Warning...!!! Isi di blog ini bisa menyebakan Serangan pada Jantung anda sehingga detak jantung anda berdegup keras, Sesak Nafas menahan Birahi serta kaku dan Kejang-kejang di bagian Otot Sensistif anda. siapkanlah selalu seperti tisyu dan handuk di dekat anda.

Prolog

Konjungi Forum JC3 : lebih lengkap dan lebih update

http://www.jc-three.com


cewek bugil, koleksi gambar bugil, Video Bokep 3GP, Video Bugil, Foto Bugil,Video 3gp ngentot dan video 3gp sekandal anak SMA, sekandal Anak SMP, ngentot di kebon ngentot di sungai, sekandal karyawan, pengusaha,
pasangan muda muda, suami istri, rekaman video pribadi, ngentot di kantor, video bokep 3gp spesialnya adalah Video 3gp Ngentot anak sekolah.Girl Naked, Naked image collection, Video Blue Film 3GP, Video Naked, Foto Naked, Video 3gp Make Love video 3gp sekandal and high school children, junior sekandal Children, Make Love in Make Love in the river bed, sekandal employees, businessmen, young couples young couple, personal video recording, in the office Make Love, Blue Film 3gp video is spesialnya Video 3gp school girl Make Love.

Kamis, 20 Agustus 2009

Akhirnya kudapatkan juga

Cerita ini adalah true story yang diceritakan kembali oleh penulis. Thank for Ganang atas ceritanya.

Aku seorang pria berumur 32 tahun dan dirinya berumur 27 saat cerita ini terjadi. Aku lahir di Jakarta dengan ayah asli Surabaya dan ibu dari Solo. Aku bekerja di Jakarta pada sebuah perusahaan besar pedagang farmasi. Aku pernah ditempatkan di Padang dan tinggal disana lima tahun. Kebetulan aku di tempatkan oleh perusahaanku di daerah ini karena dinilai bisa meningkatkan dan mengenjot pendapatan perusahaan. Apalagi aku juga dianggap mampu di daerah ini. Saat itulah aku diangkat menjadi area distributor untuk daerah ini. Dan dalam usahaku untuk mengenalkan produk perusahanku ini mengharuskan aku melakukan pertemuan dengan beberapa pengusaha daerah ini. Kebetulan aku pun mempromosikan produk itu ke perusahaan dia.

Aku mengenalnya bernama Alya, usianya saat itu baru 22 tahun dan karena kekayaan orangtuanya ditambah dengan bakat dan latar belakang pendidikannya tak aneh di usia muda saat itu dia sudah memegang beberapa usaha milik ayahnya.

Awalnya hubungan kami hanya sebatas mitra bisnis, namun karena penjualan produkku semakin besar di perusahaannya,maka kami semakin sering berhubungan dan berintegrasi. Saat itu dia masih kuliah di fakultas ekonomi di universitas kota itu. Aku akui saat itu dia cukup cantik dan amat dewasa pemikiran juga naluri bisnisnya jauh melebihi wanita seusianya, mungkin karena bakat yang telah didapatnya dari orangtuanya. Awal-awal pacaran amat membahagiakan kami berdua, selama berpacaranpun kami tak pernah sejauh apa yang pernah dilakukan oleh anak muda saat kini. Apalagi kami sangat sibuk sehingga waktu untuk berpacaran hanya singkat, Paling malam mingguan pergi makan atau nonton.Yah namanya orang pacaran tentunya kami juga pernah pegang tangan dan hanya kiss-kiss-an saja tak lebih, apalagi dia amat religius dengan kebiasaanya yang mengenakan kerudung.

Tetapi sepertinya Alya tak menginginkan hubungan kami ini diketahui orangtua dan keluarga besarnya. Aku telah berulang kali minta kepadanya agar hubungan kami ini di ketahui orangtuanya namun dengan alasan demi kelangsungan hubungan kami ini, Alya selalu dapat menyembunyikannya. Hingga akhirnya aku nekad dan bertandang kerumahnya karena hubungan kami sudah menginjak tahun ke-5 dan berkeinginan melangkah ke jenjang lebih jauh. Namun alangkah hancur dan sedihnya hatiku disaat aku mulai untuk menata hidupku aku mendapat penolakan yang amat keras dari ayah dan ibunya Alya. Alya telah dicalonkan dengan seorang laki laki yangg masih kerabat dekatnya. Apalagi karena mereka menilai aku yang berbeda suku bangsa dengannya tak pantas masuk dalam keluarga besar mereka.

