Warning...!!! Isi di blog ini bisa menyebakan Serangan pada Jantung anda sehingga detak jantung anda berdegup keras, Sesak Nafas menahan Birahi serta kaku dan Kejang-kejang di bagian Otot Sensistif anda. siapkanlah selalu seperti tisyu dan handuk di dekat anda.

Prolog

Konjungi Forum JC3 : lebih lengkap dan lebih update

http://www.jc-three.com


cewek bugil, koleksi gambar bugil, Video Bokep 3GP, Video Bugil, Foto Bugil,Video 3gp ngentot dan video 3gp sekandal anak SMA, sekandal Anak SMP, ngentot di kebon ngentot di sungai, sekandal karyawan, pengusaha,
pasangan muda muda, suami istri, rekaman video pribadi, ngentot di kantor, video bokep 3gp spesialnya adalah Video 3gp Ngentot anak sekolah.Girl Naked, Naked image collection, Video Blue Film 3GP, Video Naked, Foto Naked, Video 3gp Make Love video 3gp sekandal and high school children, junior sekandal Children, Make Love in Make Love in the river bed, sekandal employees, businessmen, young couples young couple, personal video recording, in the office Make Love, Blue Film 3gp video is spesialnya Video 3gp school girl Make Love.

Kamis, 20 Agustus 2009

Dina dan om nya

Aku Dina, cerita ini terjadi ketika aku baru masuk SMU, saat itu umurku baru 16tahun. Aku tinggal bersama dengan ke 2 ortu dan adikku di sebuah apartment. Ortu membeli 2 apartmen yang letaknya saling berhadapan di lantai yang sama. Aku dan adikku tinggal di satu apartment dan ortu di apartmen satunya lagi. Ayahku punya seorang kakak angkat yang usianya gak jauh diatas ayah. Hubungan keluargaku dengan om itu cukup akrab. om sering berkunjung ke apartmen baik untuk urusan pekerjaan maupun hanya bersilaturahmi. Maklum om dah pisah dari tante, yang telah menikah lagi dengan orang lain, sedang om masih sendiri sejak perpisahannya dengan tante. Om ku ganteng, walaupun usianya sedikit diatas ayahku tapi malah kelihatan lebih muda dari ayahku. Badannya tegap atletis, mungkin karena dia masih rajin melakukan fitness sekali semingu, jogging ampir tiap hari dan juga renang seminggu sekali. Gak seperti ayahku yang udah gendut dan keliatan tua, maklum deh ayah sibuk dengan kerjaannya, workaholik lah orang bilang, sehingga gak sempet ngapa2in. waktu untuk keluarga paling weekend, itupun sering dianggu karena ada pekerjaan yang harus dilakukan ayah. Om sering mengajak kami jalan2, kalo ayah kharus melakukan pekerjaannya. Diam2 aku mengagumi om, kelihatannya macho sekali deh.

Cerita ini terjadi ketika ortu dan adikku harus keluar kota untuk menengok nenekku yang sedang sakit. Aku tidak ikut karena hari ini om akan datang untuk mengambil pesanannya yang dititipkan lewat aya. ayah berpesan untuk menyampaikan pesanan itu kalo om datang ke apartment. Katanya om akan datang sore sekitar magrib. Aku senang juga karena bisa berduaan aja ama om tanpa ada orang lain diapartment yang mengganggu. Sorenya terdengar bel pintu berbunyi. Om mengebel pintu apartmentku karena ayah dah memberi tau kalo mereka keluar kota, tapi pesanan om dititpkan pada aku. Segera aku membuka pintu menyambut om. "Hai cantik", om selalu menyapa aku seperti itu. Seneng aku dipuji cantik oleh om. "Kok seneng banget kelihatannya". "Iya om, seneng bisa berduaan ama om", jawabku terus terang. "Loh kok seneng, kan dah sering jalan ma om". "Iya tapi kan ramean. duduk om. ini pesenan om yang dititipkan ayah buat om". Om duduk di sofa. Memang apartment aku dan adikku lumayan lengkap perabotannya walaupun serba minimalis. Di ruang tamu yang merangkap kamar makan ada seperangkat sofa, tv, audio system, meja makan dan pantri kering. Dapur diubah fungsi sebagai gudang karena makanan disupply dari apartment ortu. "Om jalan yuk", kataku. "Mo kemana", tanya om. "Ke mal yuk". "Mo nyari apa?" "Makan ama liat2 aja. di apartment gak ada makanan. tadi mama pesen supaya aku ngajak om nyari makan diluar aja". "Emangnya ortu kamu pulangnya kapan. Adikmu mana?" "Adik ikut om, pulangnya besok sore kali". "Terus kamu takut sendirian, mau om temenin". Wah itu yang aku harapkan bisa berduaan ama om sampe besok. "Bentar ya om, aku tuker baju dulu". Segera aku menghilang kekamarku dan tukar pakean. Aku gak tau, rupanya om ngintip ketika aku tuker pakean. Tapi ya gak tejadi apa2. Kemudian segera aku keluar apartment nersama om. Dengan manjanya aku memeluk tangan om. Kami bermobil ke mal yang deket dengan apartmentku. Sampe malem aku bener2 have fun bersama om, kami cari makan, dan setelah makan om ngajak aku nonton film. Aku ya ok aja, didalem bioskop aku memegangi tangan om terus, perhatianku gak pada filmnya tapi pada sosok pria macho yang duduk disebelah aku. "Tu orang pada ngeliatin kita, mereka kira aku om senang yang lagi gaet abg cantik", kata om ketika keluar dari bioskop. "Kamu manja amat sih". "Biarin aja", jawabku. "Mo kemana lagi nih". "Pulang yuk om". "ayuk". Kami menuju ke tempat parkir dan langsung kembali ke apartment. Segera mobil meluncur kembali ke apartment, gak lama karena apartment dekat dengan mal.

