tampak sexy dan membuat para lelaki ingin menciumnya. Kemudian A Liong tersenyum lebar karena sekarang saatnya untuk bagian yan paling favorit buatnya. Si kecil mesum itu mulai mengoleskan ramuan itu pada dada Ciu Hwa, dimulai dari bagian tengah menuju lembah yang diapit dua bukit indah.

“Hhhmm….”, desah Ciu Hwa lirih saat merasakan jemari Aliong terus merayap didadanya dengan sentuhan yang agak mengambang. Melingkari bukit payudaranya, perlahan, terus memutar menuju puncak. Tapi jemari itu berhenti saat akan mencapai putting payudaranya, lalu berpindah ke bukit yang sebelah dan melakukan hal yang sama. A Liong melakukan hal itu selama beberapa kali walaupun sebenarnya tak perlu. Ramuan yang menempel di jarinya sudah habis, tapi si kecil itu masih tak berhenti.

“Ssstt…aughh….”, desis Ciu Hwa saat jemari kecil A Liong kini meremas lembut payudaranya dan melakukan pijitan yang membuat gadis itu merasa nikmat dan nyaman. Ciu Hwa juga merasakan sesuatu yang basah dan hangat merayap di putingnya. Saat Ciu Hwa melihat ke arah sana, dilihatnya A Liong sudah menjulurkan lidahnya menjilati putting payudara Ciu Hwa sambil tangannya meremas gundukan bukit montok di dada Ciu Hwa. Tapi sebelum Ciu Hwa sempat menghardiknya, tiba-tiba saja A Liong menghisap kuat putting payudaranya hingga gadis itu pun memekik.

“Hayo, mulai nakal ya. Awas, kujewer telinga kamu.”, kata Ciu hwa dengan gemas sambil jemarinya menjewer kuping A Liong.

“Aduh..duuh….ampun, Ci. Nggak lagi deh. Biar A Liong terusin lagi deh.”, kata A Liong yang telinganya di jewer oleh Ciu Hwa.

“Tapi jangan main-main lagi ya.”, kata Ciu Hwa melepaskan jewerannya.

“Nggak….nggak…..Mmm… tapi sebenernya Cici suka juga kan?!”, goda A Liong. Ciu Hwa melotot padanya, pura-pura marah. Tapi gadis itu harus mengakui dalam hatinya kalo tadi dia sempat menikmati perbuatan A Liong. Entah darimana anak kecil itu belajar begituan. Sentuhannya begitu lain tapi malah makin membangkitkan gairahnya.

Seseudah A Liong selesai mengoleskan ramuan bunga mawar di perutnya, Ciu Hwa pun bersiap-siap akan bangkit dan berpakaian lagi.

“Tunggu dulu, Ci. Masih ada bagian yang perlu di oles.”, cegah A Liong.

“Bagian yang mana lagi?”, tanya Ciu Hwa dengan heran karena tak merasa ada yang luput.

“Sudahlah. Sekarang cici lepas aja celana dalam cici, lalu cici duduk di tepi ranjang itu.”, kata A Liong.

“Dasar anak cabul. Bilang aja pengen ngelihatin memek aku. Pake alasan mau ngolesin ramuan bunga mawar segala. Emangnya ada lelaki yang mau mencium bagian itu?”, pikir Ciu Hwa dalam hati. Tapi gadis itu menurut saja dan melakukan permintaan A Liong.

A Liong tersenyum melihat Ciu Hwa menurutinya. Anak itu memang berencana memberikan kejutan buat Ciu Hwa hari ini karena Ciu Hwa selalu sayang dan baik padanya. Lagi pula dia juga sudah lama ingin mempraktekkan pelajaran yang dipelajarinya dari kitab pusakanya yang paling berharga yang dia dapat setahun yang lalu.