Rupanya ini adalah alasan kenapa Alya tidak juga memberitahukan hubungan kami kepada orang tuanya. Dari selentingan kabar yang aku dengar dari karyawan Alya,bahwa perjodohan itu karena ayah Alya tidak mau anak gadisnya jatuh ketangan orang yang tidak jelas asal usulnya apalagi yang datang dari luar pulau seperti aku ini. Semenjak itulah hubunganku dengan Alya semakin merenggang dan hampir dipastikan putus ditengah jalan. Apalagi aku pernah memergokinya sedang makan malam dengan calon suaminya itu. Hingga akhirnya mendapat undangan pernikahannya yang dilaksanakan dengan amat mewah di sebuah hotel ternama dikota itu. Aku menyempatkan datang menghadiri resepsi pernikahannya itu dan menjabat tangannya sambil mengucapkan semoga berbahagia. Diapun mengucap terima kasih atas kedatanganku dan sempat aku liat ada sedikit raut sedih dimatanya. Namun aku sedikit merasa lega bahwa dia tetap suci hingga sampai ditangan suaminya tanpa sempat aku nodai kehormatannya. Akhirnya aku pun semakin kalah oleh keadaan dan aku mengirimkan surat minta mutasi atau pindah kedaerah lain. Jujur saja aku tak sanggup seperti ini.

Rupanya kantor pusat memang telah merencanakan menarikku kembali ke Jakarta karena target dan planning perusahaan tercapai. Akupun segera kembali ke Jakarta tanpa mengucapkan selamat tinggal padanya.

6 bulan yang lalu, aku dapat kabar dari temanku bahwa saat ini dia tengah kuliah lagi di Jakarta. Saat aku sedang melakukan meeting dengan relasiku di sebuah restoran, aku bertemu teman kuliah Alya saat di Padang dulu. Dia tahu banyak tentang hubungan kami dan sempat menanyakan apakah aku masih kontak-kontakan dengan Alya. Yah.. aku jawab saja dengan seadanya bahwa semenjak dia menikah aku tak lagi pernah berkomunikasi dengan Alya. Temannya itu memberi tahuku bahwa Alya kini tengah melanjutkan studi S2 di Jakarta itu pada sebuah universitas swasta terkenal di sini. Temannya itu pun memberiku nomer hp Alya jika aku ingin berkomunikasi dengan Alya.

Suatu hari saat aku lagi santai aku teringat akan nomer yang di berikan Teman Alya itu, iseng aku coba hubungi nomer handphonenya. Dan terdengar sapaan lembut seseorang yang pernah dekat dengan ku beberapa tahun yang lalu. Dengan sedikit kaget dia dapat menebak suaraku, rupanya dia tak lupa dengan suaraku ini. Kami berbicara mengenai berbagai hal mulai dengan kelahiran anaknya yang kini telah berusia 2 tahun, juga kuliahnya yang baru saja dia masuki juga tentang tempat kostnya. Diakhir perbincangan kami itu, akhirnya aku ajak Alya untuk ketemuan. Dan dia menyetujuinya untuk bertemu di sebuah restoran di mal yang berada dekat kampusnya.

Saat pertemuan itu, aku amat terkesima akan kecantikannya yang semakin matang juga dewasa. Alyapun demikian semakin kagum padaku dengan pujiannya. Setelah sedikit berbasa-basi kamipun makan dan berbincang cukup lama hingga tak terasa waktu mengakhiri pertemuan kami. Akupun menawarinya mengantar pulang ke kostsannya. Ia pun setuju karena waktu memang telah malam.

Semenjak pertemuan pertama itu, kamipun semakin sering bertelpon-telponan atau sekurangnya sms-an dan melakukan pertemuan demi pertemuan. Aku seakan menemukan kembali kehidupanku yang pernah hilang. Aku seakan menemukan gairah hidupku kembali. Kamipun semakin sering bertemu dan makan bersama. Hingga.. Sabtu siang itu saat aku libur tak masuk kantor dan aku mencoba mengajaknya nonton di sebuah sinepleks di kawasan selatan Jakarta.