Sesampe di apartment aku segera tuker dengan pakean rumah lagi. aku kalo dirumah memang gak memakai bra. Aku hanya memakai tanktop ketat sepinggang dan celana pendek yang juga ketat. kedua pentilku tampak jelas sekali tercetak di tanktopku. Si om terpana melihat lekak liku bodiku yang memang mengundang selera lelaki yang melihatnya. "Kamu beneran mo om temenin". "Kalo om gak keberatan". "Tapi om gak bawa baju ganti". "Nanti aku ambilin celana kolor dan baju kaos ayah". Segera aku keluar apartment, membuka apartment ortu dan masuk ke kamar ortu untuk mengambil celana kolor dan kaos oblong ayah. "Kegedean kali ya om, ayah kan gendut", kataku sembari menyerahkan pakean itu ke om. "Gak apa, kan cuma buat bobo". Si om masuk ke kamarku, ketika keluar kamar hanya memakai celana kolor gombrang dan kaos yang rada kebesaran. Kelihatannya dia tidak mengenakan CD karena kon tolnya kelihatan jelas tercetak di celana gombrangnya, kayanya dah ngaceng deh. Mungkin dia napsu ngeliat bodiku. Om duduk di sofa nonton tv. Aku duduk disebelahnya. "Din kamu seksi sekali. toket kamu besar juga ya, pasti cowok kamu suka ya, suka diremes2 ya Din ma cowok kamu". "Ih om tau aja". "Iya tau lah Din, om kan juga lelaki. Lelaki mana yan gak suka ngeremes toket montok seperti toketmu itu". "Om suka ngeremes juga ya, terus om ngeremes siapa, kan gak ada tante". Om cuma tersenyum, "Kamu mau gak om remes". "Ih om genit ih". "Kamu suka nonton film bokep ya Din". "Iya om ma cowok Dina". "Dimana nontonnya?" "Dirumah cowok Dina, dia kan sering sendirian di rumahnya, ortunya sering pergi dua2nya, katanya berbisnis". Terus, diremes deh". "Iya om, abis nonton film gituan kan napsu juga". "Cuma diremes?" "he he", aku hanya tertawa. "Kamu dah sering maen ma cowok kamu ya Din". "Gak sering om, cuma ampir tiap malem minggu". "Itu mah sering", kata om sambil merangkul pundakku. Aku merinding ketika om menarikku merapat kebadannya. Dia mencium pipiku. "Om bawa film bokep, yang maen orang indonesia ma bule. mo liat?' "Mau om, biasanya aku nonton kalo gak bule, ya cina apa jepun". Si om mengambil dvd dari tas yang dibawanya tdi dan dipasangnya. Segera filmpun mulai. Ceweknya orang sini, togepasar lah, jembutnya juga lebat, sedang si bule krempeng, tapi kon tolnya gede en panjang banget. Biasalah ritual film bokep saling isep sampe akhirnya si bule naikin tu prempuan dan masuk deh. serenade ah uh dimulai.

Si om rupanya sudah dibawah pengaruh napsu berahinya. Dia menatapku dengan pandangan yang seakan2 mau menelanjangiku. Segera dia mencium bibirku, aku menyambutnya. Lidah kami saling melilit dan kemudian dijulurkan lidahnya kedalam mulutku. Segera kuemut lidahnya, kemudian ganti aku yang menjulurkan lidahku ke mulutnya. Diapun tidak menyia2kan kesempatan untuk segera memerah kedua toketku gantian. "Din, om dah lama pengen ngeremes toket kamu". Pentilku yang dah mulai mengeras dipilin2 dari luar tanktopku. "Dilepas ya Din tanktopnya", katanya seraya menarik tanktopku keatas. Dvd dimatikannya karena kami sudah tidak lagi memperhatikan perilaku ke2 anak manusia yang berlainan jenis sedang beraksi di film itu. Toketku sudah telanjang dihadapannya. Dia segera meremas2 toketku. "Baru 16 dah besar gini Din toket kamu, kenceng lagi, om mau ngasi kenikmatan sama kamu, mau kan", katanya perlahan sambil mencium toket ku yang montok. ". Aku diam saja, mataku terpejam. Dia mengendus-endus kedua toketku yang berbau harum sambil sesekali mengecupkan bibir dan menjilatkan lidahnya. pentil toket kananku dilahap ke dalam mulutnya. Badanku sedikit tersentak ketika pentil itu digencet perlahan dengan menggunakan lidah dan gigi atasnya. "Om...", rintihku, tindakannya membangkitkan napsuku juga. Aku menjadi sangat ingin merasakan kenikmatan dien tot, sehingga aku diam saja membiarkan dia menjelajahi tubuhku. Disedot-sedotnya pentil toketku secara berirama. Mula-mula lemah, lama-lama agak diperkuat sedotannya. Diperbesar daerah lahapan bibirnya. Kini pentil dan toket sekitarnya yang berwarna kecoklatan itu semua masuk ke dalam mulutnya. Kembali disedotnya daerah tersebut dari lemah-lembut menjadi agak kuat. Mimik wajahku tampak sedikit berubah, seolah menahan suatu kenikmatan. Kedua toketku yang harum itu diciumi dan disedot-sedot secara berirama. Dibenamkannya wajahnya di antara kedua belah gumpalan dada ku. Perlahan-lahan dia bergerak ke arah bawah. Digesek-gesekkan wajahnya di lekukan tubuhku yang merupakan batas antara gumpalan toket dan kulit perutku. Kiri dan kanan diciumi dan dijilatinya secara bergantian. Kecupan-kecupan bibir, jilatan-jilatan lidah, dan endusan-endusan hidungnya pun beralih ke perut dan pinggangku. Bibir dan lidahnya menyusuri perut sekeliling pusarku yang putih mulus. Wajahnya bergerak lebih ke bawah. Dengan nafsu yang menggelora dia memeluk pinggulku secara perlahan-lahan. Celana pendekku ditariknya kebawah, aku mengangkat pantatku supaya lebih mudah dia melepaskan celanaku. Kecupannya pun berpindah ke CD tipis yang membungkus pinggulku. Ditelusurinya pertemuan antara kulit perut dan CD, ke arah pangkal paha. Dijilatnya helaian-helaian rambut jembutku yang keluar dari CDku. "Din, jembut kamu lebat banget ya, pantes kamu napsunya besar". Lalu diendus dan dijilatnya CD pink itu di bagian belahan bibir no nokku. Aku makin terengah menahan napsuku, sesekali aku melenguh menahan kenikmatan yang kurasakan.