Setahun yang lalu, saat A Liong sedang bermain-main di tepi telaga See Ouw, dia melihat rombongan yang tampak aneh berjalan di tepi telaga. Rombongan itu terdiri dari seorang laki-laki dan 5 orang perempuan. Kelima perempuan itu semuanya cantik-cantik dan memiliki tubuh yang indah walaupun masing-masing dari mereka memiliki kecantikan dan kelebihan yang berbeda-beda. Usia mereka berkisar antara 16 sampai 25 tahun. A Liong yang suka sekali mengamati wanita cantik segera mengambil kesimpulan kalo wanita-wanita itu bekerja di Rumah Bunga Merah pasti akan langsung menjadi primadona.

Tapi yang membuat rombongan itu tampak aneh adalah wanita-wanita itu berjalan bergandengan tangan dengan mesra dengan seorang laki-laki yang sudah tua, kira-kira 50 tahun lebih usianya. Tampang lelaki itu jelek sekali. Seluruh kulit tubuhnya berwarna hitam legam, tubuhnya kurus kering, pakaiannya kumal dan ada bagian yang robek di sana-sini. Wajahnya tampak mengerikan. A Liong yang suka sekali membaca dan berotak cerdas segera mengetahui kalo lelaki itu bukan bangsa China, melainkan berasal dari negeri yang jauh di barat, yaitu wilayah India.

A Liong sudah banyak melihat wanita cantik bersikap mesra pada seorang lelaki tampan. Atau bisa juga lelakinya jelek tapi punya banyak harta. Sedangkan laki-laki tua ini sudah jelek, tampaknya miskin lagi. Bagaimana wanita-wanita cantik itu terlihat tergila-gila dan bersikap demikian mesra terhadapnya? Apalagi saat dia mendengarkan percakapan mereka, ternyata laki-laki tua itu adalah suami wanita-wanita cantik itu.

A Liong pun mengikuti rombongan itu. Dia pun menawarkan bantuan untuk menjadi semacam tour guide bagi rombongan nyentrik itu yang ternyata ingin melancong menikmati pemandangan telaga See Ouw. A Liong memberi tahu mereka dimana tempat mencari perahu yang bagus dengan harga murah. Memberikan saran pada laki-laki tua itu mengenai harga yang wajar bila si pemilik perahu menawarkan harga yang terlalu mahal. A Liong dengan senang hati menolong bila mereka menyuruh membeli makanan dan arak, memberi tahu tempat-tempat yang indah yang ada di telaga See Ouw.

A Liong cepat menjadi akrab dengan rombongan itu, terutama dengan laki-laki tua itu. Sikap A Liong yang wajar, lucu, namun sopan dan terlihat kalo anak itu pernah menerima pendidikan yang baik, segera menarik perhatian laki-laki tua yang ternyata bernama Dharmapala. Mereka menganggap A Liong sebagai anak yang menarik dan aneh. Pintar dan terlihat jauh lebih dewasa daripada umurnya.

Saat hari sudah larut malam dan rombongan itu capek melancong dan ingin beristirahat, Dharmapala memanggil A Liong dan ingin memberinya uang sebagai imbalan atas bantuannya, tapi A Liong ternyata menolak. Dharmapala menjadi heran, dan dia semakin heran saat A Liong malah meminta nasihatnya bagaiamana cara agar bisa mendapatkan istri yang banyak dan cantik-cantik seperti Dharmapala. Lelaki India sama sekali tak menyangka kalo anak sekecil A Liong mengajukan permintaan seperti itu yang sama sekali tak pantas diucapkan seorang anak kecil. Tapi Dharmapala melihat A Liong tenyata bersungguh-sungguh dan tidak sedang bercanda.

Seketika Dharmapala pun tertawa terbahak-bahak keras sekali. Dia benar-benar sangat kagum dan tertarik pada A Liong. A Liong mengingatkannya pada dirinya sendiri yang berwatak romantis dan mata keranjang. Dharmapala menganggap A Liong berjodoh dengannya. Lalu dia mengajak A Liong sedikit menjauh dari istri-istrinya, dan mengeluarkan sebuah buku yang kelihatan lusuh dan tua dari balik jubahnya.