Siang itu kami makan dulu di sebuah rumah makan Padang di bilangan Grogol, terus melanjutkan dengan berjalan-jalan ke selatan Jakarta tepatnya di kawasan Blok M. Senja itu kami nonton berdua dan selama pertunjukan akupun mencoba meraih jemarinya yang masih dilingkari cincin kawin itu. Setiap aku berusaha meraih jarinya selalu di tepiskannya dengan alasan dia telah bersuami. Tetapi akhirnya ia menolak lagi saat aku berhasil menggenggam erat jemarinya. Saat menggenggam tangannya itu aku berusaha merebahkan kepalanya ke bahuku, namun dia berusaha bertahan dengan berbagai alasan yang salah satunya malu dan lain sebagainya. Padahal saat itu aku tergoda ingin mengecup bibirnya. Hingga pertunjukan berakhir kesempatan untuk mengecup bibirnya itu tak pernah kesampaian.

Keluar dari sinepleks kami merasa lapar, lalu aku memutuskan mencari sebuah restoran cepat saji yang masih berada di area sinepleks itu. Kamipun masuk dan memesan makanan pengganjal perut hingga kenyang. Saat pulang aku lihat jam menunjukkan pukul 23.30.WIB.

“Waduh.., udah malam banget ya… Pasti pintu pagar kost-an aku udah di kunci” ujar Alya.
“Tidur di kos-an aku saja Alya…..” sahutku.Seketika timbul keinginanku untuk membawanya menginap dengan alasan malam sudah larut apalagi dia sempat bilang tidak mungkin balik ke kost-annya yang sudah di tutup pagarnya oleh penjaganya. Dengan bernada penolakan Alya tidak mau saat aku mengajak ke kosan aku, Alya keberatan sebab apa jadinya jika kami yang bukan muhrim tidur satu kamar. Apalagi statusnya yang telah menjadi seorang istri. Dia meminta agar aku mencarikan sebuah penginapan dan mempersilakan aku pulang sendiri, namun sebagai seorang laki laki yang harus bertanggung jawab, aku pun mengemukakan alasan yang dapat di terima akalnya. Aku pun bersedia nantinya tidur di luar kamar kos ku. Akhirnya dia mengalah dan tidak bersikeras lagi memaksa pulang. Apalagi aku menekankan bahwa aku akan tidur di sofa saja.

Selama di perjalanan dengan mobil Avanza silver milikku. dia lebih banyak diam. Aku yang lebih aktif mengajak berbincang-bincang, bertanya mengenai kampusnya juga tentang keadaan di Padang. Tak lupa pula aku bercerita mengenai kesedihan dan terpukulnya aku saat dia di jodohkan dan menikah 2 tahun yang lalu.

1 jam lebih kemudian kami sampai di kost-an aku, yang terletak terpisah dengan penghuni lain sehingga agak lebih bebas dan terlindung keprivacy-annya.

Dia telah selesai bebersih dan mencuci mukanya dikamar mandi yang ada dalam kamarku. Oleh karena Alya tak mempunyai pakaian ganti untuk tidur, makanya aku pun meminjamkannya kaos lengan panjang warna biru muda dan celana training warna biru tua milikku karena kusadari tak memungkinkan baginya mengenakan pakaian muslim berikut selendangnya yang dikenakannya saat kami pergi nonton pada hari itu.

Aku mulai duduk rebahan di sofa sambil mendengarkan dia bercerita tentang kuliah dan juga kendala saat di kampus, juga tak lupa ia memberi tahuku tentang putra pertamanya yang kini semakin nakal di asuh suaminya dan orangtuanya di padang. Aku pun menawarinya secangkir teh agar dia merasa rileks. Saat aku melihat dia semakin ngantuk akupun menyuruhnya kekamar. Aku lalu mengambil bantal dan rebahan di sofa yang berada diluar kamarku. Beberapa saat kemudian saat aku berusaha memejamkan mataku, tiba tiba ia memanggil namaku dan aku bangun dari rebahan di sofa. Rupanya Alya sudah berada di dekatku dan minta aku untuk tidur saja di kamar bersamanya sebab ia merasa kasihan melihat aku yang tergolek kedinginan di ruang tamu.