Dia melepaskan semua yang nempel dibadannya sehingga bertelanjang bulat. Aku terkejut melihat kon tolnya yang begitu besar dan panjang dalam keadaan sangat tegang. Napsuku bangkit juga melihat kon tolnya, timbul hasratku untuk merasakan bagaimana nikmatnya kalo kon tol besar itu menggesek keluar masuk no nokku.

Dia bangkit. Dengan posisi berdiri di atas lutut dikangkanginya tubuhku. kon tolnya yang tegang ditempelkan di kulit toketku. Kepala kon tol digesek-gesekkan di toketku yang montok itu. Sambil mengocok batangnya dengan tangan kanannya, kepala kon tolnya terus digesekkan di toketku, kiri dan kanan. Setelah sekitar dua menit dia melakukan hal itu. Diraih kedua belah gumpalan toketku yang montok itu. Dia berdiri di atas lutut dengan mengangkangi pinggang ramping ku dengan posisi badan sedikit membungkuk. kon tolnya dijepitnya dengan kedua gumpalan toketku. Perlahan-lahan digerakkannya maju-mundur kon tolnya di cekikan kedua toket ku. Di kala maju, kepala kon tolnya terlihat mencapai pangkal leherku yang jenjang. Di kala mundur, kepala kon tolnya tersembunyi di jepitan toketku. Lama-lama gerak maju-mundur kon tolnya bertambah cepat, dan kedua toketku ditekannya semakin keras dengan telapak tangannya agar jepitan di kon tolnya semakin kuat. Dia pun merem melek menikmati enaknya jepitan toketku. Akupun mendesah-desah tertahan, "Ah... hhh... hhh... ah..." kon tolnya pun mulai melelehkan sedikit cairan. Cairan tersebut membasahi belahan toketku. Gerakan maju-mundur kon tolnya di dadaku yang diimbangi dengan tekanan-tekanan dan remasan-remasan tangannya di kedua toketnya, menyebabkan cairan itu menjadi teroles rata di sepanjang belahan dadaku yang menjepit kon tolnya. Cairan tersebut menjadi pelumas yang memperlancar maju-mundurnya kon tolnya di dalam jepitan toketku. Dengan adanya sedikit cairan dari kon tolnya tersebut dia terlihat merasakan keenakan dan kehangatan yang luar biasa pada gesekan-gesekan batang dan kepala kon tolnya dengan toketku. "Hih... hhh... ... Luar biasa enaknya...," dia tak kuasa menahan rasa enak yang tak terperi. Nafasku menjadi tidak teratur. Desahan-desahan keluar dari bibirku , yang kadang diseling desahan lewat hidungku, "Ngh... ngh... hhh... heh... eh... ngh..." Desahan-desahanku semakin membuat nafsunya makin memuncak. Gesekan-gesekan maju-mundurnya kon tolnya di jepitan toketku semakin cepat. kon tolnya semakin tegang dan keras. "Enak sekali, Din", erangnya tak tertahankan. Dia menggerakkan kon tolnya maju-mundur di jepitan toketku dengan semakin cepat. Alis mataku bergerak naik turun seiring dengan desah-desah perlahan bibirku akibat tekanan-tekanan, remasan-remasan, dan kocokan-kocokan di toketku. Ada sekitar lima menit dia menikmati rasa keenakan luar biasa di jepitan toketku itu.
Toket sebelah kanan dilepas dari telapak tangannya. Tangan kanannya lalu membimbing kon tol dan menggesek-gesekkan kepala kon tol dengan gerakan memutar di kulit toketku yang halus mulus. Sambil jari-jari tangan kirinya terus meremas toket kiriku, kon tolnya digerakkan memutar-mutar menuju ke bawah. Ke arah perut. Dan di sekitar pusarku, kepala kon tolnya digesekkan memutar di kulit perutku yang putih mulus, sambil sesekali disodokkan perlahan di lobang pusarku. Dicopotnya CD minimku. Pinggulku yang melebar itu tidak berpenutup lagi. Kulit perutku yang semula tertutup CD tampak jelas sekali. Licin, putih, dan amat mulus. Di bawah perutku, jembutku yang hitam lebat menutupi daerah sekitar no nokku. Kedua paha mulusku direnggangkannya lebih lebar. Kini hutan lebat di bawah perutku terkuak, mempertontonkan no nokku. Dia pun mengambil posisi agar kon tolnya dapat mencapai no nokku dengan mudahnya. Dengan tangan kanan memegang kon tol, kepalanya digesek-gesekkannya ke jembutku. Kepala kon tolnya bergerak menyusuri jembut menuju ke no nokku. Digesek-gesekkan kepala kon tol ke sekeliling bibir no nokku. Terasa geli dan nikmat. Kepala kon tol digesekkan agak ke arah no nokku. Dan menusuk sedikit ke dalam. Lama-lama dinding mulut no nokku menjadi basah. Digetarkan perlahan-lahan kon tolnya sambil terus memasuki no nokku.
Kini seluruh kepala kon tolnya yang berhelm pink tebenam dalam jepitan mulut no nokku. Kembali dari mulutku keluar desisan kecil karena nikmat tak terperi. kon tolnya semakin tegang. Sementara dinding mulut no nokku terasa semakin basah. Perlahan-lahan kon tolnya ditusukkan lebih ke dalam. Kini tinggal separuh kon tol yang tersisa di luar. Secara perlahan dimasukkan kon tolnya ke dalam no nokku. Terbenam sudah seluruh kon tolnya di dalam no nokku. Sekujur kon tol sekarang dijepit oleh no nokku . Secara perlahan-lahan digerakkan keluar-masuk kon tolnya ke dalam no nokku. Sewaktu keluar, yang tersisa di dalam no nokku hanya kepalanya saja. Sewaktu masuk seluruh kon tol terbenam di dalam no nokku sampai batas pangkalnya. Dia terus memasuk-keluarkan kon tolnya ke lobang no nokku. Alis mataku terangkat naik setiap kali kon tolnya menusuk masuk no nokku secara perlahan. Bibir segarku yang sensual sedikit terbuka, sedang gigiku terkatup rapat. Dari mulut sexy ku keluar desis kenikmatan, "Sssh...sssh... hhh... hhh... ssh... sssh..." Dia terus mengocok perlahan-lahan no nokku. Enam menit sudah hal itu berlangsung. Kembali dikocoknya secara perlahan no nokku sampai selama dua menit. Kembali ditariknya kon tolnya dari no nokku. Namun tidak seluruhnya, kepala kon tol masih dibiarkannya tertanam dalam no nokku. Sementara kon tol dikocoknya dengan jari-jari tangan kanannya dengan cepat