“A Liong, aku pikir kau berjodoh denganku dan hanya kau yang pantas mendapatkan warisan ini dariku. Kitab ini bukanlah kitab sembarangan. Ini adalah salinan kitab Kamasutra, kitab pusaka yang dimiliki raja dari negara asalku, India. Kitab ini sudah diterjemahkan dalam bahasa Cina, dan hanya satu-satunya di dunia yang memuat pelajaran lengkap dan sangat rahasia dari Kamasutra. Tentu saja selain kitab aslinya yang dimiliki oleh Rajaku. Kitab ini memuat pelajaran dan teknik-teknik rahasi dalam hubungan suami istri agar dapat mencapai kenikmatan yang sempurna. Berkat kitab inilah aku berhasil menaklukan wanita-wanita cantik, entah sudah berapa banyak wanita yang kubuat bertekuk lutut. Sekarang kitab ini kuserahkan kepadamu. Pelajarilah dan jagalah baik-baik. Hanya satu pesanku, jadilah lelaki yang bertanggung jawab dengan perbuatannya.”, kata Dharmapala kala itu sambil menyerahkan kitab itu pada A Liong. A Liong menerima kitab itu lalu berlutut dihadapan Dharmapala dan menyebutnya suhu. Dharmapala tertawa lalu membangkitkan A Liong. Lalu laki-laki india itu pun pergi bersama istri-istrinya.

Sejak saat itu A Liong pun mempelajari pelajaran yang terkandung dalam kitab salinan Kamasutra itu. Kitab itu ternyata sebuah kitab yang luar biasa menarik bagi A Liong. Di dalamnya terdapat bagaimana caranya seorang pria memuaskan wanita, begitu juga sebaliknya. A Liong tentu saja lebih memperhatikan isi kitab yang memuat cara memuaskan wanita, sedangkan bagian yang lain hanya dia baca sekedarnya saja. Kitab itu juga memuat berbagai macam cara dan variasi dalam melakukan hubungan badan, foreplay atau pemanasan, dan banyak lagi. A Liong jadi makin terbuka wawasannya. Dia sering mengintip hubungan seks yang dilakukan wanita-wanita penghibur rumah bunga merah dengan para tamunya. Kebanyakan dari para lelaki itu hanya mementingkan kenikmatan mereka sendiri. Kenikmatan para wanita sering tak diperhatikan. Para istri di jaman itu pun kebanyakan hanya menganggap seks sebagai salah satu kewajiban pada suami, bukan untuk kenikmatan mereka. Memang derajat kaum wanita di jaman ini sering kalah oleh lelaki.

A Liong pun mempelajari teknik pernapasan dalam kitab itu yang bisa membuat stamina dan kekuatan saat berhubungan badan makin bertambah. Dia juga mempelajari teknik-teknik untuk menahan orgasme agar dapat bertahan lama, dan pengetahuan lainnya. Ada juga ramuan-ramuan dan latihan untuk membuat alat kemaluan menjadi lebih sehat dan lebih besar. A Liong pun menerapkan ramuan-ramuan itu untuk alat kelaminnya hingga ia mempunyai kemaluan yang paling besar diantara teman-teman sebayanya.

A Liong yang sekarang baru berumur 12 tahun dan sudah mempelajari seluruh isi kitab kamasutra itu dalam setahun, menjadi anak lelaki yang paham betul segala sesuatu tentang seks. Pengetahuannya bahkan jauh lebih dalam daripada laki-laki dewasa yang manapun di jaman ini.

Kita kembali ke alur cerita dimana A Liong sekarang terpana melihat keindahan vagina Ciu Hwa yang terpampang didepan matanya. Ciu Hwa duduk di tepi ranjang dengan badan setengah rebah kebelakang dan bertumpu pada dua tangannya yang menapak pada kasur. Kedua kakinya agak seperti mengangkang dan diangkat hingga tapak kakinya juga menginjak tepi ranjang. Dengan demikian, vaginanya terlihat jelas oleh A Liong yang duduk bersimpun di bawah ranjang, tepat diantara kedua kaki Ciu Hwa yang mengangkang.