“Rud!..kamu tidur saja di kamar kan aku gak enak liat kamu disofa seperti itu. Tapi kamu jangan macam macam ya? Aku kini telah punya anak dan suami lho. Untuk itu aku akan batasi dengan guling ya”, sahutnya sambil tersenyum kecil.

Saat aku berbaring di ranjang bersama Alya yang kini dibatasi guling, dia tidur memunggungi aku. Aku berusaha mencandainya dengan mendekat dan tiup terus tengkuknya dia jadi geli. Dia sedikit marah dan menolakkan tubuhku dengan tangannya. Aku tidak mengubrisnya dan kaki kanannya juga aku gesek-gesek dengan kakiku. Akhirnya dia berbalik menghadap aku, dengan sedikit marah dan membentak dia berbicara dengan nada mengancam,

“Kalau begini terus aku mau turun dan tidur di sofa aja”, sambil dia nyebut namaku dan memperingatkan agar jangan berbuat seperti itu lagi. Aku berpura-pura menyesal dan meminta dia agar jangan pindah karena kurasa dia hanya menggertak saja. Di ambilnya bantal buat pemisah dan kini berubah posisi berhadap-hadapan. Kami berbicara tentang suaminya yang kadang amat protektif juga rasa tak nyamannya selama ini. Dalam keadaan saling memandang begitu aku sosor bibirnya, tetapi dia menghindar, dan menolakkan wajahku. Lalu tangannya aku genggam meski dia berusaha melepaskan tanganku dengan bergerak mundur. Tapi ranjang kan tidak besar dan gulingnya telah jatuh ke lantai, sedangkan dia berada disisi ranjang dekat dinding dan tak bisa menjauh lagi. Aku berusaha mendekat hingga dia tak bisa lagi menghindar dan terpaksa menerima kecupan aku. Dia masih berusaha mendorong dadaku, tapi gerakan itu tidak banyak membantu. Dia melotot seakan-akan marah sambil menolak.

“Rud! kamu nekad sekali ini dosa lo Rud!”, ujarnya terdiam dan melengos sebentar. Tapi dia diam saja menggumamkan sesuatu yang tak jelas kedengarannya. Aku terusin aja melumat bibir atasnya. Dia tak bisa mengelak lagi, tanganku kananku kini mencoba merayap dan merabai gumpalan lembut dadanya yang ranum. Akhirnya dia mulai bereaksi dan membalas, dengan mengulum bibirku dan meraih kepalaku. Aku meneruskan mengulum lidahnya dan mulai meremasi bukit dadanya. ‘Duh… lembut amat’ batinku. Aku tak berhenti meraba dan meremas bukit dadanya diatas permukaan pakaian yang masih dikenakannya. Sedangkan tangan kanannya memegang pahaku. Aku masih mengulum dan lidah kami saling membelit., dan dia tak mencoba untuk menghindar lagi.

Sambil tangan kiriku memegang bahunya, tangan kananku mencoba menyelusup kebalik kaosnya melalui bagian bawah. Dia bereaksi berusaha menahan dan mendorong tubuhku dengan tangan kirinya, aku bersikeras dan sedikit memaksa hingga berhasil meraih bukit dadanya yang masih terbungkus. Sambil mengulum lidahnya aku berusaha menyibakkan kaosnya karena merasa terganggu dan kurang leluasa hingga melewati gumpalan dada ranumnya yang masih terbalut bahan lembut tersebut.

Dia tersedak seperti sesak nafas, gairahnya terlecut naik. Aku membaringkan dia sehingga terlentang diatas sprey warna putih bercorak MU. Dan mendorong bahan tipis berwarna hitam yang menutupi gumpalan lembut dadanya ke atas. Dia tak sedikitpun berusaha melarang dan sesekali hanya memegang tanganku. Pegangannya tak sekuat seperti sebelumnya. Dia lebih banyak diam sambil mendengus dengan napas yang tersengal-sengal, dengan matanya sayu seperti mengantuk. Sepertinya gairah nafsu telah mulai membakar tubuhnya. Kemudian aku berusaha melepas kaos, dia menurut saja dan seakan membantu melancarkannya hingga lepas termasuk bh no 34-nya dengan membalik tubuhnya. Bhnya aku taruh di ranjang juga. Saat tubuhnya telah terbuka aku sempat melihat ada bekas jahitan di perutnya

Aku ciumi dan gigit sedikit dengan mulutku. Tubuhnya semakin mengeras dan berkeringat. aku telentangkan kearah aku. Dia sempat bilang,

“Rud jangan sampai ya Rud, ingat aku sudah punya anak”. Kembali aku ciumi dada kanannya sesekali menggigit lembut. Sedangkan kedua tangannya hanya bisa terkulai diatas kasur, dan sesekali memegang pergelangan tanganku. Dia hanya terdiam memejamkan mata. Terdengar lirih suaranya seakan-akan menangis. Dan sempat pula ku pandang matanya berkaca-kaca. Aku tak mau memikirkan hal itu dan meneruskan.