Rasa enak itu agaknya kurasakan pula. Aku mendesah-desah akibat sentuhan-sentuhan getar kepala kon tolnya pada dinding mulut no nokku, "Sssh... sssh... zzz...ah... ah... hhh..." Tiga menit kemudian dimasukkannya lagi seluruh kon tolnya ke dalam no nokku. Dan dikocoknya perlahan. Sampai kira-kira empat menit. Lama-lama dia mempercepat gerakan keluar-masuk kon tolnya pada no nokku. Sambil tertahan-tahan, dia mendesis-desis, "Din... no nokmu luar biasa... nikmatnya..." Gerakan keluar-masuk secara cepat itu berlangsung sampai sekitar empat menit.
Tiba-tiba dicopotnya kon tol dari no nokku. Segera dia berdiri dengan lutut mengangkangi tubuhku agar kon tolnya mudah mencapai toketku. Kembali diraihnya kedua belah toket montok ku untuk menjepit kon tolnya yang berdiri dengan amat gagahnya. Agar kon tolnya dapat terjepit dengan enaknya, dia agak merundukkan badannya. kon tol dikocoknya maju-mundur di dalam jepitan toketku. Cairan no nokku yang membasahi kon tolnya kini merupakan pelumas pada gesekan-gesekan kon tolnya dan kulit toketku. "Oh...hangatnya... Sssh... nikmatnya...Tubuhmu luarrr biasa...", dia merintih-rintih keenakan. Aku juga mendesis-desis keenakan, "Sssh.. sssh... sssh..." Gigiku tertutup rapat. Alis mataku bergerak ke atas ke bawah. Dia mempercepat maju-mundurnya kon tolnya. Dia memperkuat tekanan pada toketku agar kon tolnya terjepit lebih kuat. Karena basah oleh cairan no nokku, kepala kon tolnya tampak amat mengkilat di saat melongok dari jepitan toketku. Leher kon tol yang berwarna coklat tua dan helm kon tol yang berwarna pink itu menari-nari di jepitan toketku. Semakin dipercepat kocokan kon tolnya pada toketku. Tiga menit sudah kocokan hebat kon tolnya di toket montok ku berlangsung. Dia makin cepat mengocokkan kon tol di kempitan toket indah ku. Akhirnya dia tak kuasa lagi membendung jebolnya tanggul pertahanannya. "Din..!" pekiknya dengan tidak tertahankan. Matanya membeliak-beliak. Jebollah pertahanannya. kon tolnya menyemburkan peju. Crot! Crot! Crot! Crot!
Pejunya menyemprot dengan derasnya. Sampai empat kali. Kuat sekali semprotannya, sampai menghantam rahangku. Peju tersebut berwarna putih dan kelihatan sangat kental. Dari rahang peju mengalir turun ke arah leherku. Peju yang tersisa di dalam kon tolnya pun menyusul keluar dalam tiga semprotan. Cret! Cret! Cret! Kali ini semprotannya lemah. Semprotan awal hanya sampai pangkal leherku, sedang yang terakhir hanya jatuh di atas belahan toketku. Dia menikmati akhir-akhir kenikmatan. "Luar biasa...Din, nikmat sekali tubuhmu...," dia bergumam. "Kok gak dikeluarin di dalem aja om", kataku lirih. "Gak apa kalo om ngecret didalem Din", jawabnya. "Gak apa om, biasanya cowokku juga ngecret didalem kok om. Tapi belum dien tot juga aku ngerasa nikmat sekali om", kataku lagi. "Ini baru ronde pertama Din, mau lagi kan ronde kedua", katanya. "Mau om, tapi ngecretnya didalem ya", jawabku. "Kok tadi kamu diem aja Din", katanya lagi. "Bingung om, tapi nikmat", jawabku sambil tersenyum. "Engh..." aku menggeliatkan badanku. Dia segera mengelap kon tol dengan tissue yang ada di atas meja, dan mengelap peju yang berleleran di rahang, leher, dan toketku. Ada yang tidak dapat dilap, yakni cairan peju yang sudah terlajur jatuh di rambut ku. "Mo kemana om", tanyaku. "Mo ambil minum dulu", jawabnya. Dia kembali membawa gelas berisi air putih, diberikannya kepada ku yang langsung kutenggak sampe habis. Dia kembali lagi untuk mengisi gelas dengan air. Masih tidak puas dia memandangi toket indahku yang terhampar di depan matanya. Dia memandang ke arah pinggangku yang ramping dan pinggulku yang melebar indah. Terus tatapannya jatuh ke no nokku yang dikelilingi oleh jembut hitam jang lebat. Aku ingin mengulangi permainan tadi, digeluti, didekap kuat. Mengocok no nokku dengan kon tolnya dengan irama yang menghentak-hentak kuat. Dan dia dapat menyemprotkan pejunya di dalam no nokku sambil merengkuh kuat-kuat tubuhnya saat aku nyampe. Nafsuku terbakar. Aku diajaknya kekamar. Aku berbaring diranjang dan dia disebelahku.
"Din...," desahnya penuh nafsu. Bibirnya pun menggeluti bibirku. Bibir sensualku yang menantang itu dilumat-lumat dengan ganasnya. Sementara aku pun tidak mau kalah. Bibirku pun menyerang bibirnya dengan dahsyatnya, seakan tidak mau kedahuluan oleh lumatan bibirnya. Kedua tangannyapun menyusup diantara lenganku. Tubuhku sekarang berada dalam dekapannya. Dia mempererat dekapannya, sementara aku pun mempererat pelukanku pada dirinya. Kehangatan tubuhnya terasa merembes ke badanku, toketku yang membusung terasa semakin menekan dadanya. Aku meremas-remas kulit punggungnya. Aku mencopot celananya dan merangkul punggungnya lagi. Dia kembali mendekap erat tubuhku sambil melumat kembali bibirku. Dia terus mendekap tubuhku sambil saling melumat bibir. Sementara tangan kami saling meremas-remas kulit punggung. Kehangatan menyertai tubuh bagian depan kami yang saling menempel. Kini kurasakan toketku yang montok menekan ke dadanya. Dan ketika saling sedikit bergeseran, pentilku seolah-olah menggelitiki dadanya. kon tolnya terasa hangat dan mengeras. Tangan kirinya pun turun ke arah perbatasan pinggang ramping dan pinggul besar ku, menekannya kuat-kuat dari belakang ke arah perutnya. kon tolnya tergencet diantara perut bawahku dan perut bawahnya. Sementara bibirnya bergerak ke arah leherku, diciumi, dihisap-hisap dengan hidungnya, dan dijilati dengan lidahnya. "Ah... geli... geli...," desahku sambil menengadahkan kepala, agar seluruh leher sampai daguku terbuka dengan luasnya. Aku pun membusungkan dadaku dan melenturkan pinggangku ke depan. Dengan posisi begitu, walaupun wajahnya dalam keadaan menggeluti leherku, tubuh kami dari dada hingga bawah perut tetap dapat menyatu dengan rapatnya. Tangan kanannya lalu bergerak ke dadaku yang montok, dan meremas-remas toketku dengan perasaan gemas.