A Liong terpesona dengan keindahan vagina Ciu Hwa. Wanita cantik itu benar-benar pandai merawat bagian tubuhnya yang paling rahasia itu. Vagina Ciu Hwa masih tampak rapat seperti vagina seorang gadis, bibir vaginanya tampak rapi dan sehat tanpa gelambir. Padahal Ciu Hwa dalam sehari harus melayani 1-3 orang tamu dalam sehari dan berhubungan badan entah berapa kali. Memang pantas kalau Ciu Hwa menjadi kembang favorit Rumah Bunga Merah. A Liong juga pernah melihat vagina para wanita penghibur yang lain dan kebanyakan dari mereka sudah memiliki bibir vagina yang terlihat tak rapat lagi dan ada yang sampai bergelambir. Sedangkan vagina Ciu Hwa benar-benar indah dan masih terlihat rapar dan sehat. Bulu kemaluannya tak terlalu tebal dan tertata rapi. Bagian dalamnya terlihat segar berwarna merah muda.

“Kamu mau ngapain sih?”, tanya Ciu Hwa yang penasaran dengan tingkah A Liong. Gadis itu menjadi sangat kaget saat tiba-tiba dia melihat A Liong menjulurkan lidahnya menjilati belahan vaginanya tanpa rasa jijik. Tak pernah ada yang melakukan hal itu pada Ciu Hwa sebelumnya. Dan gadis itu pun tak menyangka kalau ada manusia yang mau menjilat dan menciumi bagian tubuh yang digunakan untuk kencing itu.

“Aaagghhh…..apa yang kamu lakukan sstt…..aaaghhhh….”, desis Ciu Hwa yang merasakan sensasi yang aneh namun terasa nikmat saat A Liong tanpa rasa malu dan jijik menciumi dan menjilati belahan vaginanya. Lidah A Liong menjilati belahan vaginanya dengan lincah kemudian menyusup ke dalam liang vaginanya yang mulai basah karena rangsangan birahi.

A Liong sebenarnya tadi sempat merasa agak ragu dan tak yakin apakah pelajaran dalam kitab kamasutra itu benar-benar manjur. Tapi kemudian lidahnya mulai merasakan hadirnya cairan yang rasanya aneh tapi gurih mulai membasahi liang vagian Ciu Hwa. A Liong menyukai rasa cairan itu dan terus menjilatinya. Dia juga bertambah percaya diri karena seperti yang tersebut dalam kitab, hadirnya cairan kenikmatan dalam vagina Ciu Hwa adalah salah satu ciri-ciri bahwa gadis itu juga merasa nikmat dan gairah birahinya mulai bangkit. A Liong juga melihat ciri lain, seperti putting payudara Ciu Hwa yang tampak makin membesar, mencuat keras. A Liong pun mengerahkan segala ingatannya tentang pelajaran mengenai tahap pemanasan dan pembangkitan gairah birahi dalam kitab kamasutra. Di keluarkannya segala teknik pelajaran yang selama ini dibacanya dan baru kali ini dia praktekkan.

“A Liong sstt…..aaahh….”, desah kenikmatan Ciu Hwa terdengar makin keras. Tangannya meremas rambut A Liong dan berusaha menekan kepala A Liong makin menempel pada vaginanya.

Sementara itu, di bawah sana jemari A Liong mulai ikut bermain bergerak keluar masuk di dalam vagina Ciu Hwa membuat gadis itu makin mendesah tak karuan. Kemudian A Liong menyibakkan rambut kemaluan di bibir vagina Ciu Hwa sebelah atas. A Liong tersenyum lebar saat melihat apa yang dia cari. Di bibir atas vagina itu ada benjolan kecil sebesar biji kacang. Dari kitab yang dibacanya, A Liong tahu kalo itu yang dinamakan klitoris dan merupakan titik rangsangan yang sangat sensitif pada tubuh wanita.