Remasan pada bukit dada yang ranum bergantian pada bagian kiri dan kanan. Merabai dan mengusap bahunya yang mulai basah oleh keringat. Saat aku gigit lembut puncak dadanya, dia malah menekankan kepalaku disana seolah-olah tak ingin di hentikan. Lalu aku mengangkat kepalaku memandang wajahnya, matanya sayu. Aku tahu dia telah sangat bergairah.

Saat bukit dadanya terasa mulai membengkak, kembali aku ciumi bibirnya ya sangat bergairah seperti dapat air di gurun pasir, hanya gumam dan dengus saja terdengar. Dalam posisi berbaring disampingnya tangan kiriku bergerak kebawah menyusuri perut yang mulai basah terus ke bawah menemukan karet celana trainingnya. Tangan kananku meraih wajahnya, untuk kembali bergelut dengan bibirku. Di saat aku mengulum dia semakin menyambut kuluman aku dengan tak kalah bergairahnya. Posisi tersebut membuatku pegal juga dan memutus ciuman kami. Tanganku turun menyelinap ke balik trainingnya dan dari luar segitiga carik tipis merabai gundukan lunak yang menutupi pertemuan paha tersebut, dia memandang mataku seraya menahan tanganku. Dalam bahasa Minang dia bilang,

“Ampunn mas janlah nan itu… (ampun mas jangan yang itu)” Seraya tubuhnya bangkit dan duduk. Kami berdampingan, sambil dia meraih dan memeluk pinggangku. Aku kaget dan menghentikan aktifitas serta ikut duduk sambil memeluk pinggangnya. Lalu aku pandangi matanya dalam-dalam dan bertanya,
“Alya masih mencintai aku?”. Dia diam saja, kemudian aku menekankan bahwa jika dia tidak mencintai aku berarti yang barusan adalah kebohongan belaka. Dia merebahkan kepalanya dibahu aku dan bilang,
“Aku merasa bersalah selama ini pada karena telah meninggalkan kamu, tapi kalau begini aku juga merasa bersalah pada suamiku”.
“Apa kamu masih inginkan itu Rud..?” tanyanya. Aku gak menjawab selain hanya memandang matanya dalam-dalam.

Kembali aku lalu menciumi bibirnya dan merebahkan tubuhnya di kasur seraya berbaring di sampingnya. Dan kembali membelai dadanya dengan tangan kanan. Tubuhnya menggeliat kegelian tanpa berusaha melarang ataupun menolak. Namun dalam sikap yang demikian tersebut terbersit di wajahnya pandangan mata sedih yang berkaca-kaca. Dia tak berusaha membalas ciuman dan diam saja. Aku gak peduli, aku menciumi terus hingga akhirnya dia mulai bereaksi membalas, diam membelit dan memasukkan lidahnya kedalam mulutku juga mengulum lidahku dan meremasi rambut kepalaku dengan kedua tangannya. Lalu aku pilin putik dadanya dengan tangan kiri yang membuatnya kembali basah dan berkeringat, aku ciumi bawah ketek kanannya

Dia kembali seperti mendengus dan membalikkan kepalanya kiri kanan, matanya terpejam menutup rapat, seperti memendam kepedihan yang tak ingin aku ketahui.

Tanganku yang kanan yang telah turun dan kembali berada didalam celana training tersebut, menariknya hingga lutut, lalu bergerak merayap langsung masuk ke balik kain tipis penutup pertemuan pahanya dan merasakan kebasahan hangat menyambut rabaan jari tengah tanganku yang telah masuk menjumpai kebasahan yang amat sangat. Kedua kakinya masih tertutup rapat, Aku semakin bersemangat. Membuat dia mendesis kegelian. Aku gosok kan terus jariku pada lepitan basah itu. Tangan kanannya kembali meraih tanganku yang berada di dalam celananya untuk menarik namun aku bertahan dan bersikeras, malah semakin meremas remas gundukan lembut tersebut. Akhirnya dia mengalah dan hanya memegang lemah pergelangan ku, tak lagi mencoba menariknya keluar.