Setelah puas menggeluti leherku, wajahnya turun ke arah belahan dadaku. Dia berdiri dengan agak merunduk. Tangan kirinya pun menyusul tangan kanan, yakni bergerak memegangi toket. Digeluti belahan toketku, sementara kedua tangannya meremas-remas kedua belah toketku sambil menekan-nekankannya ke arah wajahnya. Digesek-gesekkan memutar wajahnya di belahan toketku. Bibirnya bergerak ke atas bukit toket sebelah kiri. Diciuminya bukit toketku, dan dimasukkan pentil toketku ke dalam mulutnya. Kini dia menyedot-sedot pentil toket kiriku. Di ainkan pentilku di dalam mulutnya dengan lidah. Sedotan kadang diperbesar ke puncak bukit toket di sekitar pentil yang berwarna coklat. "Ah... ah... om...geli...," aku mendesis-desis sambil menggeliatkan tubuh ke kiri-kanan.
Dia memperkuat sedotannya. Sementara tangannya meremas kuat toket sebelah kanan. Kadang remasan diperkuat dn diperkecil menuju puncak, dan diakhiri dengan tekanan-tekanan kecil jari telunjuk dan ibu jarinya pada pentilku. "Om... hhh... geli... geli... enak... enak... ngilu...ngilu..." Dia semakin gemas. Toketku dimainkan secara bergantian, antara sebelah kiri dan sebelah kanan. Bukit toket kadang disedot sebesar-besarnya dengan tenaga isap sekuat-kuatnya, kadang yang disedot hanya pentilku dan dicepit dengan gigi atas dan lidah. Belahan lain kadang diremas dengan daerah tangkap sebesar-besarnya dengan remasan sekuat-kuatnya, kadang hanya dipijit-pijit dan dipelintir-pelintir kecil pentil yang mencuat gagah di puncaknya. "Ah...om... terus... hzzz...ngilu... ngilu..." aku mendesis-desis keenakan. Mataku kadang terbeliak-beliak. Geliatan tubuhku ke kanan-kiri semakin sering frekuensinya.