“Augghh…aahh…ah….”, desis Ciu Hwa makin intens. Tubuhnya menggeliat-geliat di atas ranjang saat A Liong mulai menjulurkan lidahnya menjilati klitorisnya. Apalagi saat A Liong menghisap klitorisnya kuat-kuat, pantat Ciu Hwa sampai sedikit terangkat.

Gadis cantik yang menjadi kembang rumah pelacuran bunga merah itu belum pernah merasakan hal seperti ini. Tanpa rasa risih sedikit pun A Liong melakukan semua hal yang membuat gairahnya meningkat ke level yang tak pernah dia capai sebelumnya. Ciu Hwa benar-benar ketagihan dengan kenikmatan yang bisa diberikan oleh A Liong. Bahkan gadis itu tak pernah mengira bahwa dia juga menyukai saat lidah A Liong dengan nakalnya mampir di liang anusnya dan menyusup disana. Gairah birahinya benar-benar dibangkitkan dan dipermainkan oleh A Liong. Padahal A Liong cuma anak kecil berumur 12 tahun, tapi dia bisa membuat Ciu Hwa merasakan kenikmatan lebih dari semua lelaki yang pernah menyetubuhinya.

“A Liong, Cici…cici aaaaghhhh….”, jerit Ciu Hwa saat puncak kenikmatan yang dashyat mendatanginya. Tubuhnya menggeliat tak karuan di atas ranjang, pahanya mengapit kepala A Liong, dan kedua tangannya menarik kepala itu agar makin lekat pada selangkangannya. Cairan kenikmatannya membanjiri liang senggamanya yang berdenyut-denyut keras oleh kenikmatan yang teramat sangat. A Liong sampai hampir kehabisan nafas dalam jepitan paha Ciu Hwa. Untung saja anak itu sudah mempelajari ilmu pernapasan yang membuatnya sanggup menahan nafas cukup lama. A Liong begitu girang karena bisa membuat Ciu Hwa merasakan puncak kenikmatan yang begitu dashyat dan dengan rakus dia menjilati cairan kenikmatan Ciu Hwa yang meluber.

Hampir dua menitan Ciu Hwa menggeliat tak karuan ditelan gelombang orgasmenya. Orgasme yang paling dashyat yang pernah dia rasakan, bahkan gelombang kenikmatan itu menerjangnya susul menyusul dan mungkin 2 atau 3 orgasme yang menerpa gadis cantik itu.

Setelah semuanya usai, Ciu Hwa pun merasa lemas dan terlentang di ranjang dengan nafas tak beraturan. Setelah berhasil memulihkan keadaanya, Ciu Hwa pun bangkit duduk di tepi ranjang dan menatap A Liong yang berdiri sambil tersenyum cengar-cengir. Ciu Hwa menatap kagum dan sayang pada A Liong. Dia berpikir kalo A Liong benar-benar anak yang luar biasa. Dia baru berumur 12 tahun tapi mampu membuat dirinya tenggelam dalam kenikmatan yang begitu dashyat. A Liong bahkan tak menyetubuhinya, tapi mempermainkan birahinya hanya dengan lidah, bibir, dan jemarinya saja.

“Darimana kamu belajar melakukan itu semua?”, tanya Ciu Hwa sambil tersenyum dan tangannya mengusap wajah A Liong dengan mesra.

“Nngg….kalo itu nngg…..A Liong gak bisa bilang sama Cici. A Liong sudah janji.”, kata A Liong yang memang pernah berjanji pada Dharmapala untuk merahasiakan warisan kitabnya. Ciu Hwa hanya tersenyum. Gadis itu tak mau mendesak A Liong.

“Baiklah kalo begitu. Tapi sekarang cici punya hadiah buat kamu.”, kata Ciu Hwa sambil bangkit berdiri.