“ Boleh mas pegang ini ya alya?” , tanyaku. Dia diam saja hanya menatap. Kain tipis berbentuk segitiga tersebut telah basah oleh keringat dan cairan dari pertemuan pahanya. Tangannya tak lagi berusaha menahan tanganku saat berusaha melepas celana trainingnya, sambil setengah jongkok. Sekalian dengan kain segitiga itupun aku lepaskan. Saat aku menarik karet kain segitiga putihnya tersebut dia menggulingkan tubuhnya ke kekiri membelakangi agar aku tak kesulitan melepaskannya hingga perlahan meluncur menuju lututnya. Lalu dia menarik kaki kanannya dan yang terakhir kaki kiri membantu melepaskan carik kain tipis dari kedua kakinya. Tubuh mulus dengan bulu-bulu halus itupun kini telanjang tak tertutupi secarik kainpun. Terlihat rambut halus tumbuh tipis dipertemuan pahanya.

Setelah lepas semuanya dia membalikkan hingga wajahnya menghadap dinding membelakangi dan meraih bantal berusaha menutupi pertemuan kedua pahanya yang lenjang. Aku membiarkan aja dan aku lalu berdiri di samping ranjang dan membuka Tshirt hijau Polo dan celana pendek coklatku hingga hanya menyisakan pakaian dalam terakhir, lalu kembali naik ke ranjang.

Kembali aku berada disebelah kanannya dan meraih bahunya, membalikkan tubuhnya hingga telentang. Aku kembali menciumi bibirnya seraya meremas dadanya dengan tanganku yang sebelah lagi, lalu turun ke lehernya. Namun aku merasa sedikit terganggu karena kalung di lehernya membuat bibirku terganggu dan tidak nyaman dan karenanya aku atur letak kalungnya sambil kembali menggigit leher dan dagunya, terus turun ke dada, lalu terus ke bahunya sambil tak lupa meninggalkan bekas kemerahan di dadanya hingga peluhnya terasa asin di lidahku.

Dadanya aku gigit kedua belahnya, hingga mengeras dan berbekas memerah di sekeliling putingnya, Tangannya yang berada dikepala aku menggerumas semakin kuat saat aku menghisap-hisap. Aku turun ke perutnya, dia mendengus dan mendesis

“Duhhh,……duhhhhughhh…..,” hanya itu yang terdengar. Tubuhnya semakin gelisah, menggeliat dan menendang-nendang. Bulu-bulu romanya semburat berdiri pada semua permukaan kulitnya yang berkilau penuh keringat. Aku turun ke bawah kearah perutnya sambil menjilat di sepanjang perjalanan hingga berakhir di pada lepitan basah di pertemuan pahanya. Aku berpindah ke arah kakinya dan membuka kedua pahanya kini, aku berusaha masukkan jariku ke lepitan kewanitaannya. Dia kaget dan meraih tanganku dan berucap sendu,

“Mas….saya gak kuat….”. Aku jawab,
“Sebentar Alya,…..mas hanya ingin Alya senang”. Dia hanya mendengus dengan tarikan nafas yang berat tak berkata sepatahpun. Aku tau kini dia telah tak malu dan tak peduli lagi. Kedua kakinya masih tertekuk dan pahanya telah basah dengan bulu-bulu roma di pahanya semakin licin karena basah.

Aku mendekatkan hidungku ke lepitan itu. Ingin mengetahui aroma nya seperti apa. Tercium aroma khas. Aku mencoba di kedua pahanya menahan agar tak menjepit kepala ku lebih dekat lagi. Aku merasakan ada keinginan kuat untuk mengecap. Aku mulai menjilati permukaan belahan lepitan basah itu, hangat dan lembab dengan aroma khas menyambangi indra penciuman aku.

Dia tak memandang wajah aku saat itu, hanya menutup wajahnya dengan tangannya. Aku merasa agak kurang berkenan namun saat memandangi dia telah pasrah, menggerakkan aku mencoba menjulurkan lidah ke celah lepitan tersebut. Aku gugup. Tetapi karena telah terlanjur berada di sana maka mulailah aku mengecap celah lepitan dan menjilati sebentuk daging kecil yang berada disana.