Sampai akhirnya aku tidak kuat melayani serangan-serangan awalnya. Jari-jari tangan kananku yang mulus dan lembut menangkap kon tolnya yang sudah berdiri dengan gagahnya. "Om.. kon tolnya besar ya", ucapku. Sambil membiarkan mulut, wajah, dan tangannya terus memainkan dan menggeluti kedua belah toketku, jari-jari lentik tangan kananku meremas-remas perlahan kon tolnya secara berirama. Dia merengkuh tubuhku dengan gemasnya. Dikecupnya kembali daerah antara telinga dan leherku. Kadang daun telinga sebelah bawahnya dikulum dalam mulutnya dan dimainkan dengan lidahnya. Kadang ciumannya berpindah ke punggung leherku yang jenjang. Dijilati pangkal helaian rambutku yang terjatuh di kulit leherku. Sementara tangannya mendekap dadaku dengan eratnya. Telapak dan jari-jari tangannya meremas-remas kedua belah toketku. Remasannya kadang sangat kuat, kadang melemah. Sambil telunjuk dan ibu jari tangan kanannya menggencet dan memelintir perlahan pentil toket kiriku, sementara tangan kirinya meremas kuat bukit toket kananku dan bibirnya menyedot kulit mulus pangkal leherku yang bebau harum, kon tolnya digesek-gesekkan dan ditekan-tekankan ke perutku. Aku pun menggelinjang ke kiri-kanan. "Ah... om... ngilu... terus om... terus... ah... geli... geli...terus... hhh... enak... enaknya... enak...," aku merintih-rintih sambil terus berusaha menggeliat ke kiri-kanan dengan berirama sejalan dengan permainan tangannya di toketku. Akibatnya pinggulku menggial ke kanan-kiri. "Din.. enak sekali Din... sssh... luar biasa... enak sekali...," diapun mendesis-desis keenakan. "Om keenakan ya? kon tol om terasa besar dan keras sekali menekan perut aku. Wow... kon tol om terasa hangat di kulit perut aku. Tangan om nakal sekali ... ngilu,...," rintihku. "Jangan mainkan hanya pentilnya saja... geli... remas seluruhnya saja..." aku semakin menggelinjang-gelinjang dalam dekapan eratnya. Aku sudah makin liar saja desahannya, aku sangat menikmati gelutannya, lupa bahwa dia ini om suamiku. "Om.. remasannya kuat sekali... Tangan om nakal sekali..Sssh... sssh... ngilu... ngilu...Ak... kon tol om ... besar sekali... kuat sekali..."

Aku menarik wajahnya mendekat ke wajahku. Bibirku melumat bibirnya dengan ganasnya. Dia pun tidak mau kalah. Dilumatnya bibirku dengan penuh nafsu yang menggelora, sementara tangannya mendekap tubuhku dengan kuatnya. Kulit punggungku yang teraih oleh telapak tangannya diremas-remas dengan gemasnya. Kemudian dia menindihi tubuhku. kon tolnya terjepit di antara pangkal pahaku dan perutnya bagian bawah. Akhirnya dia tidak sabar lagi. Bibirnya kini berpindah menciumi dagu dan leherku, sementara tangannya membimbing kon tolnya untuk mencari no nokku. Diputar-putarkan dulu kepala kon tolnya di kelebatan jembut disekitar bibir no nokku. Aku meraih kon tolnya yang sudah amat tegang. Pahaku yang mulus itu terbuka agak lebar. "Om kon tolnya besar dan keras sekali" kataku sambil mengarahkan kepala kon tolnya ke no nokku. Kepala kon tolnya menyentuh bibir no nokku yang sudah basah. Dengan perlahan-lahan dan sambil digetarkan, kon tol ditekankan masuk ke kuno nok. Kini seluruh kepala kon tolnya pun terbenam di dalam no nokku. Dia menghentikan gerak masuk kon tolnya. "Om... teruskan masuk... Sssh... enak... jangan berhenti sampai situ saja...," aku protes atas tindakannya. Namun dia tidak perduli. Dibiarkan kon tolnya hanya masuk ke no nokku hanya sebatas kepalanya saja, namun kon tolnya digetarkan dengan amplituda kecil. Sementara bibir dan hidungnya dengan ganasnya menggeluti leherku yang jenjang, lengan tanganku yang harum dan mulus, dan ketiakku yang bersih dari bulu. Aku menggelinjang-gelinjang dengan tidak karuan. "Sssh... sssh...enak... enak... geli..geli, om. Geli... Terus masuk, om.." Bibirnya mengulum kulit lengan tanganku dengan kuat-kuat. Sementara tenaga dikonsentrasikan pada pinggulnya.