A Liong tak mengerti Ciu Hwa akan memberikan hadiah apa buatnya, saat melihat gadis cantik itu berdiri mendekatinya lalu berjongkok di depannya. Jemari Ciu Hwa dengan lincah bergerak melepas tali pengikat celana A Liong hingga celana itu pun melorot ke bawah dan tubuh A Liong yang bawah pun telanjang. Kemaluannya yang berukuran kira-kira 16 cm, termasuk cukup luar biasa untuk anak seusia dia, sudah berdiri tegak dengan gagahnya.

“Wow, punya kamu gede banget ya.”, kata Ciu Hwa sambil memandang ****** A Liong yang besarnya seperti ****** pria dewasa. Memang bukan ****** yang paling besar yang pernah dilihat Ciu Hwa. Tapi ****** A Liong besarnya sama dengan rata-rata ukuran lelaki dewasa. Bahkan Ciu Hwa tahu beberapa orang yang kontolnya masih di bawah A Liong. Ciu Hwa pun menelan ludah melihat ****** itu. Entah kenapa dia jadi horny sekali. Biasanya setelah orgasme, Ciu Hwa akan merasa gairah birahinya turun. Tapi permainan A Liong tadi, walaupun sudah membuatnya mengalami orgasme yang begitu dashyat tapi Ciu Hwa masih merasa dirinya bergairah. Kalo saja dia punya waktu dan tak harus menemani Thio kongcu sebentar lagi, tentu gadis itu sudah mengajak A Liong bercinta dan merenggut keperjakaannya. Tapi dia masih punya waktu untuk memberikan A Liong hadiah kejutan.

“Ugghhh….Hwa Cici ssttt….”, A Liong hanya bisa mendesah nikmat saat tiba-tiba Ciu Hwa menjulurkan lidahnya menjilati batang kontolnya. Bahkan Ciu Hwa juga memasukkan ****** A Liong dalam mulutnya dan mengulumnya dengan penuh nafsu. Lidahnya juga bergerak lincah di dalam sana membuat A Liong menahan nikmat dengan kaki gemetaran.

Di samping itu, A Liong juga sangat kaget karena dia tahu bahwa perbuatan Ciu Hwa adalah salah satu teknik yang ada dalam kitab kamasutra yang diwarisinya dari Dharmapala. A Liong bingung bagaiamana Ciu Hwa bisa menguasai teknik ini.

“Sebentar, Ci. Apa yang Hwa cici lakukan? Darimana cici belajar ini? Aku tak pernah melihat cici menemani tamu cici seperti ini.”, cerocos A Liong setelah dia memaksa Ciu Hwa melepaskan kulumannya. Ciu Hwa tersenyum mendengar pertanyaan A Liong.

“Ini hadiah cici buat kamu. Kamu bisa menikmati jurus rahasia cici yang tak pernah cici berikan pada sebagian besar tamu cici. Cici hanya menggunakan jurus ini hanya untuk tamu yang benar-benar spesial saja. Teknik ini adalah teknik rahasia yang dikuasai oleh selir-selir atau putri kerajaan saja. Dulu salah satu selir majikan cici adalah bekas selir kerajaan yang dihadiahkan buat majikan cici dari seorang pangeran. Dan cici belajar dari majikan cici itu.”, kata Ciu Hwa dan teringat saat Song wangwe setengah memaksanya untuk menguasai teknik itu karena ingin agar Ciu Hwa dapat melakukannya padanya seperti halnya selirnya yang keempat.

A Liong pun paham. Memang Dharmapala pernah bercerita kalo sebagian kecil dari isi kitab Kamasutra pernah bocor dan dicuri oleh seorang mata-mata. Tampaknya sebagian kecil teknik itu terjatuh ke tangan pihak istana. Dan tampaknya teknik tiu diajarkan turun temurun di istana. Dharmapala mengatakan bahwa bagian yang bocor itu kebanyakan merupakan teknik wanita untuk memuaskan pria.