Seketika dia langsung terlonjak, dan merapatkan pahanya hingga kepalaku terjepit. Semakin aku menjilat, semakin kuat pula dia merapatkan pahanya. Pinggulnya bergerak, memberi akses kepadaku untuk semakin dalam. Aku berusaha kembali membuka pahanya yang membuat aku terjepit dan semakin sulit bernafas dengan kedua tanganku. Aku meneruskan jilatanku disana. Akhirnya tangannya meraih kepalaku saat tubuhnya menegang dibarengi pahanya membuka melebar. Terdengar suara melenguh keras,

“Urgggg… aduhhh….mmm...”, seperti kesakitan berkesangatan. Disusul dengan membanjirnya lepitan tersebut. Klimaks tengah di raihnya. Tak lama kemudian deru nafasnya melemah dan kedua tangannya tak lagi memegang kepalaku lagi, terkulai lemas disamping kiri dan kanan tubuhnya.

Aku masih di antara pahanya. Kejantananku telah menegang. Aku pun bangun berusaha melepaskan diri dan berusaha melepas pakaian dalamku yang tersisa. Tak sulit melepaskannya dan kembali ke posisi tadi. Kini aku kembali berada di bawah, diantara kedua kakinya. Dia terlihat lelah kecapaian. Dia memejamkan mata seperti tertidur saat aku berusaha membangunkannya. Aku pun kembali memilin puncak dadanya lagi. Ternyata dia tidak tidur dan berkata,

“Mas, apa ini yang mas inginkan…?”. Aku tak menjawab hanya memandang matanya saja. Dia tau aku sangat ingin menggaulinya saat itu.

Dia pasrah saja saat aku kembali menciumi dan membuka kedua pahanya. Saat merabai buah dadanya dia semakin erat memeluk tubuhku yang tengah merayap keatas tubuhnya. aku menciumi wajahnya dan berbisik,

“Aku sayang kamu…”. Dia semakin kuat memelukku erat. Kedua kakinya membelit ke belakang pinggang aku. Kedua tanganku pun meremas gumpalan lembut pada kedua dadanya yang kembali membengkak dan menggigit puncaknya dengan lembut agar dia bernafsu kembali.

“Duh aku puas mas… belum pernah senikmat tadi”. Aku semakin intens membakar birahinya. Menciumi, menjilati dan menggigit kedua buahdadanya. Tangannya kembali di kepala aku. Aku jilatin di balik telinganya pada bulu-bulu halus yang membuatnya dia geli dan bergairah. Aku terus menjalari wilayah dadanya dengan jilatan. Lalu bergerak turun ke bawah dadanya hingga batang kejantananku menyentuh pusarnya yang membuat pegangannya di kepalaku semakin kuat dan kedua kakinya juga erat menjepit pinggang aku. Tubuhnya menggeliat-geliat membuat aku tak leluasa.

Aku semakin turun dan melonggarkan jepitan pahanya, bersimpuh. Buahdadanya yang telah licin aku elus dan remas dengan tanganku. Membuat bulu halusnya berdiri.

Aku turun kearah kakinya dan meraba pahanya yang putih mulus juga bulu-bulu halus yang basah. Aku jilatin pahanya sambil aku tekuk keatas. Mulai dari betis, lutut dan bawah pusarnya juga tak terlewatkan. Dia semakin gelisah dan menendang-nendang kegelian. Batang kejantananku telah tegak, aku tau kini dia telah siap, terlihat memejamkan matanya dan menahan sesuatu dengan mengigit bibir bawahnya. Aku membuka kedua pahanya terus turun pada lepitan kewanitaannya dengan tangan, menempelkan kepala kejantananku dan mulai mengosok-gosokkan ujung membulat tersebut pada lepitan basah di pertemuan kedua pahanya itu hingga ia merasa kegelian dan merapatkan pahanya di pinggangku dan membelitkan kedua kakinya di belakang punggungku hingga aku tak leluasa.

Kembali aku merabai dadanya, namun kedua tangannya menahan kedua tanganku. Aku tak tau maksudnya saat itu. Dia mendengus seperti kepedasan.