Dan...satu... dua... tiga! kon tolnya ditusukkan sedalam-dalamnya ke dalam no nokku dengan sangat cepat dan kuat. Plak! Pangkal pahanya beradu dengan pangkal pahaku yang sedang dalam posisi agak membuka dengan kerasnya. Sementara kon tolnya bagaikan diplirid oleh bibir no nokku yang sudah basah dengan kuatnya sampai menimbulkan bunyi: srrrt! "Auwww!" pekikku. Dia diam sesaat, membiarkan kon tolnya tertanam seluruhnya di dalam no nokku tanpa bergerak sedikit pun. "Sakit om... " kataku sambil meremas punggungnya dengan keras. Dia pun mulai menggerakkan kon tolnya keluar-masuk no nokku. Seluruh bagian kon tolnya yang masuk no nokku dipijit-pijit dinding lobang no nokku dengan agak kuatnya. "Bagaimana Din, sakit?" tanyaku. "Sekarang sudah enggak om...ssh... enak sekali... enak sekali... kon tol om besar dan panjang sekali... sampai-sampai menyumpal penuh seluruh penjuru no nok aku..," jawabku. Dia terus memompa no nokku dengan kon tolnya perlahan-lahan. Toketku yang menempel di dadanya ikut terpilin-pilin oleh dadanya akibat gerakan memompa tadi. Kedua pentilku yang sudah mengeras seakan-akan mengkilik-kilik dadanya. kon tolnya diiremas-remas dengan berirama oleh otot-otot no nokku sejalan dengan genjotannya tersebut. Sementara setiap kali menusuk masuk kepala kon tolnya menyentuh suatu daging hangat di dalam no nokku. Sentuhan tersebut serasa geli-geli nikmat.
Dia mengangkat kedua kakiku. Sambil menjaga agar kon tolnya tidak tercabut dari no nokku, dia mengambil posisi agak jongkok. Betis kananku ditumpangkan di atas bahunya, sementara betis kiriku didekatkan ke wajahnya. Sambil terus mengocok no nokku perlahan dengan kon tolnya, betis kiriku yang amat indah itu diciumi dan dikecupi dengan gemasnya. Setelah puas dengan betis kiri, ganti betis kanannya yang diciumi dan digeluti, sementara betis kiriku ditumpangkan ke atas bahunya. Begitu hal tersebut dilakukan beberapa kali secara bergantian, sambil mempertahankan gerakan kon tolnya maju-mundur perlahan di no nok ku. Setelah puas dengan cara tersebut, dia meletakkan kedua betisku di bahunya, sementara kedua telapak tangannya meraup kedua belah toketku. Masih dengan kocokan kon tol perlahan di no nokku, tangannya meremas-remas toket montok ku. Kedua gumpalan daging kenyal itu diremas kuat-kuat secara berirama. Kadang kedua pentilku digencet dan dipelintir-pelintir secara perlahan. Pentilku semakin mengeras, dan bukit toketku semakin terasa kenyal di telapak tangannya. Aku pun merintih-rintih keenakan. Mataku merem-melek, dan alisku mengimbanginya dengan sedikit gerakan tarikan ke atas dan ke bawah. "Ah...om, geli... geli... ... Ngilu om, ngilu... Sssh... sssh... terus om, terus.... kon tol om membuat no nok aku merasa enak sekali... Nanti jangan dingecretinkan di luar no nok, ya om. Ngecret di dalam saja... " Dia mulai mempercepat gerakan masuk-keluar kon tolnya di no nokku. "Ah-ah-ah... bener, om. Bener... yang cepat...Terus om, terus... " Dia bagaikan diberi spirit oleh rintihan-rintihanku. Tenaganya menjadi berlipat ganda. Ditingkatkan kecepatan keluar-masuk kon tolnya di no nokku. Terus dan terus. Seluruh bagian kon tolnya diremas-remas dengan cepatnya oleh no nokku. Aku menjadi merem-melek. Begitu juga dirinya, dia pun merem-melek dan mendesis-desis karena merasa keenakan yang luar biasa. "Sssh... sssh... Din... enak sekali... enak sekali no nokmu... enak sekali no nokmu..." "Ya om, aku juga merasa enak sekali... terusss...terus om, terusss..." Dia meningkatkan lagi kecepatan keluar-masuk kon tolnya pada no nokku. "Om... sssh... sssh... Terus... terus... aku hampir nyampe...sedikit lagi... sama-sama ya om...," aku jadi mengoceh tanpa kendali. Dia mengayuh terus. Sementara itu no nokku berdenyut dengan hebatnya. "Om... Ah-ah-ah-ah-ah... Mau keluar om... mau keluar..ah-ah-ah-ah-ah... sekarang ke-ke-ke..." Tiba-tiba kon tolnya dijepit oleh dinding no nok ku dengan sangat kuatnya. Di dalam no nokku, kon tolnya disemprot oleh cairan yang keluar dari no nokku dengan cukup derasnya. Dan aku meremas lengan tangannya dengan sangat kuatnya. Aku pun berteriak tanpa kendali: "...keluarrr...!" Mataku membeliak-beliak. Sekejap tubuh kurasakan mengejang. Dia pun menghentikan genjotannya. kon tolnya yang tegang luar biasa dibiarkan tertanam dalam no nokku. Aku memejam beberapa saat dalam menikmati puncak. Setelah sekitar satu menit berlangsung, remasan tanganku pada lengannya perlahan-lahan mengendur. Kelopak mataku pun membuka, memandangi wajahnya. Sementara jepitan dinding no nokku pada kon tolnya berangsur-angsur melemah, walaupun kon tolnya masih tegang dan keras. Kedua kakiku lalu diletakkan kembali di atas ranjang dengan posisi agak membuka. Dia kembali menindih tubuh telanjangku dengan mempertahankan agar kon tolnya yang tertanam di dalam no nokku tidak tercabut.