“Kalo begitu aku mau lagi dong. Habis enak sih he..he…he…”, kata A Liong sambil tersenyum cengar-cengir. Ciu Hwa pun menurutinya dan mulai melakukan aksinya kembali

A Liong benar-benar dibuai kenikmatan saat itu. Baru pertama kali ini dia merasakan kenikmatan seperti ini. Anak kecil itu mendesah dan menggumam tak jelas menikmati permainan mulut dan lidah Ciu Hwa yang bergerak lincah di bawah sana. Bibir Ciu Hwa yang indah terasa begitu lembut dan hangat menjepit dan mengulum kontolnya. Lidahnya juga bergerak lincah dan membuat A Liong semakin kelimpungan. Kedua tangan kecilnya meremas rambut Ciu Hwa yang indah dan tebal, pinggulnya bergerak maju mundur seperti menyambut gerakan kepala Ciu Hwa.

Beberapa menit kemudian, A Liong bisa merasakan kalo puncak kenikmatan akan menghantamnya. A Liong bisa merasakan gerakan maninya yang mengalir dari buah pelir dan merayap di dalam batang kontolnya dan mendesak ingin keluar.

“Hwa ci, aku dapet aaaahhhhh……..”, dengus A Liong sambil mendekap erat kepala Ciu Hwa dan mendorong pinggulnya maju hingga kontolnya terbenam makin dalam di mulut Ciu Hwa serta menyemprotkan banyak sekali mani ke dalam rongga mulut itu.

Ciu Hwa sempat gelagapan dengan perbuatan A Liong yang menahan kepalanya. Walaupun gadis itu sudah menguasai teknik oral tapi Ciu Hwa belum pernah menelan atau merasakan mani dalam mulutnya. Dulu Song wangwe selalu menyemprotkan maninya di wajah, payudara, atau di dalam vaginanya. Kini gadis itu terpaksa merasakan cairan mani A Liong dalam lidahnya. Ternyata Ciu Hwa menyukai rasanya. Apalagi saat mendapatkan kalo perbuatannya yang terus mengulum ****** A Liong selama dia orgasme membuat A Liong makin menjerit nikmat. Otak Ciu Hwa pun bekerja dan dia benar-benar tak menyesal melakukan teknik pada A Liong karena sekarang dia mendapatkan ide untuk makin menyempurnakan teknik ini berkat A Liong.

A Liong merasa lemas dan duduk di lantai. Kenikmatan yang dirasakannya benar-benar hal yang baru buatnya dan rasanya begitu luar biasa hingga tadi ia sampai lupa dengan teknik-teknik menahan orgasme yang dia pelajari. A Liong pun duduk dan mengatur nafasnya sambil melihat Ciu Hwa yang sudah bangkit lalu mengenakan pakaiannya dan merias diri lagi utnuk bersiap menerima tamu. A Liong pun lalu ikutan bangkit dan mengenakan celananya lagi. Dia tak perlu membersihkan batang kontolnya lagi karena Ciu Hwa tadi sudah membersihkannya dengan mulutnya.

“Hwa ci, aku pergi dulu ya.”, pamit A Liong yang teringat dengan keramaian yang akan terjadi di telaga karena perebutan anak naga seperti yang didengarnya tadi siang saat keributan. Peristiwa itu tentu saja sangat menarik perhatian A Liong hingga ia pun ingin ke telaga dan menyaksikan keramaian perebutan anak naga. Dia yakin kalo akan terjadi pertempuran atau pertandingan ilmu silat dalam perebutan nanti.

“Baiklah. Tapi cici minta kamu jangan bermain di telaga karena malam ini akan ada peristiwa yang melibatkan orang-orang kasar dari dunia persilatan di sana. Dan ini uang buat kamu jajan.”, kata Ciu Hwa sambil menyerahkan sedikit uang buat A Liong.

A Liong menerima uang itu lalu segera pergi keluar kamar. Dia sengaja tak menjawab peringatan Ciu Hwa tadi karena dia ingin menyaksikan perebutan anak naga itu. A Liong tak ingin berbohong dan membuat Ciu Hwa kuatir. Dengan diam-diam A Liong pun pergi meninggalkan rumah bunga merah dan berlari ke arah telaga.

0 comments:

Poskan Komentar

 

©2009 Cerita Sex | by TNB