“Uhhh… ohh..duhh.. mmmhh..”, matanya sayu dan terdengar hanya dencingan gelang tangannya. Aku lepaskan tarikan tangannya itu, tampak di saat penentuan itu dia seolah masih belum rela dan berusaha mempertahankan.

Aku bergerak mundur sedikit dan berusaha mengendorkan jepitan pahanya. Kepala batang kejantananku telah menempel pada belahan lepitan basahnya. Dan dengan dorongan lembut aku masukkan, pelan-pelan. Terasa hangat, licin dan geli. Dia langsung meracau,

“.. Aduhhh..mass….”. Sontak kakinya semakin erat membelit pinggangku dan kedua tangannya menutup wajahnya yang masih melengos ke dinding sambil memejamkan mata. Sebagian dari diriku telah bersatu dengan kelembutan miliknya. Hanya nafasnya yang terasa berat. Dia bilang,
“Ampunnnn…mas jangan di terusin…”, erangnya sangat halus dengan nafas tertahan hingga nyaris tak terdengar. Aku terus bergerak maju dan mendorong semakin dalam hingga terbenam utuh. Akhirnya kedua bibir indah tersebut mengatup dengan tubuh melenting keatas seolah-olah meminta aku meraba dadanya, dengan tangannya meraih kain sprey dan meremasnya kuat.

Terasa kedua pahanya semakin menjepit pinggangku. Rasanya amat nikmat sekali. Aku bergerak mendorong dan menarik pinggulku. Diimbangi pula oleh gerakan .pinggulnya menyambut, menuruti dan mengikuti gerakan ku,

“Uhhh…ughhh…mmmm… ohhh”. Kedua tangannya hanya memegang bahuku, dan aku meraih kedua bukit dadanya yang telah licin dan membengkak terus turun memegangi pinggangnya.

Tiba-tiba dia bangkit dan duduk sambil memeluk tubuhku terus merangkul leherku seraya menggigit bahu kananku, kami menempel erat sekali. Rasa hangatnya sulit di ungkap dengan kata kata. Aku membiarkan gigitannya itu karena terasa tidak menyakitkan. Dia melenguh keras,

“ Ughhh…mmmmh... Adduhhhhss...”, lenguhnya keras seperti meregang nyawa dengan nafas terputus-putus membuat aku sempat khawatir dan cemas. Demikian juga dengan gigitan dibahuku yang semakin kuat. Rupanya di saat itu dia mencapai puncak klimaks lagi. Terasa kewanitaannya yang hangat dan basah itu berdenyut-denyut terasa makin menjepit. Akhirnya pegangan tangannya melemah dan kembali rebah terlentang diatas ranjang. Aku berusaha bertahan dan tetap bergerak konstan mendorong dan menarik pinggulku sebab agar jangan dulu, sebab dari yang aku baca-baca akan lebih baik pria kemudian.

Kurang lebih lima menit kemudian akhirnya aku meledak juga di dalam, dia hanya memejamkan mata diam saja hanya deru nafasnya yang terasa. Karena didalam aku rasakan hangat dan nikmat, juga aku tak tau cara meledakkannya di luar. Tubuh kami telah basah oleh keringat. Aku merebahkan tubuhku terlentang di sampingnya meskipun awalnya aku hendak rebah diatas tubuhnya agar milikku tetap berada di dalam kewanitaannya, namun sepertinya dia tak berkenan.

Saat itu dia tak berusaha sedikitpun untuk menutupi tubuhnya. Kemudian sambil menggengam tangan kananku dan masih berhadapan, dia bertanya,
“Apa kamu masih menyangsikan aku?”,tanyanya. Aku menjawab,
”Perasaan aku sama tak berubah, sama dengan saat-saat dulu”. Terdengar isaknya.
“Aku mohon agar kamu jangan lagi beranggapan amat jahat padaku, dan tolong rahasiakan hubungan kita ini dari teman-temanku yang kamu kenal”, pintanya tersedu-sedu.

Aku setuju dan menganggukkan kepala mengiyakan. Lalu kami terus tertidur telanjang sambil berpelukan. Malam itu juga akhirnya aku tau ternyata dia adalah salah seorang wanita yang telah menunaikan ibadah ke tanah suci !!!

0 comments:

Poskan Komentar

 

©2009 Cerita Sex | by TNB