"Om... luar biasa... rasanya seperti ke langit ke tujuh," kataku dengan mimik wajah penuh kepuasan. kon tolnya masih tegang di dalam no nokku. kon tolnya masih besar dan keras. Dia kembali mendekap tubuhku. kon tolnya mulai bergerak keluar-masuk lagi di no nokku, namun masih dengan gerakan perlahan. Dinding no nokku secara berangsur-angsur terasa mulai meremas-remas kon tolnya. Namun sekarang gerakan kon tolnya lebih lancar dibandingkan dengan tadi. Pasti karena adanya cairan yang disemprotkan oleh no nokku beberapa saat yang lalu. "Ahhh...om... langsung mulai lagi... Sekarang giliran om.. semprotkan peju om di no nok aku.. Sssh...," aku mulai mendesis-desis lagi. Bibirnya mulai memagut bibirku dan melumat-lumatnya dengan gemasnya. Sementara tangan kirinya ikut menyangga berat badannya, tangan kanannya meremas-remas toket ku serta memijit-mijit pentilnya, sesuai dengan irama gerak maju-mundur kon tolnya di no nokku. "Sssh... sssh... sssh... enak om, enak... Terus...teruss... terusss...," desisku. Sambil kembali melumat bibirku dengan kuatnya, dia mempercepat genjotan kon tolnya di no nokku. Pengaruh adanya cairan di dalam no nokku, keluar-masuknya kon tol pun diiringi oleh suara, "srrt-srret srrrt-srrret srrt-srret..." Aku tidak henti-hentinya merintih kenikmatan, "Om... ah... " kon tolnya semakin tegang. Dilepaskannya tangan kanannya dari toketku. Kedua tangannya kini dari ketiak ku menyusup ke bawah dan memeluk punggungku. Akupun memeluk punggungnya dan mengusap-usapnya. Dia pun memulai serangan dahsyatnya. Keluar-masuknya kon tolnya ke dalam no nok ku sekarang berlangsung dengan cepat dan bertenaga. Setiap kali masuk, kon tol dihunjamkan keras-keras agar menusuk no nokku sedalam-dalamnya. kon tolnya bagai diremas dan dihentakkan kuat-kuat oleh dinding no nokku. Sampai di langkah terdalam, aku membeliak sambil mengeluarkan seruan tertahan, "Ak!" Sementara daging pangkal pahanya bagaikan menampar daging pangkal pahaku sampai berbunyi: plak! Di saat bergerak keluar no nokku, kon tolnya dijaga agar kepalanya tetap tertanam di no nokku. Remasan dinding no nokku pada kon tolnya pada gerak keluar ini sedikit lebih lemah dibanding dengan gerak masuknya. Bibir no nokku yang mengulum kon tolnya pun sedikit ikut tertarik keluar. Pada gerak keluar ini akumendesah, "Hhh..." Dia terus menggenjot no nokku dengan gerakan cepat dan menghentak-hentak. Aku meremas punggungnya kuat-kuat di saat kon tol dihunjam masuk sejauh-jauhnya ke no nokku. Beradunya daging pangkal paha menimbulkan suara: Plak! Plak! Plak! Plak! Pergeseran antara kon tolnya dan no nokku menimbulkan bunyi srottt-srrrt... srottt-srrrt... srottt-srrrt... Kedua nada tersebut diperdahsyat oleh pekikan-pekikan kecilku: "Ak! Hhh... Ak! Hhh... Ak! Hhh..." "Din... Enak sekali Din... no nokmu enak sekali... no nokmu hangat sekali... jepitan no nokmu enak sekali..." "Om... terus om...," rintihku, "enak om... enaaak... Ak! Hhh..." Diapun mengocokkan kon tolnya ke no nokku dengan semakin cepat dan kerasnya. Setiap masuk ke dalam, kon tolnya berusaha menusuk lebih dalam lagi dan lebih cepat lagi dibandingkan langkah masuk sebelumnya. "Din... aku... aku..." Karena menahan rasa nikmat yang luar biasa dia tidak mampu menyelesaikan ucapannya yang memang sudah terbata-bata itu. "Om, aku... mau nyampe lagi... Ak-ak-ak... aku nyam..." Tiba-tiba kon tolnya mengejang dan berdenyut dengan amat dahsyatnya. Dia tidak mampu lagi menahan lebih lama lagi. Namun pada saat itu juga tiba-tiba dinding no nok ku mencekik kuat sekali. Dengan cekikan yang kuat dan enak sekali itu, dia tidak mampu lagi menahan jebolnya bendungan pejunya. Pruttt! Pruttt! Pruttt! Kepala kon tolnya disemprot cairan no nokku, bersamaan dengan pekikanku, "...nyampee...!" Tubuhku mengejang dengan mata membeliak-beliak. "Din...!" dia melenguh keras-keras sambil merengkuh tubuhku sekuat-kuatnya. Wajahnya dibenamkan kuat-kuat di leherku yang jenjang. Pejunya pun tak terbendung lagi. Crottt! Crottt! Crottt! Pejunya menyembur dengan derasnya, menyemprot dinding no nokku yang terdalam. kon tolnya yang terbenam semua di dalam no nokku terasa berdenyut-denyut.

Beberapa saat lamanya kami terdiam dalam keadaan berpelukan erat sekali. Dia menghabiskan sisa-sisa peju dalam kon tolnya. Cret! Cret! Cret! kon tolnya menyemprotkan lagi peju yang masih tersisa ke dalam no nokku. Kali ini semprotannya lebih lemah. Perlahan-lahan baik tubuhku maupun tubuhnya tidak mengejang lagi. Dia menciumi leher mulusku dengan lembutnya, sementara aku mengusap-usap punggungnya dan mengelus-elus rambutnya. Aku merasa puas sekali dien tot om. Ini baru awal permainan, karena si om akan nemani aku sampe besok sore, bayangkan berapa besarnya kenikmatan yang akan aku peroleh dari kon tol si om.

0 comments:

Poskan Komentar

 

©2009 Cerita Sex | by TNB